
"Bang, waktu itu saya kedatangan seorang pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan pemuda itu. Namun sayang saya lupa menanyakan namanya" kata bu Karsih.
"Nak Jo maksudnya?, Kamu ketemu dia dimana?" kata pak Ba sambil melirik kearah pak Jo dan Radithya yang sedang asyik mengobrol.
"Justru itu saya tidak tahu namanya, yang jelas saat itu ia mampir ke warungku yang katanya sedang ada urusan mencari saudaranya." Sejenak bu Karsih diam, pandangannya menerawang seolah ia sedang mengingat-ingat sesuatu. Lalu kembali ia berkata :
"Karena saya tertarik dengan sikapnya yang sopan dan terlihat bukan orang sembarangan, terus saya iseng mencoba menjodohkannya dengan Ayu anak saya. Namun....." Kembali ia menghentikan kalimatnya, ada nampak kegetiran di raut wajahnya yang sudah nampak menua. Dengan suara pelan, lalu ia berkata:
"Namun ia menolaknya secara halus dengan dalih ia sudah memiliki calon pendamping, dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Saya sangat kecewa saat itu, terlebih ketika melihat anak saya terlanjur jatuh cinta padanya". katanya seraya mengusap air matanya yang terlanjur menetes. Lalu kembali ia meneruskan ceritanya.
"Dari situlah, tanpa pikir panjang saya berniat untuk membuatnya bisa jatuh cinta sama si Ayu dengan mendatangi seorang dukun ahli yang katanya ilmunya sangat tinggi dan baru saja mengadakan launching kesaktian ilmu Phelet Penarik Cinta yang sudah terkenal keampuhannya!". kata bu Karsih dengan suara sedikit terbata-bata.
Tenggorokannya seakan tercekik manakala harus menceritakan kembali perbuatannya yang pada akhirnya membuat ia dan anaknya merasa hidupnya tidak tenang.
Ia benar-benar menyesal telah bersekutu dengan mbah Hugell dan rekan-rekan gaibnya.
Pak Ba yang mendengarkan hampir tak bisa bernafas saking syok nya mendengar cerita bu Karsih yang telah berani mengambil keputusan untuk bersekutu dengan makhluk ghaib hanya demi mewujudkan keinginannya. Lalu pak Ba berkata:
"Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, kok kamu berani-beraninya bertindak gegabah seperti itu!!. Apakah kamu tahu kalau bersekutu dengan makhluk-makhluk seperti itu sangat beresiko?, bahkan nyawa taruhannya!" kata pak Ba dengan raut muka penuh kekecewaan serta kekhawatiran yang bercampur menjadi satu, dan ia sangat khawatir jika apa yang di takutkan nya akan terjadi pada bu Karsih dan anaknya.
Bu Karsih nampak sangat ketakutan. Ia benar-benar menyesal dan mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena kecerobohannya itu.
------------xxxx--------------
Birunya langit kian memudar berganti pesona jingga di ufuk barat, terlukis indah mahakarya sang Pencipta penguasa alam semesta.
Di sebuah ruangan khusus pasien inap, nampak Selamet dan asistennya sedang memeriksa keadaan Ayu yang masih tertidur pulas setelah diberikan obat oleh pak Ba.
Selamet yang dari tadi memandang lekat wajah Ayu merasa ada kemiripan antara Ayu dengan Davina, hanya saja Ayu berambut ikal panjang dan berkulit hitam manis, sementara Davina memiliki kulit yang putih bersih dan berambut lurus.
"Kenapa ia begitu mirip Davina ya?!, hanya saja ia lebih kurus" batin Selamet sambil terus menatap Ayu yang masih tertidur.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuyarkan lamunannya.
"Bagaimana keadaannya sekarang, apa dia baik-baik saja?!" tanya seorang perempuan yang ternyata ia adalah bu Karsih.
__ADS_1
"Ia baik-baik saja bu, namun sepertinya belum bisa diajak berbicara." kata Selamet sambil melirik kearah bu Karsih yang nampak sangat khawatir.
Ibu Karsih terlihat diam, raut wajahnya nampak begitu cemas. Tak terasa air matanya mengalir tak terbendung lagi, ia benar-benar menyesal karena telah membuat anaknya menjadi seperti ini.
Melihat kesedihan bu Karsih, Selamet merasa iba. Lalu ia menghampirinya seraya berkata:
"InsyaAllah anak ibu akan baik-baik saja, jadi tidak usah khawatir. Kami disini akan berusaha mengobatinya semaksimal mungkin!" sambil tersenyum memandang bu Karsih.
