Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Keputusan Davina 1


__ADS_3

"Kemana si dia, masa iya jam segini belum pulang juga.!, di telepon malah ga aktif ponselnya. Tapi kenapa pintunya gak dikunci yaa..?" tanya Radithya dalam hati sambil melirik ke arah kamar yang pintunya terbuka yang juga nampak kosong.


"Jangan-jangan Davina marah apa yah, gara-gara omongan aku kemarin soal niat aku untuk menikahinya. Tapi kenapa harus marah?, kalau memang gak mau tinggal ngomong saja langsung apa susahnya sih!!, aku juga gak akan maksa!, dari pada seperti ini pake acara menghindar-menghindaran segala." gerutu Radithya sambil melangkah keluar kamar. Namun tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi terbuka. Daann...


"Aaahhh... siapa kamu??!,, ehh...pak Radith...ngapain disini!!" kata Davina kaget dan setengah berteriak, ia cepat-cepat menutup dada serta tubuhnya yang lain dengan telapak tangannya yang sepertinya percuma saja ia lakukan karena tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya karena memang handuknya kecil dan pendek, dengan rambut basah yang terurai sembarang menambah kecantikan alami yang di miliki Davina saat itu.


Radithya yang tadinya akan melangkah keluar langsung menghentikan langkahnya seketika manakala ia melihat pemandangan indah yang mengalahkan keindahan taman bunga dibelakang rumahnya, yang nampak jelas di depan matanya.


Sesaat mereka beradu pandang, tiba-tiba jantung Radithya berdetak kencang, tatapan matanya mendalam, keringat dingin nampak bercucuran, nafasnya sedikit memburu. Ia tampak gelisah.


Kembali gairah itu datang tanpa di undang, sekuat tenaga ia menahannya dengan sedikit menggigit bibirnya.


Melihat gelagat itu, Davina langsung mengerti. Dengan cepat ia meraih kimononya dan langsung menyambar pakaian bekas pakai kemarin yang masih menggantung di hanger. Kembali ia masuk kekamar mandi untuk memakai baju. Kali ini ia memakai baju yang tadi dipakai plus baju yang kemarin ia pakai juga, jadi dia memakai baju double sehingga ia nampak terlihat gemuk.


"Aku harus jaga-jaga. Kalau tidak bisa berbahaya ini!! kata Davina. "Ahhh... si*al.!! ponselku mati lagi, bagaimana aku bisa panggil pak Jo ini.?" kata Davina sambil berfikir.


Perlahan ia membuka pintu kamar mandi sedikit sambil mengintip kearah kamarnya, apakah bosnya masih disana atau tidak.


"Ahhh... bagaimana ini?, kalau aku keluar takutnya dia ngumpet dimanaaa gitu, udah gitu dia keluar menangkap aku disaat aku lagi lengah... hiii.... duh bagaimana ini??, masak aku harus diam terus disini sih?!" kata Davina dalam hati. Memberanikan diri ia membuka pintu perlahan. Nampak bos nya sudah tidak ada disana.

__ADS_1


Kemudian ia melanglah menuju kamarnya dengan mengendap, dan memang bos nya sudah tidak ada disana. Akhirnya ia bisa bernafas lega. Namun tiba-tiba ada terselip kekhawatiran dihati Davina, ia takut terjadi apa-apa sama bosnya.


"Si bos kemana ya, kalau kekamarnya pasti tidak mungkin soalnya kan ia sudah check out dari hotel ini. Apa ke kamar pak Jo kali yah? Lebih baik aku pastikan sekarang kekamarnya pak Jo!". kata Davina sambil keluar kamarnya.


----------xxxx--------


Sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan menuju kamar pak Jo, fikiran Davina terus melayang. Ia bingung dengan keputusan yang harus diambil nanti ketika ditanyai kesediaannya ia dijadikan istri oleh bosnya. Ia sangat bingung harus menjawab apa.


