Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Dinner 2


__ADS_3

Davina mencoba berkali-kali menghubungi bosnya, ia benar-benar tidak ingat gaun mana yang diberi bosnya tadi.


"Huuh, giliran dia yang nelpon harus cepat-cepat diangkat, lah giliran aku yang nelpon... sejuta kali panggilan gak di angkat-angkat juga. Bodo amat lah, sekarang aku pilih gaun ini saja"


Sedikit kesal Davina melempar gaun yang berwarna pink dan meraih gaun yang berwarna biru muda yang nampak tidak terlalu panjang dan ribet, ya walaupun gaun itu tanpa lengan dan sedikit ada transparan-transparannya dibagian atasnya, namun sepertinya terlihat lebih nyaman untuk dipakai, fikir Davina.


Sebenarnya model-model gaun seperti itu kurang disukai Davina mengingat karakternya yang sedikit tomboy dan memiliki sifat anti ribet.


Gaun yang dipilih Davina nampak cantik dan elegan, tidak terlalu panjang dengan model gaun tanpa lengan, berwarna biru muda dan dilengkapi dengan sepatu high heel yang senada dengan warna gaunnya menambah cantik bagi siapapun yang memakainya.


Terdengar suara ketukan pintu tiga kali. "masuk!" kata Davina ketika dia tahu siapa kedua orang itu. Mereka ditugasi Radithya untuk mendandani Davina untuk acara nanti malam.


"Nona, Bapak Radithya menyuruh kami untuk mendandani anda secantik mungkin. Bagaimana kalau kita mulai saja, soalnya beliau setengah jam lagi menunggu nona dibawah" katanya sopan.


"Iya baiklah" jawab Davina.


Kemudian merekapun mulai merias dan mendandani Davina yang memang sudah memiliki kecantikan alami, sehingga dengan sedikit polesan saja ia sudah nampak sangat cantik, ditambah dengan memakai gaun biru muda itu menambah kecantikan yang dimiliki Davina.


"Nona sekarang sudah siap, anda terlihat sangàt cantik sekali dan cocok dengan gaun yang dikenakan itu" puji perempuan itu sambil tersenyum puas.


"Terimakasih" pelan Davina menjawab, ia seolah tidak percaya ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Sosok yang ada dihadapannya sangat berbeda dengan penampilan kesehariannya yang sederhana.


----------××××------------

__ADS_1


tok.... tok.....tok...


Pintu dibuka, nampak seorang pelayan hotel membawakan sebuah kotak kecil berbentuk hati.


"Nona, ini ada bingkisan lagi dari seseorang, kebetulan dia tidak menyebutkan namanya, dan hanya memberikan kartu nama ini. Mohon diterima" kemudian pelayan hotel itu pamit pergi.


Davina kembali bingung, dalam sehari dia menerima tiga buah pemberian paket dari orang yang berbeda.


Perlahan ia membukanya, sebuah kalung cantik berbentuk hati berinisial D. Dan di kartu namanya tertulis jelas ALFACHRI SURYADIREZA, Manajer Personalia Panorama Hotel & Resort.


"Pasti kamu nanti malam akan datang kan? , mohon di pakai hadiah kecil ini sebagai tanda awal pertemanan kita. Nanti malam saya akan mendatangi mejamu." (FACHRI)


"Siapa lagi ini, apa aku harus memakainya juga?" Ia hanya memandangi kalung cantik itu tanpa berani memakainya.


"Saya diperintahkan oleh bapak Radithya untuk memberitahukan nona agar secepatnya turun dan menemui bapak Radithya. Mari Nona!" kata pelayan itu ramah sambil melirik kalung yang masih di pegang Davina.


"Mari saya bantu memakaikannya nona" sambil mengambil kalung itu dan langsung memakaikan nya di leher jenjang Davina.


"Waaah, cantik sekali nona. Mari kita turun kebawah!", kembali pelayan itu mengajak Davina yang masih terlihat bingung. Davina hanya mengangguk pelan.


--------------×××××-----------'


Suara deburan ombak dan semilir angin menambah keindahan suasana malam itu. Bintang-bintang kecil bertaburan menghiasi langit malam menambah kekaguman akan Kebesaran Tuhan.

__ADS_1


Davina yang tengah duduk sendiri di mejanya nampak sedang memainkan ponselnya. Entah siapa yang ia tunggu, yang jelas saat itu ia hanya ingin menikmati keindahan makan malam sendirian di bibir pantai yang indah.


Pandangannya ia tebarkan ke arah para penghuni tempat itu. Ada banyak aktifitas yang mereka lakukan karena memang acaranya belum dimulai.


Tiba-tiba kedua netranya bertemu pandang dengan seorang lelaki tampan berjas putih yang sedang memandanginya sambil melemparkan senyumannya yang menawan dari kejauhan. Davina sedikit salah tingkah, hatinya sedikit berdebar.


"Pak Radith kemana ya?, katanya saya harus cepat-cepat menemuinya di meja 39. Eh dia nya malah gak ada, aku hubungi aja apa ya?" gumam Davina dalam hati.


Dan belum saja Davina menghubungi bos nya, tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya.


"Maaf menunggu lama, Nona sangat cantik sekali dengan gaun itu, ternyata saya tidak salah pilih." puji laki-laki itu sambil menyunggingkan senyumannya. Ternyata lelaki itu adalah orang yang tadi siang minta nomer ponselnya yang nampak genit.


"Boleh saya duduk?" pinta lelaki itu ramah. Davina hanya bengong tanpa bereaksi apapun. Otaknya langsung berfikir keras, dia baru sadar kalau gaun yang dipakainya sekarang adalah pemberian dari laki-laki yang ada dihadapannya itu, dan bukan dari bos nya.


"Aduuuuh, bagaimana ini. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini dan ganti pakaian sebelum si bos songong itu datang. Bisa berabe nanti" Kata Davina dalam hati.


Secepat kilat otaknya berfikir keras mencari jalan agar bisa pergi dari sana tanpa menyinggung perasaan lelaki yang ada di hadapannya itu. Karena bagaimanapun juga, lelaki itu adalah rekan bisnis dari bosnya juga, yang tentunya merupakan orang yang berpengaruh. Davina harus menghormatinya.


Tring... (Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya)


bersambung


like komen nya yah jangan lupa... 😘😘🙏🏻

__ADS_1



__ADS_2