
"Pak, saya harus bawa kemana barang-barang ini? Perlukah aku perlihatkan terlebih dahulu kepada Tuan Radith?" Kata Davina sambil mengamati satu persatu barang belanjaan yang berserakan di lantai. Ia belum yakin kalau barang-barang yang ada dihadapannya adalah miliknya yang harus ia pakai. Seumur hidup baru kali ini ia bisa berbelanja baju sebanyak itu.
"Tunggu sebentar, nona. Saya akan beritahukan ini terlebih dahulu kepada Tuan Radith". Sambil berlalu mendekati pelayan yang kebetulan melintas didepannya. Ia meminta pelayan itu membantunya membawa semua barang-barang itu ke ruangan paviliun khusus tamu yang di undang Radithya.
Tak berselang lama, seluruh barang telah berpindah tempat ke ruangan paviliun. Davina sampai pusing sendiri melihat satu persatu benda yang ada dihadapannya, sampai ia benar-benar lupa barang apa saja yang ia beli tadi.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekati Davina. "Gimana, tidak ada yang terlewat kan?" Nada suara yang sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga Davina yang masih mematung.
Davina sedikit tersentak kaget, kemudian ia menoleh dan mencoba mengulas senyum, namun terlihat Radith tak meresponnya. Ia hanya memandang dingin tanpa ekspresi, seperti biasa.
"Iya, semua sudah siap. Silahkan Tuan mengeceknya!" Kata Davina sedikit menegakkan kepala melihat pria yang ada dihadapannya, namun tak berselang lama ia tundukkan lagi kepalanya tanpa berani menatapnya lebih lama.
"Bagus!" Sambil berlalu tanpa menoleh sedikitpun kearah barang-barang yang berserakan dilantai. " Oh iya, mulai sekarang dan seterusnya kamu panggil saya Bapak saja, itu lebih enak didengar, kamu mengerti?" Kata Radith tegas tanpa menoleh. Davina hanya mengangguk pelan.
"Heh! Kamu tuli yah? Saya gak suka mengulang kata-kataku! Dan saya butuh jawaban pasti!, bukan cuma anggukkan!" Radith membalikkan tubuhnya dan mendekat kearah Davina yang kaget mendengar nada suara Radith yang keras.
"Eh..i.. iya saya mengerti, saya siap, Tu.... eh... Pak!" Kata Davina gugup, fikirannya buyar yang sedari tadi tengah melayang kemana-mana.
__ADS_1
" Otak mu lamban sekali sih, bagaimana bisa kamu menjadi asistenku kalau cara kerja otakmu seperti kura-kura begitu. Dengar yah, mulai sekarang kamu harus terbiasa serba cepat, dari mulai berjalan, bekerja dengan cepat dan benar sampai cara mengambil keputusan pun kamu harus cepat dan tepat!", sesaat Radithya diam sambil mengawasi mimik muka Davina yang masih diam.
"Dan ingat!, saya tidak suka melihat kesalahan sekecil apapun itu!. Jadi kamu harus berhati-hati sebelum melangkah, berucap dan memutuskan sesuatu. Camkan itu baik-baik!" Kata Radith tegas sambil menatap lekat Davina.
"Ya Allah, belum apa-apa bulu kudukku udah merinding begini, udah tahu aku gak bisa apa-apa, eeehh... kenapa dia harus milih aku sih buat jadi asistennya? sebenarnya yang bodoh itu aku atau dia sih? Kalau orang pintar biasanya kan pasti akan nyari asisten yang profesional, ini kenapa dia malah milih aku? Huh... pasti ada udang dibalik gorengan ini mah... yakin dah..."
batin Davina dalam hati. Pasrah bercampur kesal.
Nampak Radith berlalu pergi, namun sejenak ia hentikan langkahnya, tanpa menoleh ia pun berkata:
" Dan ingat!, Kamu jangan terlalu banyak menggerutu dalam hati, karena itu akan membuat otakmu tambah beku dan tubuhmu menjadi kurus kering. Kalau gak percaya, kamu coba aja sendiri!?" Sambil berlalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Davina yang tambah bengong.
"Apa! Kok dia bisa tahu si? jangan-jangan dia juga bisa denger bisikan hati orang lain juga apa yah? Dia itu orang apa bukan sih ? Iiihhh.... kok jadi serem begini yah"
Batin Davina semakin tak menentu, fikirannya melayang kemana-mana. Sambil mengusap tengkuknya yang sedikit merinding.
Radithya berlalu meninggalkan Davina dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya.
__ADS_1
---------0000---------
Malam semakin larut, tapi sedikitpun mata Davina belum ada tanda-tanda mengantuk tiba. Fikirannya melayang jauh, ia sudah bisa membayangkan akan seperti apakah hari-harinya nanti.
Perlahan ia turun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri meja yang berada tepat didepan jendela kamarnya. Penasaran lalu ia meraih sebuah map yang berisi surat perjanjian kerja yang telah ia tandatangani.
"Kenapa aku bisa seceroboh begini sih, main tandatangan saja tanpa membaca isi perjanjiannya dàhulu. Huh.... bagaimana kalau isinya ada yang tidak sesuai dengan hati, kan aku bisa.protes dulu kemarin. Aaaahhhh... bodoh...bodoh... bodoh kamu Davinaaaa"
teriak Davina sambil sedikit memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangannya.
Lembar demi lembar ia buka, kertas yang bertuliskan sederet pasal dan peraturan mutlak selama menjadi asisten pribadi. Sampai pada satu tulisan yang tertera jumlah nominal upah yang akan diterima sebagai gajinya dengan nilai fantastis... "Limabelas juta Rupiah perbulan".
Sontak mata Davina membulat lebar, mulutnya melongo spontan, sambil mengucek-ngucek kedua matanya dengan tatapan nyaris tak berkedip saking syoknya melihat jumlah nominal uang yang akan diterimanya nanti sebagai gajinya selama menjadi aspri Tuan Radithya.
Tangannya gemetar meraba dadanya yang bergemuruh kencang, antara percaya dan tidak percaya. Sontak fikirannya langsung membayangkan jika ia memang benar bisa mempunyai gaji sefantastis itu, pastinya ia dan keluarganya tidak akan hidup kekurangan lagi, Ia bisa memberikan pengobatan terbaik untuk adiknya, dan iapun bisa memberikan kebahagiaan bagi ibu dan adiknya dengan gaji sebesar itu.
bersambung
__ADS_1
---) komen like nya ditunggu yah kak, terimakasih🙏🙏😘