
Setelah mendengar penjelasan dari pak Jo, Radithya duduk terkulai lemas. Ia benar-benar tidak menyangka bisa berbuat diluar batas seperti itu. Dengan melirik Davina yang masih tertunduk, entah apa yang difikirkannya saat itu, yang jelas Davina sangat kelaparan sekali karena jam makan sarapannya sudah lewat hampir dua jam gara-gara ngebahas topik yang memalukan itu.
"Maafkan saya!" akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Radithya sambil menatap Davina yang masih tertunduk.
"Aku benar-benar tidak sadar waktu itu, yaaa.... mungkin ada sebagian yang aku ingat saat kejadian itu, tapi entah kenapa perasaanku waktu itu hanya ingin melakukan euuhm......." tiba-tiba Radithya menghentikan kalimatnya, ia malu mengakuinya kalau saat itu ia sangat ingin melampiaskan hasratnya kepada Davina.
"Aaaaah.... benar-benar memalukan, kenapa aku bisa sampai gak sadar gitu si!" batin Radithya dalam hati. Ia sungguh menyesal telah berbuat sehina dan sebodoh itu, dan ketika ia melihat Davina yang dari tadi hanya tertunduk saja seolah sedang menyesali kenyataan yang menimpanya, bertambahlah rasa bersalahnya pada asisten pribadinya itu.
kriuuukkk...kyuk...kyuk...kyuk...
Terdengar suara perut keroncongan yang cukup jelas terfengar disela keheningan mereka. Pak Jo dan Radithya saling pandang, dan sontak secara bersamaan mereka menoleh kearah Davina yang masih diam sambil memegangi perutnya.
"Kamu lapar?" kompak mereka bertanya.
Davina yang sedari tadi tertunduk hanya bisa tersenyum, lalu ia menoleh kearah makanan yang terhidang di meja.
"Iya sih.. bapak, bapak sudah pada sarapan kan?" katanya malu-malu.
__ADS_1
"Oiya kami sudah, ayo kamu makanlah dulu!" kata pak Jo inisiatif menyuruh Davina makan makanan yang dari tadi telah disediakan.
Tanpa ragu dan malu-malu lagi, Davina langsung melahap jatah sarapan paginya yang waktunya sudah tidak tepat lagi untuk disebut sarapan pagi. Semua makanan yang terhidang disana telah habis dan berpindah tempat ke perutnya.
Radithya dan Pak Jo hanya bisa tercengang melihat begitu lahapnya Davina, tidak nampak sedikitpun perasaan sedih, muram, galau, apalagi sampai tidak ***** makan, justru ini kebalikannya, sangat rakus.
Tadinya mereka membayangkan Davina akan menjadi gadis pendiam dan muram, ***** makannya akan berkurang serta lebih parahnya lagi dia akan marah dan melaporkan Radithya ke polisi.
Ada sedikit lega dihati Radithya, yang awalnya telah membayang yang jelek-jelek kedepannya, ia berfikir bagaimana kalau sampai Davina marah, sakit hati dan terus sampai melaporkannya ke polisi. Bisa rusak reputasi dan kariernya. "Ahhhh..... tidaaaak, jangan tangkap saya!"
Pak Jo dan Davina hanya bisa tertawa dalam hati ketika melihat ekspresi ketakutannya si bos. "Pemandangan yang sangat langka, ahhay... boleh juga nih aku jadiin senjata hehehe..., sekali-kali bolehlah.....bolehlah.....bolehlah....." fikir mereka kompak.
----------- tunda dulu sesi ini ok !!------------
Saat itu suasana diruangan meeting sangat tidak kondusif, sebagian ada yang sibuk sendiri dengan pekerjaannya, ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang berghibah ria dan ada juga yang sedang asyik menonton video pemersatu bangsa yang sangat viral saat itu, terutama di kalangan para kaum adam. Video syur nya si eta, si itu dan si ieu yang belum sempat dihapus oleh pihak yang berwenang.
Dari sekian banyak ragam aktifitas yang ada di ruang meeting itu, hanya ada satu orang yang terlihat tidak semangat. Dia adalah Claudia.
__ADS_1
Ia sengaja duduk menyendiri di sisi jendela yang mengarah ke padang rumput yang hijau dan asri, selintas orang-orang beranggapan ia sedang menikmati pemandangan indah yang ada dihadapannya itu, namun kenyataannya salah. Perasaannya malahan dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran. Matanya memandang kedepan, namun hatinya menerawang jauh entah kemana.
"Apa yang sebenarnya terjadi ya?, kenapa sampai sekarang Radith dan asistennya itu belum juga datang?, apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada mereka akibat ramuan yang diberikan kemarin?, terus mereka jadi ketagihan, lagi... dan lagi mereka melakukannya, dan akhirnya mereka tidur kesiangan daaaan.....aaahhhhh sial!... kenapa jadi si asisten kampung itu yang mendapatkannya sih?" teriak Claudia dalam hati
Tangannya ia kepalkan menandakan ia sangat marah karena telah gagal untuk mendapatkan Radithya seutuhnya.
"Selamat pagi Bapak Ibu sekalian, baru saja saya mendapatkan info dari asistennya bapak Radith, bahwa beliau untuk meeting hari ini tidak bisa hadir dan memimpin rapat, dikarenakan ada satu hal yang harus diselesaikan. Jadi untuk pertemuan kali ini, di tunda sampai besok!" kata salah satu karyawan yang ada disana.
Berbagai ekspresi terlihat disana, ada yang merasa senang karena rencananya jika selesai meeting akan langsung shoping, ada yang kesal dan marah-marah karena telah buang-buang waktu saja telah menunggu lama, dan ada juga yang------ nampak biasa-biasa saja dan bahkan tambah asyik menonton video yang lebih hot dan plus-plus lagi.
Terlihat wajah Claudia sudah seperti kain pel bekas pakai, sangat lusuh. Fikiran aneh-aneh nya terus membayang di benaknya. Ingin rasanya ia berlari menuju kamar Radithya dan mengganggu acara asyik-asyikkan nya ia bersama si asisten kampung itu.
"Ahhhhh si*al..!!! kenapa harus dia sih yang mendapatkan tubuhmu, harusnya aku yang bisa menyentuhmu! Dasar asisten si*alaaaaann!!!!..." teriak Claudia tak tahan lagi.
bersambung
like sama komen atuh ihh plisssss.... jangan cuma dibaca doang... biar si aku nya tambah cemangat lagi nulisnyaaa...🙏🏻🙏🏻🙏🏻😘
__ADS_1