Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Kebelet 'itu...


__ADS_3

'"Memangnya siapa yang sakit, Vin?" tanyanya khawatir sambil meneliti tubuh Davina dari atas kepala sampai mata kaki, yang membuat Davina sedikit risih.


"Sudaaah... sudaaaah... kamu jauhan dikit sana, aku gak apa-apa! yang sakit itu bukannya aku tapi bos aku!" kata Davina sambil mencoba menghindari si Selamet dengan tepisan tangannya karena sangat risih dilihatin orang-orang yang lewat.


" Oooh.. syukurlah kalau bukan kamu yang sakit!!. Kalau bos kamu mau periksakan sakitnya, dia bisa datang ke tempat praktek saya saja!. Nih alamatnya!" Kata Selamet sambil menyodorkan kartu nama yang tertera namanya.


"Oiya, saya minta nomer ponsel kamu boleh ya!, biar kalau ada apa-apa bisa gampang hubungi kamu, yah... bolehlah... bolehlaaah.. !" katanya sambil menyatukan telapak tangan didadanya.


"Iya tar kapan-kapan aku kasih nomernya nanti, sekarang dia nya lagi kebelet pipis pengen ke toilet dulu, oke yaaah aku tinggal duluuu... " kata Davina sambil berlalu meninggalkan Selamet yang masih tertegun menatap punggung Davina yang semakin menjauh.


"Apa hubungannya ya nomer ponsel sama kebelet pipis, trus dia bilang 'DIA', dia siapa maksudnya?, aku kan hanya minta nomer ponselnya bukan nomer ponsel orang lain, kan dia bisa langsung nyebutin saja paling juga cuma beberapa detik, oooh paling dia sudah benar-benar pengen pipis barangkali heee..." gumamnya sambil geleng-geleng kepala, lalu iapun pergi berlalu sambil mendekap erat sendalnya di dada, (rupanya ia lebih sayang sendalnya dibanding kakinya walau terasa perih-perih akibat menginjak kerang-kerang kecil yang memiliki cangkang yang keras.


-----------xxxxx-----------


Radithya dan Pak Jo masih terlihat duduk di posisi yang sama seperti sebelum Davina beranjak dari tempat itu. Namun kali ini mereka terlihat diem-dieman seperti sepasang kekasih yang sedang dilanda masalah.


Davina duduk di samping pak Jo yang asyik dengan gawainya, sementara bos nya terlihat seperti sedang melamun. Davina trenyuh melihatnya, ia seolah mengerti apa yang di fikirkan bos nya saat malam menjelang. 'Penyakit anehnya yang selalu datang setiap malam!'


"Pak!, ini sudah petang lho! apa bapak tidak mau istirahat?" Kata Davina melirik bosnya.


"Hmmm..." hanya itu yang terdengar dari mulut bos nya. Sambil kembali menyenderkan punggungnya dengan kedua lengan menyangga kepalanya. Ia sepertinya enggan meninggalkan tempat itu.


Davina menoleh ke arah pak Jo, begitupun sebaliknya pak Jo. Mereka saling mengisyaratkan supaya membujuk bos nya agar segera pulang ke hotel, mengingat angin laut sudah terasa semakin kencang.


"Pak... kita pulang yuk!, angin nya kencang lho ini! tar bapak bisa masuk angin!" ajak Davina.


"Iya, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi di sana!" kata pak Jo yang langsung disinggung lengannya oleh Davina.

__ADS_1


"Iiih apain si?, saya sudah lelah! mau rebahan dulu, bapak saja sendiri yang temenin si bos!" kata Davina geram dengan omongannya pak Jo yang doyan amat ngumpul bareng sama di bos, ga dimana-mana nempel terus kaya perangko.


"Oiya mari kita pulang!" kata Radithya dengan mimik muka yang langsung cerah, secerah lampu neon 1000 watt, tidak seperti tadi yang terlihat masam.


Ia semangat pulang kalau Pak Jo masih tetap setia di sampingnya. Sejujurnya ia tidak mau di tinggal sendiri, karena ia merasa fikiran-fikiran anehnya akan datang tiba-tiba ketika ia sedang sendiri, jadi ia harus disibukkan dengan mengobrol, main catur ataaaau main kelereng barangkali (hehe..) yang penting otak dan fikirannya tidak diberi kesempatan untuk berfikir yang aneh-aneh, yang bisa memicu ke arah 'Kebelet gituan'.


"Pak, saya izin istirahat dikamar saja ya!, kan ada pak Jo, kalau ada apa-apa bapak tinggal bilang saja sama dia!, dia sangat pengertian kok!" kata Davina sambil melirik ke arah pak Jo yang mendelik kesal.


"Iya, silahkan!" kata Radithya datar.


------------xxxxx-------------


Waktu telah menunjukan pukul 02.39 pagi, Davina yang telah tidur dari pukul delapan tadi dikejutkan oleh suara notifikasi pesan yang ponselnya tepat berada di dekat telinganya.


Dengan malas-malasan ia membacanya, ternyata ada 15 notifikasi dan 26 panggilan tak terjawab. Nampak nama pak Jo disana, kemudian ia baca satu-persatu.


"Vin!...


Notifikasi kedua :


"Kamu sudah tidur?"


Panggilan suara tak terjawab pukul 01.33 (16x)


Notifikasi ketiga:


"Vin, bangun dooong..!!, tidur kok seperti kerbau sih!"

__ADS_1


Notifikasi keempat:


"Vin, gantian temenin si bos ngobrol, aku udah ngantuk berat niiih!"


Panggilan suara tak terjawab pukul 02.44 (10 x)


Notifikasi selanjutnyaaaa 1 :


"Viiiiiin.... si bos sekarang gak kambuh lagi penyakit anehnya, hanya saja ia harus selalu ada yang nemenin ngobrol supaya fikiran-fikiran anehnya gak ngerasukin tubuhnyaa.!"


Notifikasi selanjutnyaaaa 2 :


"Viiin, siniii dooong...aku ttyahu sekartang cara supayua penyakiut anehnya ituy tidask datsang lagi, kits ajask teyurus ngbrokl dianyta. Si bos harus ngoceh terus dsan pstinyasd hgrus ada yemen yanf busa menemin su vbos. jjadi kjamu ksdini skarngf akhuy ngnsntuk bderat!"


Lama-lama tulisan pak Jo nampak tak sesuai EYD yang benar, ngawur kemana-mana seperti anak kecil yang baru masuk sekolah dan belum lancar baca tulis nya, menandakan jempol tangannya sudah tidak singkron lagi dengan otaknya, efek dari ngantuk barangkali.


"Ahhhh.... ada apa lagi ini?, apa mungkin pak Radithya kambuh lagi penyakitnya?.. telpon jangan yaaa....!" kata Davina ragu. Karena merasa kasihan dengan Pak Jo akhirnya ia mengalah juga dan langsung menelpon pak Jo. Tak sampai dua kali dering, telpon nya langsung diangkat pak Jo.


"Halo Vin, kesini ya gantian temenin si bos, mataku sudah sepet iniii!" terdengar suaranya sangat pelan.


"Tapi ia tidak ada tanda-tanda mau kumat lagi kan penyakitnya?" tanya Davina memastikan.


"Iiiiiyyyaaaa..." katanya pelan cenderung tak terdengar.


"Aku harus cepat-cepat kesana sebelum fikiran si bos terisi fikiran-fikiran aneh lagi!" bergegas ia siap-siap untuk pergi ke kamar si bos.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2