
Davina duduk di depan jendela yang menghadap ke sebuah taman bunga, nampak ia sedang melamun. Fikirannya terus melayang membayangkan jika ia telah menjadi seorang istri pengusaha muda yang bernama Radithya Mahawira Aryaguna, sambil menghela nafas seolah ia belum mempercayainya kenyataan yang akan terjadi itu.
Ia masih ragu apakah keputusannya itu tepat atau tidak, karena ia merasa diantara mereka tidak ada rasa saling mencintai. Melihat sikapnya si bos selama ini terhadap dirinya, sangat jauh untuk bisa di bilang 'CINTA!" kepadanya.
Begitupun dengannya, tak ada rasa cinta sedikitpun kepada bos nya itu selain perasaan segan dan hormat saja sebagai karyawan ke atasannya. Lalu apakah sebuah pernikahan tanpa dilandasi cinta itu akan bisa berjalan dengan baik?!. Itu yang sekarang ini ada di fikiran Davina.
Tuuut... tuuut... tut...
Ponselnya bergetar beberapa kali, tertera nama 'BOS' di layar ponselnya.
"Iya pak, ada apa?" katanya pelan. Entah kenapa semenjak pertemuan tadi di pinggir laut itu Davina kini selalu merasa canggung bila berdekatan atau berbicara dengan bos nya itu.
"Sebentar lagi akan ada yang datang kekamarmu, kamu terima dan pakailah!, setengah jam lagi saya tunggu di bawah!" katanya sambil menutup telponnya tanpa pamit seperti biasa.
"Tuuuuh kaaaan!!, katanya sudah mau jadi suami istri, tapi sikapnya masiiih saja seperti yang tidak akan terjadi apa-apa. Gak ada mesra-mesranya sama sekali.. ahhh... ya memang sudah menjadi nasib aku kali harus menikah dengan lelaki yang tidak pernah mencintai aku.. huu..uh..!!" gerutu Davina sambil memoncongkan bibirnya kesal.
tok...tok..tok..
Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Davin langsung menghampiri dan membukanya.
"Nona, saya membawakan gaun ini untuk dipakai nanti malam, mohon diterima!" kata perempuan itu sopan sambil menyerahkan sebuah gaun panjang cantik bermotif batik dengan tali spageti berwarna kecoklatan yang dilengkapi dengan sepatu higheel dan tas Lady Dior berwarna hijau.
"Oiya terimakasih!" katanya sambil tersenyum ramah. Lalu perempuan itu pamit undur diri seraya sedikit membungkukkan tubuhnya sopan.
Sesaat Davina hanya memandangi gaun cantik itu sambil berfikir.
"Ini si bos mau apalagiii coba pake acara kirim-kirim gaun kurang bahan seperti ini, mana harus d pakai malam-malam lagi!!, apa gak salah kostum apa ya?!. Malah nanti bisa-bisa aku masuk angin lagi!" seraya mengernyitkan dahi sambil membolak-balik gaun itu.
tuuuut...tuuut...tuuut....
Kembali gawainya berbunyi.
__ADS_1
"Iya pak halo" kata Davina
"Kamu sudah lihat gaunnya?" tanya Radithya
"Iya pak!, ini sudah ada!. Tapiii... memangnya ada acara apa ya kok harus pakai gaun seperti ini segala?" tanya Davina balik nanya.
"Kamu gak suka?" bukannya menjawab pertanyaan malah membuat pertanyaan lagi.
"Iya bagus sih pak!, namuuuun.. apa gak terlalu berlebihan apa ya saya harus pakai baju ini malam-malam!" kembali nanya lagi membuat level gemas Radithya nambah satu tingkat.
"Kamu mengatakan seleraku jelek ya?, kamu gak tahu apa kalau gaun itu limited edition dari Christian Dior?" satu tingkat lagi level gemasnya bertambah.
"Kok si bos jadi gak nyambung gini yaah, aku nanya kemana dia jawab kemana. Lagian siapa yang bilang selerenya jelek!!." gerutu Davina dalam hati.
"Halo!!... halooo!!... kok malah diam si?!, pokoknya sepuluh menit lagi saya tunggu dibawah! Gak Pake Lama!!!" katanya sambil menutup telponnya tanpa kalimat penutup seperti biasanya.
