Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Mas kawin


__ADS_3

Flashback on


Fachri nampak melajukan mobilnya kesebuah perkampungan yang nampak masih belum terjamah oleh hiruk pikuk nya zaman modern. Pepohonan masih berjejer rapi sepanjang jalan yang masih beraspal tanah merah dan bebatuan, udara nya masih sejuk alami belum terkontaminasi berbagai polusi yang berbahaya.


Kedua netranya melihat kanan kiri mencari alamat yang tertera dalam sebuah kertas yang ia genggam.


"Dimana sih rumahnya, kok bentuk rumahnya sama semua?". Kemudian ia menghentikan laju mobilnya disebuah warung sederhana pinggir jalan.


"Maaf pak, saya mau nanya! Kalau rumahnya mbah hugel dimana ya?, ini alamat rumahnya!" katanya sambil menyodorkan kertas yang dari tadi ia pegang.


Pemilik warung itu menerima kertas yang disodorkan Fachri, kemudian melihatnya dan tak lama ia kembalikan lagi kertasnya. "Ni den, saya tidak bisa baca! gak ngerti!, tapi apa tadi kamu bilang!, mbah Hugel?. ooooh kalau itu mah semua orang juga sudah pada tahu, dia itu penanyaan sakti lho den!, anak saya juga dulu sudah besar belum kawin-kawin juga, eh... datang ke dia gak lama langsung saja ada yang ngajak nikah!. Sakti banget kan den?" katanya panjang lebar.


"Oh kalau begitu, dimana rumahnya pak?" kata Fachri penasaran.


"Tuuuuh, dari sini juga kelihatan. Yang ada pohon beringinnya, di tengah makam-makam itu lho, Den!" katanya sambil menujuk ke arah rumah semi permanen yang berada di tengah makam. Mata Fachri mengikuti telunjuk bapak yang mengarah kesana.


"Kok agak serem yaa, tapi tak apalah saya coba mumpung masih siang ini!" katanya sambil berlalu, tak lupa mengucap terimakasih kepada bapak pemilik warung itu.


Sesampainya didepan pintu pagar, Fachri celingak-celinguk mencari orang siapa saja yang bisa ditanyai nya. Karena nampak rumah itu sepi seperti tak berpenghuni.

__ADS_1


"Permisi!.. Pak!...bu!...permisi!" katanya memanggil. Sudah berkali-kali Fachri memanggil penghuni rumah namun belum juga ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu diluar, dan waktu sudah semakin senja.


"Aaahhhhh... pada kemana nih orang!, masa iya jam segini sudah pada tidur?" katanya dalam hati. Tiba-tiba sebuah tepukan ringan mengagetkannya. "Kamu siapa?" tanyanya dengan tatapan ramah.


"Oooh ini pak, saya mau ke mbah Hugel. Saya panggil-panggil dari tadi kok gak nyahut-nyahut, apa lagi pada pergi ya?" kata Fachri.


Lelaki tua itu tersenyum sambil membuka pintu pagar. "Pasti kamu orang kota dan baru datang kesini ya?, ayo masuk dulu!" tanya lelaki itu sambil mengajak Fachri masuk kedalam.


"Saya sendiri orang yang kamu cari itu, dan biasanya tiap hari selasa dan kamis itu saya tidak ada di rumah, yaaa... seperti sekarang ini!. Berangkat subuh pulang petang!" Tapi tak apalah, terlanjur kamu datang kesini, memangnya ada perlu apa?" katanya sambil menggelar tikar pandan untuk dipakai mereka duduk.


"Maaf belum ada air minum, maklum saya sekarang hidup sendiri. Istri saya sudah meninggal lima bulan yang lalu!" katanya raut mukanya mendadak sedih. Namun itu hanya sesaat, dan ia langsung bertanya lagi kepada Fachri.


"Kamu ada perlu apa?" katanya.


"Ini mbah, kan saya tuh punya saingan bisnis di perusahaan saya. Karena dia itu sangat licik dan hendak membuat perusahaan saya hancur, makanya saya kesini ingin minta solusi sama mbah.. heee!" kata Fachri mengawali permohonannya dengan membuat fitnah. Terlihat si mbah manggut-manggut tanpa komentar.


"Dan saya ingin dia hancur karier dan nama baiknya, yaaa... istilahnya saya bisa menghancurkannya dengan cara halus gitu lho mbah, biar orang tidak tahu kalau yang membuat dia hancur itu adalah saya. Dan semua orang tidak curiga sama saya, mbah ngerti kan maksud saya?" tanya Fachri panjang lebar yang dijawab si mbah dengan anggukkan.


"Terus rencananya gimana" tanya si mbah singkat.

__ADS_1


"Selama ini karier dan nama baik dia sangat bagus mbah, dan karena ada satu hal yang membuat saya sangat sakit hati sama dia, saya ingin nama baik serta karier usahanya hancur secara pelan-pelan.!" sesaat Fachri menghentikan kalimatnya, sebenarnya ia sangat kehausan yang membuat tenggorokannya sedikit seret, lalu ia kembali melanjutkan bicaranya, karena tidak ada air sama sekali disana yang bisa ia minum.


"Ia ingin hancur lewat perempuan mbah!" katanya memperjelas rencananya. Membuat si mbah manggut-manggut kembali.


"Yes, I'm understand!" katanya banyak gaya sambil memantik cigarete nya lalu ia menghisapnya penuh perasaan.


"Saya ada satu cara ampuh, hanya saja mas kawin nya mahal!" kata si mbah sambil melirik kearah Fachri yang dari tadi serius memperhatikannya.


"Mas kaaawiin?, kok pake ada acara mas kawin- mas kawinan segala sih, emang siapa yang mau nikah? mbah ngerti gak sih maksud saya?" kata Fachri sedikit sewot. Yang dibalas lemparan pemantik kearah Fachri. Fachri terlihat sangat bingung.


"hahaha... kamu polos sekali nak!, hahaha.." katanya diiringi tertawa terbahak-bahak memperlihatkan gigi nya yang ompong di tengah. Fix menambah lucu sekaligus nyebelin bagi yang memandangnya.


"Kamu hanya tinggal menyediakan kambing warna hitam, ayam jantan betina satu pasang warna hitam dan putih, cigarete tembakau asli tanpa campuran, kopi hitam sama gulanya, baju komprang hitam ukuran double xxl sama euuuu.... satu lagi.. kuota 50 giga... hehehe....!!" kembali ia pamer giginya yang ompong membuat Fachri ilfill melihatnya.


"Hah... komplit amat mas kawinnya, ini mah ngerampok namanya!" gerutu Fachri kesal. Namun ia tetap memasang muka ramahnya biar urusan nya cepat selesai.


"Komplit amat mbah syarat-syarat nya, segala pake ada baju komprang hitam sama kuota segala!" kata Fachre heran dengan nada meledek.


"Oooh kalau untuk yang dua syarat itu mah bukan salah satu syarat dari mas kawin, tapii... yaaa... anggap saja sebagai hadiah kamu buat mbah... hehehe...." lagi-lagi ia terkekeh dengan bangganya memperlihatkan giginya yang masih tetap sama... ompong ...hehe..

__ADS_1


bersambung


like dan komennya yaaa.... ditunggu..🙏🏻🙏🏻🙏🏻😘


__ADS_2