
"Tunggu!" kata Davina lantang. Kedua orang itu menoleh kearah Davina yang sudah ada dibelakang mereka. Fachri yang sudah membuka pintu kamar Claudia diam tak berkutik, ia mencari alasan agar aksinya itu tidak menimbulkan kecurigaan Davina.
"Kenapa dengan Pak Radithya?" katanya penasaran dengan sorot mata penuh selidik.
Claudia yang dari tadi diam saja mencoba menutupi wajahnya dengan rambutnya yang terurai, ia takut ketahuan Davina.
"Aaah kamu, kebetulan sekali datang tepat waktu. Ini bos kamu kebanyakn minum, sudah saya cegah tapi dia gak mau dengar, jadinya seperti ini deh. Nyusahin saja!" terangnya memberi penjelasan.
"Lalu kenapa dibawa kesini, bukankah kamarnya bapak sudah disiaplan khusus oleh panitia di kamar VVIP grand suite sebelah cafe Citra itu?" Davina merasa curiga dengan gelagat Fachri. Kemudian ia menengok Claudia yang dari tadi diam saja.
"Claudia kan?" katanya sambil mencoba mengenali wajah Claudia yang ditutupi rambutnya. Claudia diam tak bergeming, sampai terdengar Fachri mencoba mematahkan pertanyaan Davina yang sepertinya mulai mencurigainya.
"Cepat kamu bawa dia kekamarnya, tadi saya bingung mau bawa dia kemana soalnya lihat kondisinya saja mabuk berat begitu, dan kebetulan kamarnya Claudia didekat sini, Jadi yaa...saya bawa saja ke kamarnya dia." kata Fachri memberi alasan sambil menunjuk kearah Claudia.
Davina menganggukkan kepalnya seolah percaya dengan pernyataan Fachri itu, padahal ia sudah mendengar tujuan mereka membawa bosnya kekamar Claudia hanya untuk menjebaknya.. Namun Davina sengaja pura-pura tidak mendengarnya .
"Baiklah kalau begitu, biar saya saja yang mengantar dia kekamarnya!" sambil menggandeng lengan bos nya dan meletakkannya diatas pundaknya.
"Vinaaa, cepat bawa aku dari sini!" kata Radithya setengah berbisik. Ia nampak lemas, keringat bercucuran dan seperti sedang menahan sesuatu. Ia terlihat tidak sedang mabuk berat, karena Davina tidak mencium bau alkohol dari mulut bosnya.
Davina tahu betul kalau bos nya itu tidak pernah sekali pun bersentuhan dengan yang namanya minuman keras. Jadi mana mungkin ia bisa semabuk itu kalau bukan ada sesuatu yang terjadi padanya. Davina curiga dengan hal itu.
__ADS_1
"Iya baiklah pak, bertahanlah!" kata Davina.
Sepanjang lorong menuju kamar Radithya, tak ada satu orangpun yang ia temui untuk dimintai pertolongan untuk memapah bosnya. Ia hampir saja kewalahan menyangga beban berat tubuh bosnya yang tinggi besar kalau saja ia tidak cepat-cepat berpegangan pada tiang lorong yang berjejer di pinggir dinding.
"Ahh si pak Jo kemana lagi?, kebiasaan kalau lagi di butuhin selalu gak ada. Mana ponselku mati lagi". gerutu Davina kesal.
Emosi Radithya yang nampak sudah tak terkontrol lagi tiba-tiba memeluk Davina erat, bibirnya berusaha untuk menyentuh pipi Davina, yang sontak membuat Davina kaget.
"Iiih bapak, apa-apaain sih!" sambil berusaha menghindar dari wajah bosnya yang kian mendekat.
Tinggal beberapa meter lagi mendekati pintu kamar Radithya, tiba-tiba tangannya sudah tidak bisa dikondisikan lagi dan menjalar kemana-mana membuat Davina kesal.
Dengan kencang Davina mendorong tubuh bosnya sampai terjerambab kebelakang membentur dinding lukisan. "Maaf pak!, bertahanlah!"
Radithya yang masih setengah sadar, ia merogoh-rogoh sakunya untuk mencari kunci kamarnya. Tak lama akhirnya ia menemukan kuncinya dan dengan tangan sedikit gemetar menyerahkannya pada Davina.
Pintu terbuka, lalu ia mencoba membantu bosnya yang berusaha berdiri. Lagi-lagi, Radithya berusaha berbuat sesuatu terhadap Davina dengan memeluk erat tubuh Davina.
Davina oleng karena tak sanggup lagi menahan berat tubuh bosnya, akhirnya mereka terjatuh keatas ranjang dengan posisi Davina dibawah.
"Aku mohon tolong aku, aku sudah benar-benar tidak kuat lagi menahannya!" kata Radithya setengah berbisik ketelinga Davina dengan suara sedikit terbata-bata.
__ADS_1
Keringat bercucuran, mata sedikit memerah. Nampak ia benar-benar tersiksa menahannya.
"Pak tolong kendalikan emosimu, saya mohon. Pasti bapak bisa!" kata Davina dengan tangan yang masih sibuk menahan setiap pergerakan tangan dan bibir liar sang bos yang sepertinya sudah tidak bisa dikendalikana lagi.
Sambil berusaha menahan tubuhnya yang terjepit tubuh bosnya, Davina mencoba tenang dan mencari jalan. Tangannya yang tadi ia pakai menahan wajah dan bibir Radithya agar tidak sampai menyentuhnya, akhirnya ia lepaskan.
Ia berusaha meraba-raba meja kecil yang berada di samping ranjang karena tadi selintas ia melihat ponsel kerja bos nya tergeletak di atas meja itu.
Dan akhirnya tangannya dapat menyentuh benda yang diinginkannya, ia langsung melihat ponsel itu dan untung saja tidak di pasword. Ia langsung memijit tanda telpon berwarna hijau untuk melihat panggikan terakhirnya.
Dan tepat sekali, panggilan terakhir nya tertera nama Jo. Davina langsung memanggilnya.
tut...tut...tut...tut...
Panggilan belum juga diangkat. Davina coba berkali- kali, namun tetap saja tidak diangkat pak Jo. "Dasar pengawal sial*n!, kemana sih dia?" gerutu davina putus asa.
Nampak, gairah bos nya sudah benar- benar mencapai puncaknya, ia seolah tidak bisa dikendalikan lagi, Davina kalah tenaga.
Setengah berteriak Davina berkata: Paaak!.. sadar pak... sadar....!" sambil meronta-ronta ingin melepaskan diri.
"Ma...af kan....a....ku, ta...ta...pi, a...ku... benar-benar... ti...dak... bi...sa.... me..nahan...nya...lagi.. to...long...aku" kata Radhitya mengiba sambil terus melancarkan aksinya. Davina putus asa.
__ADS_1
bersambung
like n komen nya ya say....❤