Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Teka teki Putri


__ADS_3

"Maksudnya apa de?, jangan menakut-nakuti kakak ah." kata Davina kembali mengulang pertanyaannya sambil memegang pelan lengan Putri yang sedang duduk menghadap ke arah bangunan tua yang menghadap ke lautan luas.


"Saya merasa ada yang aneh saja kak. Coba sekarang kakak menghadap ke arah bangunan tua itu lalu fokuskan hati dan fikiran kakak pada satu arah, pejamkan mata lahiriah dan buka mata bathin kakak lalu rasakan dan lihat apa yang kakak lihat disana!" kata Putri membuat bulu kuduk Davina sedikit merinding.


"Ah.. tidak!.. tidak!, kakak belum sanggup lihat yang begituan. Lebih baik kita pulang saja yuk, bukankah kita harus sholat dulu kan?" kata Davina sedikit bergidik seolah mengerti kemana arah pembicaraan Putri.


"haha... kakak lucu yah, memangnya saya mau nyuruh kakak lihatin apa?, sini deh kak cepetaaan!" kata putri diiringi kekehan kecil. Davina hanya garuk-garuk kepala sambil menuruti apa yang di arahkan Putri.


Dengan berdiri berdampingan mereka berdiri tepat kearah gedung tua yang nampak megah namun sepertinya terlihat angker dan tak berpenghuni.


"Gedung itu dulunya adalah sebuah hotel terkenal di daerah ini, dengan lokasi yang tepat di depan pantai ini justru semakin menambah keindahan dan daya tarik hotel ini untuk dijadikan tempat menginap para wisatawa lokal dan asing." sesaat Putri menghentikan kalimatnya, sambil menghela nafas panjang lalu ia kembali melanjutkan ceritanya.


"Namun tiba-tiba bencana tsunami dahsyat beberapa tahun yang lalu telah memporak- porandakn daerah ini termasuk hotel itu. Hampir semua pengunjung yang menginap disana termasuk kedua orangtua ku meninggal karena musibah tersebut, mereka tidak sempat menyelamatkan diri karena kejadiannya begitu cepat dan saat itu kebetulan terjadi pukul dua dini hari, disaat orang-orang tengah terlelap tidur.!"


Nampak sedikit butiran bening mengembun di kedua kelopak mata Putri yang sayu, dan belum sempat air matanya mengalir, dengan cepat ia menyekanya agar jangan sampai terjatuh, nampak ia begitu tegar, membuat Davina semakin kagum.


"Lalu kenapa tadi kamu bilang kalau orangtua mu meninggal karena kapal karam?" tanya Davina penasaran.


"Nenek yang menginginkan aku untuk tidak menceritakan yang sebenarnya.!" kata Puteri membuat Davina semakin penasaran.


"Kakak benar-benar heran deh, kenapa nenek kamu harus merahasiakan nya ya?!, sepertinya kalau bicara jujur juga itu tidak akan berpengaruh apapun iya kan?, toh yang namanya musibah kan kita gak tahu, lalu kenapa harus menutup-nutupinya benar tidak de?" kata Davina sedikit beropini.


"Awalnya aku juga berpendapat sama dengan kakak, namuun.." belum juga Putri melanjutkan kalimatnya tiba-tiba terdengar ada suara seorang perempuan tua memanggil Putri.


"Putri cucuku, kalau kamu mau istirahat dulu ayo cepat pulang, nenek sudah siapkan masakan kesukaan kamu, ayo cu mari!" kata perempuan tua itu tanpa melirik sedikit pun kearah Davina yang berada di samping Putri. Davina hanya diam tak bergeming.


"Iya nek aku pulang, Mari kak!" kata Putri sambil melirik kearah Davina yang masih bengong dengan isyarat mata Putri yang seolah memohon maaf.


"Iya silahkan Put, mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi ya?, kakak senang bisa berkenalan dengan kamu!" kata Davina sambil tersenyum dan melambaikan tangan walau ia sangat tahu kalau Putri tidak akan bisa melihatnya. Dan lagi-lagi davina dibuat kaget karena ternyata Putri membalasnya dengan melambaikan tangannya seolah ia melihat lambaian tangan Davina.


Seiring kepergian mereka, Davina hanya menatap punggung kedua perempuan beda usia itu yang semakin menjauh. Sambil menghela nafas panjang akhirnya ia pun perlahan meninggalkan tempat itu dengan membawa sejuta pertanyaan yang masih tersisa di benaknya.

__ADS_1


Sambil berjalan, kedua tangannya tanpa sadar sedang menggenggam sebuah kotak kecil yang tadi ia pegang dan belum sempat ia kembalikan ke Putri.


Dan ketika ia hendak memanggil Puteri, sekilas kedua netranya tanpa sadar melihat dua sosok makhluk berbaju putih yang tengah berdiri tepat di depan jendela lantai dua bangunan hotel megah itu. Mereka melihat ke arah Davina dan salah satu dari mereka melambaikan tangannya kearahnya.