"Terimakasih nak!, kalau boleh tahu kamu sudah lama kerja disini?" tanya bu Karsih sambil menatap kearah Selamet yang duduk di depannya.
"Pak Ba adalah ayah saya!" sambil tersenyum Selamet menjawab. (kali ini Selamet nampak kharismatik dan cool abiiizz yaaa😄).
"Ooooh maaf, ibu pikir kamu adalah pegawainya disini!" kata bu Karsih sambil menatap lekat wajah tampan Selamet yang berada di depannya, dan Selamet pun hanya tersenyum tanpa berkata sepatah katapun.
"Ternyata si abang Ba punya anak lelaki toh, hmmmm.... ganteng juga, sepertinya cocok juga buat anakku heeee..., tapi bagaimana dengan perasaanku padanya?, sejujurnya sampai sekarang aku belum bisa melupakannya. Bahkan sampai sekarangpun rasa itu masih tetap ada... tapiii... lebih baik aku mengalah saja demi anakku Ayu, mudah-mudahan dia memang jodoh anakku! " batin Bu karsih penuh harap yang nampak dari wajahnya yang berbinar.
Tiba-tiba seorang petugas klinik datang.
"Permisi Pak Selamet, anda di suruh bapak menemuinya di ruangannya!" seraya merundukkan kepalanya sopan.
"Baiklah, terimakasih!. Bu saya pamit keluar, ibu istirahatlah dulu. Disana ada tempat khusus istirahat keluarga pasien. Kalau ada perlu apa-apa, ibu bisa meminta bantuan petugas disini!. Mari bu saya tinggal dulu!" kata Selamet sopan sambil berlalu meninggalkan bu Karsih yang terkagum-kagum. (lagi-lagi, Selamet begitu mempesona membuat bu Karsih semakin menggebu untuk meminangnya menjadikannya menantu idaman untuk anaknya... 🤭).
(Di sebuah taman kecil di kediaman Pak Ba)
"Maksud bapak apa sih?, kenapa tadi bilang kita akan menikah?!, tidak lucu tahu pak bercandanya!!" kata Davina sinis seraya menatap tajam kearah bosnya. Kali ini ia tidak main-main dengan ucapannya, ia merasa guyonan bosnya tidak lucu bahkan sudah kelewat batas karena telah membuat statement sembarangan tanpa di pikir terlebih dahulu.
Radithya sesaat diam, lalu ia melirik kearah pak Jo yang hanya mengangkat bahu. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa karena tanpa disangka Davina telah menembaknya dengan pertanyaan yang jawabannya belum ia persiapkan terlebih dahulu.
Karena merasa kesal melihat bosnya yang hanya diam tak bergeming, lalu Davina bangkit dari tempat duduknya dan hendak beranjak pergi dari sana dengan wajah yang sedikit ditekuk. Namun dengan cepat Radithya mencegahnya sambil menahan lengan Davina lembut.
"Kamu mau kemana?, tunggu sebentar!!, saya belum menjelaskan apa-.apa, kamu sudah mau kabur saja!" ucap Radithya seraya menggerakkan badannya sedikit mendekati Davina.
Akhirnya Davina mengalah, ia duduk kembali tak seberapa jauh dari tempat duduk bosnya, sementara pak Jo yang dari tadi diam hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah tak biasa bosnya yang mendadak kehilangan taringnya.
"Ehem" suara dehaman Radithya memecah keheningan. Dengan mimik muka yang sengaja di cool-cool kan dia mencoba menarik kembali rasa segan dan hormat Davina kepadanya dan berharap marahnya Davina tidak berlanjut.
__ADS_1
"Saya berkata seperti itu tadi karena sayaaaa..." belum juga Radithya menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Selamet duduk diantara mereka dengan memasang wajah polos dan jutek yang dibentuk menjadi satu seperti biasanya.
"Ayoo... kenapa kamu diam?!, teruskan saja gombalan kamu itu, anggap saja aku tak ada!" kata Selamet dengan sinis nya sambil melirik kearah Radithya yang nampak kaget dengan kedatangan Selamet yang seperti jelangkung saja, datang secara tiba-tiba tanpa di undang.
Sejenak Radithya diam seolah sedang berfikir mengolah jawaban, berharap ia mendapatkan jawaban yang tepat untuk bisa mewakili dua pertanyaan yang datang secara bersamaan.
Tak lama, lalu ia pun berkata dengan sikap coolnya seperti biasa seolah ingin memperlihatkan bahwa ia memang pejantan tangguh... heee...(gak nyambung😁).
