Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Berendam Aromaterapi


__ADS_3

Tiba-tiba Davina berhenti, ia ragu untuk melanjutkan langkahnya mendekati pria itu.


"Pak Radith!!! batin davina kaget. "waah gawat ini!!, alamat makan sore omelan ini mah!!". batin Davina dalam hati dan heran kenapa bos nya bisa ada disana dan seperti hendak menginap di hotel itu.


Namun keberaniannya mengalahkan rasa takutnya, perlahan ia berjalan mendekati bosnya.


"Ma...maaf pak!, saya tadi tidak sengaja telah melempar bapak dengan bunga itu daaan..., kenapa ponsel saya jadi ikut-ikutan kelempar juga ya?!.... ( sambil garuk-garuk kepala heran ) "sekali lagi maaf ya pak, saya benar-benar tidak sengaja.... bapak ada yang sakit atau yang luka barangkali?!" kata Davina sambil meneliti kepala, tangan sampai kaki bosnya.


"Sudah-sudah, saya tidak apa-apa!!, untung saja ponsel kamunya hanya sedikit menyerempet kepalaku. Sudah kamu tenang saja!" katanya sambil tersenyum.


"Kok dia mendadak manis begini si??... fix ini mah dia lagi ada maunya, makanya baik-baikin aku dulu supaya aku mau dijadikan istrinya.. yakin lah itu tujuannya.. huh dasar!!!.., giliran ada maunya saja! ia baik-baikin aku, jelas-jelas tadi terdengar dia mengaduh keras.. kenapa dia bilang tidak apa-apa?, apa dia mulai jatuh cinta sama aku kali yah?!.... iiiiihh mikir apa sih aku ini!" batin Davina berontak.


"Benar bapak tidak apa-apa?" Davina meyakinkan sambil menatap bosnya lekat. Nampak ada sedikit yang berbeda di wajah bos nya yang baru Davina sadari.


"Kenapa wajahnya sedikit pucat si?!, apa mungkin efek karena penyakit anehnya itu sehingga ia menjadi kurang tidur?, kasihan sekali kamu paak!..paak!" kata Davina merasa iba dengan kondisi bosnya yang semakin kurus dan pucat seperti itu.


"Aku masuk dulu yaa!, " katanya sambil tersenyum ramah.


"Oh..eh..i..iya..iya... Bapak menginap disini?" tanya Davina heran.


"Mungkin ia ingin menghindari hal-hal yang tidak di inginkan barangkali, jika tiba-tiba penyakitnya itu datang lagi, dan mungkin ia tidak ingin menyusahkan aku dan pak Jo lagi, jadi ia mau menghadapi penyakitnya sendiri tanpa menyusahkan lagi orang lain"


Tiba-tiba Davina merasa terharu melihat kondisi pak Radith yang nampak sudah tidak memiliki gairah hidup lagi. Ia sedih dengan nasib bosnya itu, tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.


Melihat Davina menangis, lelaki itu langsung memegang bahu Davina sambil berkata:

__ADS_1


"Kamu kenapa menangis?, sudahlah.. kan tadi sudah aku bilang.. aku tidak apa-apa." sambil menghapus air mata Davina dengan lembut.


Diperlakukan seperti itu bukannya Davina berhenti menangis, ia malah semakin kencang menangisnya membuat lelaki itu heran.


"huuu..huuu.. huuu... pak!... bapak... sehat te..terus... yaaa... huhuuu... ka..kalau... me..memang..i..itu.. jalan.. ter.. terbaik un..untuk..ba..bapak,, sa..saya bersedia..menikah deng..dengan huhuuu.... bapak...huhuuu"


katanya dengan tersendat-sendat Davina mengutarakan isi hatinya sambil di iringi tangisan yang semakin kencang.


"Hei..hei..hei.. kamu kenapa?, jangan lebay begitu doong nangisnya.. tuh lihat!, malu banyak yang lihat. Tar disangkanya aku sudah apa-apain kamu!" katanya lembut sambil menepuk-nepuk bahu Davina.


