Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Hareudang... hareudang... hareudang... panyas..panyas..panyaaaas...


__ADS_3

Davina semakin risi melihat tingkah si Selamet yang memperlakukannya seolah ia memang kekasihnya. Karena merasa sudah tak kuat lagi menahan kesal dan malunya, akhirnya Davina minta izin untuk pulang duluan.


"Pak, saya izin pulang duluan ya?, kan sekarang bapak sudah berada di tempat yang ahlinya. Jadi saya rasa bapak sudah tidak memerlukan saya lagi untuk menemani, lagipula masih ada Pak Jo yang bisa menemani bapak, boleh ya pak!" kata Davina dengan nada memohon.


Radithya diam, ia melirik ke arah pak Jo yang langsung memberi isyarat 'terserah' lalu ia melirik Selamet yang masih sibuk dengan pasen-pasen nya.


"Ya sudah, kamu boleh pulang duluan!" katanya. Namun tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar diiringi hujan deras. Semua pengunjung yang berada diluar langsung berhamburan mencari tempat aman, termasuk Davina yang baru saja hendak keluar dari pintu gerbang. Ia dengan terpaksa mengurungkan niatnya untuk pulang duluan.


Pakaian nya sedikit basah karena hujannya begitu tiba-tiba sehingga ia tidak sempat berteduh.


"Kok baju kamu basah, Beb? memangnya dari mana kamu say?" tanya Selamet yang tiba-tiba menghampiri Davina yang telah duduk kembali di dekat pak Jo. Davina menoleh selintas tanpa berniat menjawab pertanyaan si Selamet yang over lebay dan membuat telinga Davina terasa gatal.


Melihat gelagat Davina yang jutek setiap kali di dekati Selamet, Radithya akhirnya mengerti dan mencoba mengalihkan suasana dengan meminta minum kepada Selamet.


"Met, saya bisa minta minum gak sih disini?, masa ada tamu jauh-jauh gak di suguhi apapun.. yaaa minimal air kek!" kata Radithya yang spontan dijawab Selamet dengan gestur mencibirkan bibirnya.


"Ini bukan dirumah bos, kalau kamu haus yaa.. beli sana!, memangnya saya harus bela-belain bawain kamu minum, terus nanya: Tuan mau minum apa?, nanti saya bawakan air keras, mau?" kata Selamet menyebalkan.


"Oh jadi kamu menganggap kami sama dengan mereka?" sambil menunjuk ke arah para pasen lainnya.

__ADS_1


"Ya iyalah, kamu kalau mau berobat disini yaaa... harus ikut peraturan disini!, daftar dulu terus menunggu panggilan, gampang kan?, memangnya kamu itu tamu terhormat apa?, terus harus aku istimewakan? gitu?" kata Selamet bikin emosi.


Kalau saja Radithya tidak memerlukan pertolongannya, pasti ia sudah lawan dari tadi. Karena lama-lama si Selamet makin menyebalkan saja tingkahnya, dari pertama datang ia seolah sibuk dengan pasen-pasennya, Radithya bertanya pun si Selamet pura-pura tidak dengar, padahal jelas-jelas ia berada didepan Radithya dan sangat aneh jika sampai tidak mendengar suara panggilan.


Pak Jo yang mendengarkan dari tadipun ikut geram, andai saja si Selamet bukan orang yang bisa ngobatin bos nya, mungkin tanda lima jari sudah mendarat di pipi si Selamet saking kesalnya.


Kali ini Radithya harus bisa menahan emosinya, karena bagaimanapun juga ia sangat membutuhkan Selamet. Sambil menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan, Radithya berkata: " Baiklah aku daftar dulu sekarang!, Vin! kamu daftarkan aku sekarang, sekalian minta nomer antriannya!" kata Radithya kepada Davina yang dari tadi diam saja.