Sontak kedua mata Davina membulat lebar, mulutnya sedikit terbuka dan tubuhnya bergetar hebat. Ia benar-benar tidak menyangka kalau kedua netranya bisa melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Ahh... a...apa ituu... tidak..tidak!! hiii.. aku harus cepat-cepat pergi dari sini!" kata Davina sambil bergidik ngeri. Terdengar samar ada orang yang memanggil-manggil namanya membuat Davina semakin mengencangkan langkah kakinya untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


-----------000-----------


Di kediaman Selamet


"Jo, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?, tidak mungkin kan kita berlama-lama di sini!, apalagi setiap hari harus bertemu dengan manusia aneh seperti itu!" kata Radithya sambil melirik dengan sudut matanya kearah Selamet yang tengah asyik memainkan game kesukaannya.


Belum juga pak Jo menjawab, tiba-tiba Davina setengah berlari masuk dengan nafas yang masih memburu. Ia langsung duduk tepat di hadapan mereka berdua sambil memegangi dadanya yang terasa sakit akibat larinya yang tanpa henti.


Kamu kenapa si?, lari-lari seperti orang yang dikejar hantu saja!" kata Radithya sambil menatap tajam Davina.


"Vin, kamu kenapa?, kenapa wajah kamu pucat begitu sih!, kamu sakit? atau barangkali kamu lapar, aku buatin makanan ya?!" tanya Selamet tiba-tiba dengan sederet pertanyaannya.


Davina bukannya menjawab malah ia langsung beranjak dari kursi tanpa menghiraukan tiga pasang netra lelaki yang menatapnya penuh keheranan.


Ia berjalan mendekati jendela yang menghadap ke sebuah pasar tradisional, tempat ia bertemu dengan Putri tadi. Dan nampak dengan jelas juga sebuah bangunan hotel yang terlihat begitu megah berdiri namun terlihat angker. Davina kembali bergidik ngeri.


"Kamu kenapa?" tiba-tiba suara bosnya mengagetkannya dan hampir saja ia berteriak saking kagetnya.


"Iiih.. bapak ngagetin saja!, saya gak apa-apa kok cuma kecapean saja dari tadi habis keliling pasar itu." kata Davina sambil berlalu melewati Radithya yang berada di belakangnya.


"Tapi kelakuan kamu itu aneh tahu?, pergi diam-diam, eh pulangnya malah kelihatan seperti di kejar-kejar hantu, lari-lari gak jelas. Memangnya kamu dikejar apa?" kembali Radithya bertanya karena merasa ada sesuatu yang di sembunyikan asisten perempuannya itu.


Sesaat Davina diam seolah sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Pak, kapan kita bisa pulang?, bukankah semuanya sudah beres?. Lagipula saya banyak mendapat email dari rekan-rekan yang di kantor katanya banyak klien yang menanyakan kapan bapak bisa kembali?, ada banyak pekerjaan menunggu bapak disana!" kata Davina panjang lebar dan sengaja mengalihkan pertanyaan yang di lontarkan bosnya.


Nampak Radithya diam seolah sedang berfikir, lalu ia menoleh kearah pak Jo yang sama sedang memperhatikan Davina.


"Mungkin lebih baik kita pulang saja pak!, dan ada benarnya juga apa yang di katakan Davina kalau perusahaan sedang membutuhkan bapak!" kata pak Jo memberi saran.


"Baiklah besok kita pulang, Jo!" kata Radithya tandas sambil melirik ke arah Davina dan Pak Jo bergantian.


----------------×××××‐‐----------------


Malam semakin larut, namun kedua mata Davina sepertinya sulit sekali untuk di pejamkan. Fikirannya melayang ke kejadian tadi siang. Tanpa sadar ia bergidik kembali mengingat apa yang ia lihat tadi.


"Selalu saja ada kejadian aneh, sebenarnya apa yang sedang terjadi ini?, masa iya sih di zaman modern begini masih ada hal-hal yang di luar nalar begitu... ahhhh bikin pusing saja!" batin Davina sambil menarik selimutnya karena ia merasaka udara semakin dingin.


Namun fikirannya masih tetap melayang, kali ini ia teringat ucapan Putri tadi siang.


"Sebenarnya apa maksud perkataan Putri tadi ya?!, jadi penasaran.. hhmmm.. nambah lagi satu teka-teki!... huh!", gumam Davina sambil melirik ke arah jendela kamar yang tiba-tiba terasa hembusan anginnya begitu kencang sehingga membuat tirai yang menutupi kaca jendela sedikit menyingkap.


Tiba-tiba kedua netranya menangkap sebuah bayangan melintas yang berjalan begitu cepat. Sontak Davina kaget, darahnya berdesir hebat dan nyalinya kembali ciut.


Perlahan kedua bola matanya ia gerakan mengikuti gerakan bayangan yang berjalan mengarah ke kamar bos nya yang berdampingan dengan kamarnya.


Rasa takut serta penasaran berkecamuk dalam fikirannya, walaupun masih terselip perasaan takut dengan apa yang dilihatnya tadi sore, namun rasa penasaran telah mengalahkan ketakutannya.


Perlahan ia bangkit dan mencoba memberanikan diri untuk mendekati jendela kamar yang jendelanya bersebelahan dengan jendela ruangan bos nya.


Dan belum sempat ia menyibakkan tirai jendela nampak menerawang, tiba-tiba....


bersambung


Like komennya yaa di tunggu🙏🏻🙏🏻😘--

__ADS_1


__ADS_2