Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Rencana pergi sendiri


__ADS_3

Nampak Radithya diam seolah sedang memikirkan sesuatu, lalu ia teringat dengan Claudia yang sampai saat ini masih tetap mengejarnya.


"Apa mungkin Claudia, Jo?" kata Radithya setengah berbisik kepada asistennya.


Sejenak pak Jo seolah berfikir, kemudian ia berkata:


"Kita jangan dulu menuduhnya langsung karena semua belum jelas, bisa-bisa nanti jatuhnya ke fitnah pak?, lebih baik kita selidiki terlebih dahulu!" terang pak Jo memberi tanggapan.


Nampak hening sesaat, Selamet pun yang biasanya banyak bicara kali ini ia milih diam.


Tiba-tiba Davina ingat sesuatu, kemudian ia pun berkata sambil menoleh ke arah bos nya.


"Saya sepertinya mengenal lelaki yang semalam mencurigakan itu. Dilihat dari...." belum juga Davina menyelesaikan kalimatnya, Radithya sudah menimpali dengan sederet pertanyaan yang sontak membuat kesal semua yang ada di sana.


"Apa Vin, kamu kenal sama orang itu??!!... siapa?... siapa dia?... ayo sebutkan!.., kenapa kamu tidak bilang dari tadi si kalau kamu tahu!!.., cepat katakan siapa orangnya!!!, akan saya beri pelajaran dia!!... seenaknya saja mainin hidup orang!!!... Jo, cepat cari orang itu!!... kita buat perhitungan sama dia!!, berani-beraninya main-main sama saya, awas saja kalau ketemu!!!, akan saya buat menyesal seumur hidup!!...., eh.. ngomong-ngomong siapa dia Vin?!, cepat katakan jangan berbelit-belit dan buat saya penasaran!!".


kata Radithya berapi-api sambil berajak mendekati Davina yang bengong sesaat melihat respon bosnya yang tiba-tiba over lebay dan spontan membuat seisi ruangan menjandi kesal sampai ke ubun-ubun.


Pak Jo hanya bisa garuk-garuk kepala, sementara Selamet yang dari tadi hanya menjadi pendengar dan pengamat setia sontak sifat nyinyirnya tak bisa di bendung lagi, lalu kembali kalimat pedas nya meluncur bebas tanpa batas.


"Hey bos songong!!,, yayang bebebku belum beres bicara ooooonn..., kamunya sudah berkicau kemana-mana seperti burung beo, baru saja bicara satu kalimat, sudah di bilang berbelit-belit, kamunya tuh punya mulut seperti ember, meluber kemana-mana... bisa gak sih dengerin dulu orang bicara, jangan main nyerocos saja kemana-mana, bikin gatel telinga saja!!" kata Selamet sambil mencibir kearah Radithya yang sempat memerah wajahnya saking kesal dan menahan rasa penasarannya yang semakin membuncah.


Davina menghela nafas panjang, walaupun ia juga sangat kesal dengan bosnya namun ia berusaha bersikap sabar. Lalu ia melanjutkan bicara yang tadi sempat terpotong.


"Malam itu, saya benar-benar tidak bisa tidur padahal waktu itu malam sudah benar-benar larut. Tiba-tiba sekilas saya melihat seperti ada seseorang yang melintas melewati jendela, saya fikir dia akan merampok rumah ini. Lalu saya berani..." dan lagi-lagi bos nya menyela pembicaraan Davina membuat semakin geram orang-orang yang berada disana, termasuk pak Ba sendiri dengan melihat mimik mukanya yang langsung berubah seperti kesal.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak langsung teriak sih, Vin?!... Sudah jelas orang itu pasti berniat jahat, soalnya ngapain coba malam-malam masuk ke rumah orang kalau tidak punya niat jelek?!. Percuma kamu belajar bela diri kalau sama satu orang saja kamu takut, kalaupun iya memang kamu takut, kenapa kamu tidak teriak saja sih biar orang-orang pada bangun!" kata bos nya panjang lebar sambil menatap ke arah Davina yang nampak kesal.


Kali ini pak Jo yang sudah tidak tahan lagi melihat reaksi berlebih bosnya, ia berinisiatif duluan menimpali bos nya daripada harus keduluan Selamet yang nampak dari tadi sudah terlihat geram sekali bahkan sepertinya sudah mau menyela-menyela saja kalau saja pak Ba tidak mencegahnya dengan memberi isyarat pada Selamet untuk diam.


"Pak, tolong dengarkan dulu Davina bicara, sepertinya masih banyak yang belum bapak ketahui, jadi supaya semua bisa cepat clear dan tahu yang sebenarnya, saya mohon bapak dengarkan saja dulu dengan tenang dan duduk manis!" kata pak Jo masih seperti biasa sopan namun sedikit nyelekit di ujung yang spontan membuat wajah bos nya seperti kepiting rebus.


Sambil menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar, akhirnya Radithya diam sambil kembali duduk di samping pak Jo.


"Ayo, Vin.. lanjutkan!!" kata pak Jo kepada davina yang nampak masih kesal dengan bos nya.


"Ketika saya melihat sebuah bayangn seseorang lewat jendela itu, saat itu saya mencoba mengintip dari balik tirai dan melihat gelagat aneh yang sepertinya dia tidak berniat mencuri sesuatu di rumah ini, tapi seolah memiliki rencana dengan bapak." sesaat Davina diam sambil mencoba mengingat-ingat kembali kejadian detail tadi malam.


