
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah pertokoan elit. Nampak Davina duduk dengan pendangan menebar kemana-mana. Tiba di sebuah pelataran parkir yang luas, akhirnya merekapun turun.
"Nona, pusat pertokoan barang-barang yang nona butuhkan tepat berada di sisi sebelah kanan gedung elektronik itu, kalau ada apa-apa, hubungi saya saja. Saya akan setia menunggu disini!".
Kata sopir itu sambil tersenyum penuh makna, ada guratan aneh yang menyeruak dibibir lelaki itu yang membuat Davina sedikit sebal.
"Ya saya tahu anda mau cuci tangan kan, biar nanti jika saya ada kesalahan, saya sendiri yang akan jadi tumbalnya, dan anda sendiri tinggal kabur aja... iya kan...iya kan! Huh dasar pengecut!"
Gerutu Davina seolah bisa menebak apa yang di fikirkan sang sopir. Sambil berlalu menyeret kakinya yang terasa berat.
"Kalau saja belanja ini bisa bebas beli apa saja yang aku mau tanpa banyak aturan, pasti ini akan sangat menyenangkan...huh!" Cerocos hati Davina.
"Nona, selamat bersenang-senang yah. Jangan lupa semua bukti pembayarannya harus ada, karena pasti nanti itu akan ditanyakan oleh Tuan Radith, dan awas! Jangan sampai ada yang terlewat yah!" Berkata sambil tersenyum.
Sambil berlalu Davina melirik sinis pria itu, dengan sedikit gumaman kecil ia berkata:
"Bodo amat! Masa iya sih kalau ada yang kelewat gak kebeli harus balik lagi kemari, jangan dibikin ribet lah, mikirin hidup saja udah susah, ini lagi pake harus ditambahin belanja keperluan diluar nalar seabreg gitu...ahhh bikin pusing saja!" Dengan ketus Davina pergi berlalu meninggalkan sopir itu yang sedari tadi senyam-senyum sendiri yang membuat Davina semakin keki saja.
__ADS_1
Masuk ke salah satu toko khusus pakaian kerja wanita, Davina merasa kebingungan harus memilih yang mana, sampai datanglah seorang pramuniaga toko. Dengan ramahnya ia menyapa Davina. " Nona mencari sesuatu, apa ada yang bisa saya bantu?" Sambil tersenyum ramah ia menyapa Daina.
"Eh..iya...iya..., saya mencari baju yang paling bagus dan cocok untuk seorang asisten pribadi perempuan sekaligus sopir pribadi seorang bos aneh, dan ini daftar baju-baju dan perlengkapan lain yang harus dibeli, tolong dibantu yah, mudah-mudahan semuanya bisa ada disini jadi saya tidak usah nyari-nyari ke toko lain." Kata Davina sambil menyodorkan buku note kecil ke pramuniaga itu yang nampak agak kebingungan.
"Nah lho, bingung kan? Akhirnyaaa... lumayan lega juga bisa berbagi kebingungan heee." Bisik hati Davina senang.
Mendengar pernyataan Davina yang sedikit aneh menurutnya, namun nampak pramuniaga itu berusaha menutupi kebingungannya dengan tersenyum sambil meraih buku note kecil itu, perlahan ia membacanya.
Ada sedikit gurat keheranan dan ketidak percayaan di sorot matanya ketika melihat seluruh daftar barang yang harus dibeli Davina. Sambil melirik sejenak kearah Davina, ia kembali berusaha mencerna seluruh ucapan Davina tadi dengan menyingkronkan daftar belanja yang harus dibelinya, namun sangat jelas nampak ia kebingungan harus memulai darimana.
"Baik, nona! Sepertinya saya hanya bisa bantu untuk keperluan pakaian saja, karena untuk sepatu, kacamata, komputer, handphone dan alat tulis, maaf disini kami tidak menyediakan. Jadi, nona bisa mencarinya di tempat lain!"
Sebenarnya Davina pun sudah menduganya, hanya saja ia sengaja ingin berbagi sedikit kejengkelannya dan melihat reaksi dari pramuniaga, itu saja.
"Untung saja saya tidak sekalian minta pesen nasi Padang aja yah, hahaha..." kata Davina diselingi ketawa getir yang di respon dengan dingin oleh pramuniaga itu. Davina melihatnya langsung diam.
"Oh iya, kami pun membutuhkan nona untuk mencoba satu persatu pakaian yang nanti akan dibeli, cocok tidaknya dengan selera nona" kata pramuniaga itu sopan.
__ADS_1
"Hah..apa!....jadi aku harus mencoba nya satu persatu pakaian itu?" Sambil tepuk jidat Davina merasa stress sendiri. Belum apa-apa ia sudah membayangkan ada berapa puluh baju yang harus ia coba, belum lagi sepatu dan yang lainnya, mana tas sama sepatunya juga harus matching dengan pakaian yang dibelinya.... "aaaah merepotkan saja"... itu membuat Davina pusing sendiri.
Davina tertegun sejenak sambil garuk-garuk kepala, namun tak lama berselang terlihat senyuman terpaksa terlintas di bibirnya.
" iya gak apa-apa, mbak. Terimakasih atas bantuannya!" Kata Davina ramah.
Klik....klik...klik..........kliklikliklikliklik.....21.635 detik berlalu.
Jarum jam berputar hampir enam jam lebih, akhirnya Davina bisa menyelesaikan misi belanjanya, ia nampak lusuh karena harus keluar masuk pertokoan dengan mencoba satu persatu barang yang akan dibelinya.
Melihat Davina yang menghampirinya dengan tampang yang kusut, sang sopir hanya bisa senyum dikulum karena ia sudah bisa menebaknya akan seperti apa jika Davina sudah keluar dari pertokoan, dan ternyata prediksinya sangat tepat, Davina keluar dengan penampilan kusut bak cucian baju yang habis diperas. Sangat kusut... heee.
Dengan dibantu empat orang pramuniaga dan dua orang kemanan sepertinya, Davina berjalan menuju area parkir mobil di ikuti keempat pria yang membantunya membawakan barang-barang yang dibelinya.
Sang sopir langsung membantu membawakan barang-barang itu dan memasukannya sebagian ke bagasi mobil. Tak terbayang sedikitpun dalan benak Davina bisa membeli pakaian sebegitu banyaknya. Ia hanya bisa menghela nafas dan menghembuskannya kasar untuk mengusir sedikit penat dalam otak dan tubuhnya.
Ia sandarkan tubuhnya di jok mobil, rasa nyaman menyeliara di tubuh Davina yang letih, hingga tidak sampai sepuluh menit fikirannya telah jauh melayang ke alam mimpi.
__ADS_1
BERSAMBUNG
---) mohon dukungannya yah kak, komen like nya saya tunggu. hatur nuhun😍🙏😘