"Heeeeeiiii...., kenapa tidak kamu saja yang kesana, atau suruh temanmu itu mintain nomer antri!, kenapa harus bebeb aku yang kamu suruh sih!" katanya sambil melirik kearah Davina dengan melempar senyum berbentuk cinta yang sontak membuat Davina mendelik kesal. Lalu ia segera berdiri hendak menuju ke loket pendaftaran.


"Beb... kok kamu mau-maunya sih disuruh-suruh!," kata Selamet seraya berdiri mendekati Davina. Davina sama sekali tidak menggubrisnya. Ia langsung menuju loket pendaftaran.


"Pendaftaran ditutup, dan bagi yang sudah terlanjur daftar dan mendapat nomer antrian, agar besok bisa kemari lagi tanpa daftar lagi!, maaf yaa... !" katanya sambil mendekat kearah Davina yang terlihat kaget, begitu pula dengan petugas pendaftaran yang sontak ia melirik jam tangannya. "Kenapa sudah di tutup ya?, padahal ini kan baru jam dua!" gumam petugas heran.


Semua pengunjung yang ada di ruangan itu pun merasa heran, dan kompak mata mereka melirik ke jam dinding yang berada di dinding tentunya.


"Pak, ini masih jam 2 lho!, kok sudah di tutup sih!. Memangnya bapak mau kemana?" kata salah satu karyawan yang bertugas menulis data calon pasen.


"Aku lagi ada urusan yang sangat mendesak, jadi praktek hari ini di tutup sampai jam segini. Tidak boleh ada yang protes okey!" kata Selamet sok iyey... yang spontan terdengar kalimat dari para pengunjung yang kecewa berat, karena mereka sudah cape-cape mengantri dan menunggu panggilan, dan si Selamet main tutup dan bubarin saja. "Huuuuuuhh, gak profesional!.. dasar payah!" kata salah satu pengunjung dengan suara keras.

__ADS_1


Tiba-tiba terlihat seorang laki-laki tua yang terlihat karismatik datang melerai keributan.


"Ada apa ini ribut-ribut? saya denger praktek tutup- praktek tutup gitu, memangnya ada apa?, Met coba jelaskan!" kata lelaki itu tegas sambil menatap lekat Selamet.


Eeeum... itu pah.... eum... hari ini Selamet izin keluar.. jadi praktek di tutup dulu, boleh yaaah?" kata Selamet cengar-cengir sok manja sambil garuk-garuk kepala walau gak gatal.


"Keluar kemana kamu!, ada-ada saja!. Tidak lihat apa pasen sedang banyak-banyaknya!, maen bubarin saja! ayo lanjutkan lagi!" kata lelaki tua itu yang ternyata dia adalah bapak nya Selamet, Pak Ba.


"Terimakasih pak!" kata Davina sambil tersenyum manis. Pak Ba menatap lekat Davina, sambil tersenyum ia berkata:


"Kamu yang namanya Davina kan?, teman sekolahnya Memet dulu?" (Memet panggilan sayangnya Selamet) tanya Pak Ba sambil tersenyum ramah.


"Iya saya Davina, bapak masih kenal sama saya?, waaah.. bapak keren masih bisa mengingat saya padahal itu udah lama banget lho kita tidak bertemu lagi!, waktu itu usia saya kalau tidak salah 16 tahun yah, wooow....! keren.. keren.. bapak!" kata Davina yang langsung disambut dengan tertawa pak Jo memperlihatkan deretan giginya yang masih bagus.


"Ngomong-ngomong kamu ada perlu apa datang kesini?" tanya pak Ba heran.


"Saya mau memeriksakan bos saya pak, ia terkena penyakit aneh bin ajaib!. Pokoknya jalan ceritanya panjang dan lebar deh pak, bapak ada waktu?" setengah berbisik Davina berkata, sambil sedikit menggeserkan tubuhnya lebih mendekat lagi ke samping pak Ba. Spontan si Selamet kepanasan.


*Hareudang... hareudang... hareudang... panyas..panyas..panyaaaas...!!! syelalu...syelalu...syelalu.. panyas dan hareudaaaang....😅😅😅

__ADS_1


bersambung*


__ADS_2