Semua nampak serius memandang Davina, lalu ia pun kembali melanjutkan ceritanya.


"Lalu apa Vin?!, ayo cepat katakan jangan buat saya tambah penasaran!" tanya Radithya gemas dengan sikap Davina yang seolah sengaja memancing rasa penasarannya.


Davina menoleh kearah pak Ba, lalu ia berkata:


"Tiba-tiba angin terasa begitu kencang dan sontak membuat saya begitu kaget saat itu, dan disaat bersamaan itu pula tiba-tiba ponselku berdering. Waktu itu juga saya heran kenapa malam-malam ada telpon, dengan perasaan takut akhirnya saat itu saya coba angkat telponnya dan ternyata...." kembali Davina diam seolah ragu atau takut membayangkan kembali kejadian tadi malam, karena melihat dari gestur tubuhnya menyiratkan bahwa ia benar-benar ketakutan karena harus menceritakan kembali peristiwa aneh itu.


Perlahan pak Jo memegang tangan Davina dan mencoba untuk menenangkan karena terlihat Davina seolah mengalami rasa takut yang berlebihan, diihat dari gestur tubuhnya yang seolah ia benar-benar ketakutan dan tidak mau lagi mengingat peristiwa semalam.


"Ambilkan ia minum dan berikan padanya, nak!" perintah pak Ba kepada Selamet. Dengan cepat Selamet mengambilkan minum dan langsung diberikannya kepada Davina.


Sesaat suasana hening, semua memandang Davina tanpa berani lagi memaksa Davina untuk melanjutkan ceritanya, walaupun ada rasa penasaran memenuhi isi kepala mereka.

__ADS_1


"Saya mendapat telepon dari orang asing yang sama sekali tidak saya kenal, dan dia seolah tahu apa yang sedang terjadi saat itu. Lalu ia mengarahkan saya untuk menebarkan semacam serbuk aneh yang sangat menyengat aromanya sampai saya pun tidak tahan lagi dengan aromanya sehingga membuat saya ketahuan oleh lelaki aneh itu. Lalu tiba-tiba saya melihat ada sesosok makhluk menyeramkan dan.... ahhh... tidak!!, saya takut sekali.. !" kata Davina sambil menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya seolah ia tidak mau membayangkannya lagi. Ia benar-benar ketakutan.


Radithya yang melihat reaksi Davina yang seolah mengalami trauma langsung mendekati Davina dan mencoba menenangkannya dengan memeluknya pundak Davina.


"Sudahlah, tidak usah kamu ceritakan lagi. Semua keterangan sudah cukup, sekarang kamu istirahat ya!" dengan lembut Radithya berkata. Ia merasa iba dengan sikap asistennya itu, kemudian ia memapah Davina masuk kekamarnya untuk beristirahat.


----------xxxxxx----------


Malam semakin larut, namun belum ada tanda-tanda mengantuk bagi Radithya dan pak Jo. Mereka masih duduk didepan kamar Davina ditemani secangkir kopi dan teh chamomile minuman favorit Radithya ketika sedang mengalami stress dan banyak fikiran.


"Jo, jam berapa besok kita berangkat?, jujur saja saya sudah benar-benar tidak kuat berada disini. Banyak kejadian aneh di luar nalar yang membuatku tambah pusing!. Sepertinya saya butuh menenangkan diri sendiri. Jadi setelah kepulangan besok, tolong kamu handle semua tugasku, saya percayakan semuanya sama kamu. Saya akan pergi dulu untuk beberapa saat sampai fikiran saya benar-benar tenang!" kata Radithya sambil kembali menyesap tehnya .


Pak Jo hanya diam, sebenarnya ia bukan berarti enggan menerima tugas itu dari bosnya, namun terselip rasa khawatir dihatinya kalau saja bosnya sampai pergi sendirian, yang di takutkan adalah justru akan membuat bos nya tidak aman berada sendirian.


"Maaf pak, saya hanya menyarankan supaya tidak pergi sendirian saja!, minimal ada teman yang menemani bapak!" saran pak Jo seolah telah mempunyai firasat kalau saja sampai bos nya pergi sendirian, akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Kamu ini gimana si, Jo. Kalau pergi berdua, bertiga atau banyakan itu namanya mau tamasya bukannya mau nenangin diri, yang ada malah tambah bikin pusing lagi. Sudahlah, kamu kerjakan saja apa yang saya perintahkan, biar Davina yang bantu kamu. Lagipula saya pergi hanya sebentar walau belum tahu berapa lama saya pergi. Sudahlah, saya mau tidur. Kamu tidur disini saja jagain Davina dari luar, tar kalau ada apa-apa teriak saja jangan di pendam sendiri!, ngerti kamu?!" kata Radithya sambil berlalu meninggalkan asistennya yang masih mencerna setiap kalimat yang di lontarkan bos nya itu.


Pak Jo hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, karena baginya percuma saja menyanggah kalau sang bos sudah berkehendak, maka tak ada siapapun yang berani membantahnya termasuk dirinya sendiri.


"Baiklah terserah anda saja pak, mudah-mudahan saja apa yang saya takutkan tidak sampai terjadi. Dan semoga semuanya baik-baik saja!" batin pak Jo sambil merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang sengaja ia siapkan agar ia bisa menjaga Davina dari luar.


bersambung


like komennya yaa...🙏🏻🙏🏻🙏🏻😘

__ADS_1


__ADS_2