Disisi lain, ia benar-benar belum siap untuk menjadi seorang istri apalagi mendadak seperti itu, disamping ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun sama si bos. Bukankah suatu pernikahan itu bisa terjalin dengan baik adalah salah satunya dengan memiliki perasaan cinta? dan Davina sama sekali tidak memiliki rasa itu untuk Radithya.


Disisi lain ia iba melihat kondisi si bos yang semakin hari sepertinya semakin tersiksa, Davina bahkan sempat browsing soal dampak menahan libido terlalu lama salah satunya adalah akan menimbulkan stres dan bahkan depresi.


Tiba didepan pintu kamar pak Jo, Davina mengetuk pintu beberapa kali. Namun pintu tidak juga dibuka, sepertinya pak Jo memang sedang tidak ada di tempat.


"Kemana ya kira-kira pak Jo, lalu apakah si bos langsung pergi kekamarnya dalam keadaan seperti itu??, ah... tidak...tidak... aku harus cepat-cepat menemukan si bos!!" sambil setengah berlari menuju keluar.


Namun langkahnya langsung terhenti ketika ia selintas melihat seorang laki-laki tengah berdiri di sebuah batu karang yang besar sambil menghadap ke lautan luas. Setelah diteliti dan ternyata itu adalah bos nya. Davina sedikit lega, dan iapun menghampirinya.


"Pak!!... bapak baik-baik saja?" kata Davina pelan. Radithya menengoknya perlahan, namun kembali tatapannya ia alihkan lagi ke samudera luas.

__ADS_1


"Hmmmm...." seperti biasa hanya kata itu yang terlontar dari bibirnya jika ia mendapatkan pertanyaan yang jawabannya tidak terlalu penting baginya.


"Saya fikir bapak tadi ada di kamarnya pak Jo, namun tadi saya lihat sepertinya ia sedang tidak ada ditempat!, dan saya tidak tahu dia kemana!" kata Davina yang pandangannya sama mengikuti arah mata bosnya.. memandang lautan luas!


"Dia aku suruh ke suatu tempat untuk mencarikanku calon istri!" katanya dingin tanpa ekspresi apapun..


Deg!


Jantung Davina terasa mau copot mendengarnya. Ia berfikir mencari jodoh apalagi untuk dijadikan istri itu tidak segampang membalikkan telapak tangan, tidak semudah membeli gorengan di warung mak Izah. Harus benar-benar difikirkan bibit, bebet dan bobot serta karakter baik buruknya si calon pasangan, jangan asal tercatat menikah sah dan langsung bisa gituan saja. Hati Davina langsung protes.


"Kok bapak seceroboh itu sih?!, memangnya segampang itu cari pasangan hidup?. Pernikahan itu untuk seumur hidup lho pak, bukan untuk di buat main-main!. Saya tidak setuju kalau bapak menikah dengan sembarang orang yang belum tahu karakter dan sifatnya!!" kata Davina sewot yang dijawab dengan helaan nafas si bos.


"Ya aku tahu itu!, namun coba kamu fikir dan posisikan keadaanku ini berada di posisi kamu!!!, apa kamu masih bisa berfikir sejernih itu jika kondisi keadaan terus mendesak seperti ini!!, aku benar-benar tidak kuat lagi!!, jadi aku terpaksa harus melakukan pernikahan itu secepatnya sebelum aku benar-benar gi*la dengan penyakit sia**lan ini!!." Dengan mimik muka bersemu merah menandakan kemarahan dan keputus asaan.


Davina diam seolah sedang berfikir dan menimbang langkah yang harus ia ambil. Ia menatap lekat wajah sempurna yang dimiliki Radithya. Tanpa sadar tangannya menjulur meraih tangan bosnya yang masih asyik memandang hamparan lautan luas.


bersambung


like dan komennya yaaa..... hatur nuhun..🙏🏻🙏🏻🙏🏻😊😘

__ADS_1


__ADS_2