"Iiiih... kok doyannya maksa si!!, gak boleh apa sekaliii saja aku nolak satu perintahnya!!. Apa jangan-jangan nanti juga akan seperti itu kalau kita sudah menikah??!... waduh..!!! bagaimana iniii???!" sambil bergidik membayangkan apa yang belum pernah terbayangkan tentang apa yang nanti akan terjadi..
------------xxxxx---------------
(Di tempat Pak Jo bertemu si gadis desa)
Setelah melewati proses dramatis antara dirinya yang menolak dengan berbagai alasan untuk jalan berdua dengan anaknya dan dengan gigihnya si ibu merayu serta mempromosikan anaknya agar bisa jalan berdua dengan pak Jo yang dianggapnya pria tajir melintir, akhirnya pertarungan adu debat itu dimenangkan oleh si ibu.
Dengan sedikit kesal akhirnya ia membawa anak gadis si ibu itu untuk berkeliling kampung..
"Cuma keliling kampung doang sampai segitu semangatnya si ibu itu memaksaku.. bilang saja niat pamer kali." batin pak Jo kesal
"Ingat yaa nak!, kaca jendela mobilnya di buka lebar yaaa... biar udara segarnya masuk kedalam mobil!!, okey yaaah selamat bersenang-senaaaang!!!" katanya sambil wanti-wanti dengan suara kencang dengan harapan bisa didengar oleh orang sekeliling yang lewat, sebelum mereka pergi jalan-jalan.
Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terasa. Ia melirik gadis yang berada di sampingnya hanya diam saja tanpa merespon apapun soal ditanya namanya. Pak Jo pun heran.
__ADS_1
" Ehem!!!, ngomong-ngamong nama kamu siapa?!, masa sih kita jalan tapi belum mengenal nama satu sama lain!" kata Pa Jo membuka percakapan.
Gadis itu hanya tersenyum tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibir cantiknya.
"Cuma nyebutin nama saja kok susah amat sih!!. gerutu pa Jo kesal.
"Kita sudah lima kali keliling-keliling desa ini, sekarang kita pulang yaaa, cape!!!, oiya kamu mau beli oleh-oleh dulu gak?!, biar nanti saya yang bayarin!" lanjut pak Jo meneruskan pertanyaannya.
Lagi-lagi gadis itu hanya tersenyum tanpa kata-kata. Memang siiih senyumannya itu maniiiiis sekali semanis gula, membuat melelah hati siapapun yang melihatnya. Tapi kalau lama-lama seperti itu, tiap di tanya dia senyum, diajak pulang diapun senyum, disuruh turun pun untuk beli oleh-oleh buat dirumahnya kembali diapun hanya tersenyum....
"Maunya apa sih ni cewek?!, apa jangan-jangan dia gak ngerti bahasa manusia kali yaa hehe.... ups!!! keceplosan!!" batin pak Jo geram-geram gimanaaa gitu.
Akhirnya pak Jo memutuskan untuk pulang saja, dan tak lupa ia sendiri yang langsung membelikan beberapa oleh-oleh untuk ibunya. Karena yang ia tahu dan yang ia tangkap dari beberapa ocehan teman-temannya yang mengatakan bahwa kalau seorang laki-laki membawa jalan atau istilah kerennya ngedate, harus selalu membekali ceweknya itu oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumahnya... yaaa minimal martabak atau apaan kek yang bisa dimakan si cewek dan keluarganya.
Dan itu langsung di praktekkan pak Jo yang merasa situasinya sama persis seperti apa yang dikatakan temen-temennya itu.
"Akhirnya beres juga!!, tugasku untuk membelikan oleh-oleh sudah selesai!! dan sekarang aku harus cepat-cepat pulang sebelum si bos menelponku!" katanya dengan bangganya karena telah berhasil menjalankan misi karena menurutnya membelikan cewek oleh-oleh setelah jalan-jalan merupakan suatu kewajiban lelaki yang harus dilaksanakan, dan ia merasa telah menjalankannya dengan baik seolah dialah seorang pria sejati. hehehe...
---------xxx------
Di sebuah cafe
Terlihat Davina mengenakan gaun cantik yang diberikan Radithya. Ia terlihat sangat anggun dan cantik bahkan lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Itu yang terlihat di mata Radithya saat itu. Ia sampai tak berkedip memandangnya.
"Pak!!...pak Radith...!!" tanya Davina yang sudah berada dihadapan bos nya yang masih diam terpaku memandangnya.
bersambung
__ADS_1
like n komennya yaaa ....🙏🏻🙏🏻🙏🏻😘