"Saya hanya ingin mengatakan kalau saya sangat mencintainya, jadi dia tidak usah khawatir kalau hati ini akan terbagi dengan perempuan lain!!," dan percayalah kalau saya akan selalu ada menjaga dan menyayanginya sampai maut memisahkan..!" sambil tersenyum ke arah Davina yang hampir tidak bisa bernafas saking syok nya mendengar penuturan bos nya yang semakin menjadi ke- lebay-an nya dimata Davina.
"Kenapa sayang, maaf yah mungkin kamu kaget karena selama ini saya terlalu sibuk sehingga jarang mengungkapkan kata-kata cinta lagi padamu, tapi percayalah sayang, perasaan ini tidak berubah sedikitpun, tanpa aku ungkapkan pun seharusnya kamu sadar, bahwa rasa ini akan selalu ada dan tumbuh subur menjadi benih-benih cinta yang akan selalu berkembang menjadi sebuah kuntum bunga indah yang akan selalu di nikmati keindahannya olehmu, tanpa mengenal batas dan waktu, ia akan terus tumbuh subur dalam hatiku, bahkan semakin bertambah level sayang dan cintanya sama kamu."
kembali kalimat gombal meluncur bebas tanpa batas terucap dari bibir bosnya, sepertinya ia memang telah salah minum vitamin atau entahlah, yang jelas fix membuat penghuni ruangan itu ingin muntah saja mendengar gombalan ngacapruk kamana karep itu. (ngacapruk kamana karep artinya ngelantur kemana-mana.. 😁. red.)
Pak Jo hanya bisa cengar-cengir sendiri tanpa berselera memberikan komentar. Ia sudah mengerti maksud semua gombalan bos nya hanya karena ada Selamet saja disana. Ia hanya ingin memanas-manasi nya agar Selamet bisa membuka hatinya untuk tidak terus menerus mengharapkan Davina.
Telinga Selamet terasa panas mendengar kalimat-kalimat gombal yang di lontarkan Radithya. Mulutnya terasa mati rasa sehingga otak dan bibirnya tidak lagi sinkron untuk bisa mencecar Radithya dengan kalimat-kalimat pedas yang biasa ia lontarkan.
Kali ini ia mati kutu, sehingga hanya tubuhnya lah yang bereaksi dengan beranjak pergi tanpa berkata sepatah katapun.
Hatinya terasa sakit, dadanya begitu sesak mengingat gadis impiannya sejak dulu kini telah dimiliki oleh orang lain. Ia merasa telah sia-sia saja penantiannya selama ini. Tanpa terasa air matanya mengalir. (duh si Selamet pink amat yaa hatinya...🤭).
Ketiga trio kwek-kwok hanya bisa diam sambil melihat punggung Selamet yang semakin menjauh. Sejujurnya ada perasaan sedih yang menyelimuti hati mereka bertiga, namun mau bagaimana lagi, sepertinya itu jalan satu-satunya agar Selamet tidak terus mengejar Davina dan mau belajar membuka hatinya untuk perempuan lain. Sangat kompak, kali ini mereka berfikir sama!.
--------------××××--‐-------‐‐‐-
(Masih di kediaman pak Ba, tepatnya di paviliun rumah)
Nampak pak Ba, bu Karsih dan Ayu sedang duduk bertiga. Mereka terlihat asyik mengobrol kecuali Ayu yang nampak masih lemas dan hanya menjadi pendengar setianya mereka yang tengah reunian, mengulas kisah cinta yang sempat tertunda dengan malu-malu.
"Karsih, bagaimana kabarmu sekarang. Apa kamu masih bersama suami kamu yang dulu. Maaf, baru sekarang saya tanyakan itu!" kata pak Ba mengawali obrolan.
Sejenak bu Karsih diam, sambil menatap lekat wajah lelaki yang selama ini diam-diam dirindukannya, kini ia telah nampak menua sama dengan dirinya, namun guratan ketampanannya masih terukir di wajahnya.
"Sudah hampir lima tahun ia meninggal dunia karena kecelakaan." sejenak ia diam sambil menghela nafas perlahan, lalu ia kembali melanjutkan kisahnya :
__ADS_1
"Awalnya ia sangat baik dan tulus mencintaiku walau ia sangat tahu kalau aku tidak mencintainya. Namun dengan kesabaran dan cintanya yang begitu besar akhirnya hatiku mulai luluh. Disitulah aku mulai belajar membuka hatiku untuknya!" dengan lirih bu Karsih bercerita, sesekali ia melirik kearah pak Ba yang hanya diam mendengarkan kisah sang pujaan hatinya.
bersambung