Davina semakin heran, kok bisa-bisanya si bos berubah 360° menjadi selembut itu. Padahal dulu sebelum ia menderita penyakit langka, mana bisa ia bicara selembut itu. Yang pasti jika itu bisa dilakukan. karena ada udang dibalik batu tentunya, fikir Davina.


Davina kini terlihat sedikit tenang, lalu ia memandang lekat wajah bos nya yang masih asyik mengecek barang-barang bawaannya.


Terlihat ada sebuah easel (papan untuk menjepit kanvas yang memiliki kaki dan berdiri agak miring ) serta peralatan melukis lainnya. Davina merasa heran karena setahunya si bos tak pernah menyuruhnya untuk membawakan alat-alat melukis. Lagipula bos nya juga tidak memiliki ciri-ciri bisa melukis kayanya. Davina semakin heran.


"Hmmmm"... hanya kata itu yang terucap di bibirnya.


"Ahh... ternyata masih belum bisa berubah seutuhnya, masih saja suka menjawab dengan jawaban teka-teki" batin Davina.


"Saya pamit masuk dulu ya, kalau kamu merasa penasaran dengan saya, kamu boleh datang kemari." katanya sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Davina yang masih bengong.


"Kok masih penasaran sama saya!!! yang ada dia yang selalu penasaran sama saya hihihi.... dasar manusia aneh!!" kata Davina tersenyum geli.


------------xxxxx----------

__ADS_1


Davina berjalan menyusuri lorong kamar hotelnya, fikirannya masih melayang ke lelaki yang menjadi cinta pertamanya dulu.. Untung.


"Kenapa harus dipertemukan lagi sih kalau pada akhirnya hatiku harus sakit begini!.. mana sama istrinya mesra banget lagi, sampe soal bunga dan suasana di kamarnya pun kena bahas juga, bikin ilfill saja!!" gerutu Davina.


Tanpa terasa Davina telah sampai di depan pintu kamarnya, lalu ia masuk kedalamnya.


"Aaaahhh.... hari ini benar-benar melelahkan.. sepertinya berendam asyik juga tuh buat me'relax' in otot dan otak yang terasa penat ini." gumam Davina.


Davina berjalan kearah kamar mandi dan langsung mengisi bathtub dengan air hangat yang telah di tetesi dengan Lavender Essential Oil, untuk menambah keharuman dan kesegaran tubuhnya.


Setelah membuka seluruh pakaian nya dan menggantinya dengan kain berendam, lalu ia pun masuk kedalam bathtub.


Ia sengaja menenggelamkan seluruh tubuhnya sampai pucuk kepalanya pun tak terlihat. Ia rasakan sensasi air hangat aromaterapi menjalar keseluruh tubuhnya membuat seluruh tubuh dan fikirannya menjadi rilex.


Dulu ia sering melakukannya di bak mandi kamar mandinya dulu, yang airnya ia sengaja campur dengan shampoo milik ibunya yang aromanya seperti buah strawbery sehingga membuat air itu menjadi berbusa banyak.


Namun efek dari berendam itu bukannya menyegarkan melainkan ia mendapat satu cepretan sapu lidi dari ibunya yang kesal dengan kelakuan anaknya yang menghabiskan 1 botol sampo strawbery miliknya yang harganya lumayan mahal menurutnya, karena ia membelinya secara kredit dari si Syantix, (yang dicicil tiap hari Rp.500), mana belum lunas lagi... ehh malah habis di pakai berendam si Davina... kezel kan si mama?!...


Tok... tok... tok... tok...tok...tok...


Terdengar berkali-kali suara pintu diketuk dari luar. Karena belum ada jawaban juga, terlihat gagang pintu kamar Davina bergerak dan seperti hendak terbuka.


Terlihat seorang laki-laki masuk kedalam kamar Davina dengan mengendap-ngendap. Siapakah gerangan...???!!


bersambung

__ADS_1


like dan komennya yaaa. 😘😘🙏🏻🙏🏻


__ADS_2