
Setelah dirasa cukup, akhirnya bu Karsih pulang membawa harapan baru untuk anak tercintanya. Langkahnya mantap di iringi tatapan berbunga-bunga dari sepasang netra mbah Hugell yang diam-diam mengagumi bu Karsih.
Tak lama ia masuk keruangan rahasianya, terdengar ia seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tak kasat mata, membuat siapapun yang melihatnya auto merinding melihatnya.
"Bagus kalau begitu, saya tunggu sekarang juga. Oiya, soal baju komprang dan kuota itu gak usah kamu beli, itu urusan intern saya!, cepat kerjakan sekarang dan ingat!, setelah beres kamu harus langsung pulang jangan seperti kemarin malah keluyuran dulu nongkrong di emoll, awas saja kalau di ulangi lagi!!, saya laporkan kamu nanti ke personalia perdedemitan.!" katanya mengancam. Yang langsung dijawab oleh sidia yang tak terlihat dengan melesat keluar sambil tertawa cekikikan riang gembira... "hiiii...hiii...hiii...."
----------back to Davinaaa........
Radithya sengaja menyetir sendiri, sementara Davina duduk di sampingnya. Dan pak yang hanya sebagai pelengkap, dengan anteng duduk manis dibelakang menyaksikan kedua sejoli itu yang nampak malu-malu sambil sesekali melempar senyum ketika pandangan mereka beradu, persis seperti anak abg yang baru mengenal kata cinta.
"Maaf kalau saya terpaksa menyeret kamu dengan masalah penyakit aneh yang saya alami ini!." kata Radithya memecah keheningan sambil melirik ke arah Davina.
"Saya tahu, kamu terpaksa menerima menjadi istri karena kasihan kan?, tapi sudahlah walaupun begitu saya sangat bersyukur atas semua pengorbananmu, dan saya janji akan membalasnya dengan memberikan apa yang kamu inginkan!" katanya serius, membuat Davina sedikit terharu.
"Jodoh, kematian, kebahagian dan kesedihan sudah merupakan jalan takdir yang telah ditentukan olehNYA, kita tak akan bisa menolaknya!!. Dan saya yakin ini pun merupakan takdir jodoh ku yang telah Tuhan atur untukku, saya tidak akan menyesalinya!, yaa walaupun jalannya harus seperti ini dulu.!" terang Davina panjang lebar sambil sesekali melempar senyum kearah Radithya. Terasa begitu sejuk terdengar di telinga Radithya saat itu, membuat dunia seakan begitu indah dan hanya milik mereka berdua.
Pak Jo mendengar penuturan keduanya hanya bisa senyum-senyum sendiri, walaupun dirinya dianggap sebagai pelengkap saja, tapi ia sudah cukup senang menjadi saksi keromantisan mereka berdua walaupun hanya lewat kata-kata.
"Vin, kapan aku bisa menemui ibumu?" tanya Radithya serius.
__ADS_1
"Terserah bapak bisanya kapan, saya akan selalu siap!" jawab Davina pelan namun terdengar nyaring di telinga Radithya. Matanya berbinar, kalau tak malu ia ingin sekali memeluk perempuan yang ada disampingnya itu saking bahagianya.
"Jo, kapan kira-kira kita bisa menemui ibunya?, tolong buatkan agenda khusus untuk acara ini ya!, dan siapkan segala sesuatunya!, kamu mengerti Jo!" kata Radithya semangat.
Lamaaaa tak ada jawaban, kompak Radithya dan Davina menengok kearah pak Jo yang duduk dibelakang mereka. Nampak pemandangan aneh, pak Jo duduk mematung dengan tatapan mata kosong. Ia sama sekali tak bergeming ketika ditanya berkali-kali oleh Davina dan Radithya, merekapun heran.
"Dia kenapa sih pak?!" tanya Davina heran.
Tiba-tiba tercium bunga semerbak yang menyengat didalam mobilnya, padahal saat itu kaca jendela mobil tertutup rapat.
" Wangi apa sih ini pak, kok menyengat sekali sih baunya?" kata Davina sambil menutupi hidungnya dengan tisu.
"Kita berhenti saja dulu disini ya, kita periksa dia dulu!, " kata Radithya merasa khawatir dengan sikap asistennya yang mendadak aneh itu. Davina hanya mengangguk.
Namun ada lagi satu keanehan, tiba-tiba saja stir mobil tidak bisa dikendalikan seolah ia berjalan sendiri, Radithya pun sampai kewalahan menahan stir mobilnya sendiri yang tiba-tiba bisa mengendalikan sendiri. Namun ia tetap berusaha tenang agar tidak menimbulkan kepanikan Davina. Ia tetap memegangi stirnya yang bergerak sendiri.
"Pak ini mau kemana?, bukannya ini jalan yang mau ke arah pedesaan yah?, bukannya kita mau ke pameran pasar minggu?!" tanya Davina heran.
Terlihat keringat bercucuran di kening Radithya, ia pun sangat heran kenapa mobil nya bisa berjalan sendiri seperti sedang ada yang mengendalikannya dan mengarah ke suatu tempat. Radithya mulai panik, ia takut sesuatu yang berbahaya akan terjadi pada mereka.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dalam hati sambil melirik ke arah Davina yang mulai mencurigainya.
"Pak!, kenapa? apa yang terjadi?" tanya Davina sedikit cemas karena melihat bosnya nampak gelisah.
Radithya diam tanpa menjawab sepatah katapun, dan semerbak wangi bunga itu semakin menyengat hidung. Radithya semakin panik. Akhirnya ia berkata jujur.
"Vin, mobil ini berjalan sendiri dan aku tidak bisa mengendalikannya, saya tidak tahu kenapa?!" katanya sambil melepas pegangan tangannya yang dari tadi hanya pura-pura menyetir. Dan benar saja mobilnya bisa berjalan sendiri tanpa diarahkan, membuat Davina tercengang.
"Ke..kenapa bisa seperti ini sih pak?" kata Davina sedikit ketakutan.
"Aku juga tidak tahu, Vin.!. Apa ini ada hubungannya dengan penyakit aneh aku ya?" kata Radithya berasumsi.
"Bisa jadi pak, soalnya kan kata Pak Ba juga penyakit bapak itu ada hubungannya dengan mistik. Tapi kenapa pak Jo tiba-tiba saja seperti itu?" kata Davina heran sambil melirik kearah pak Jo dengan posisi yang masih sama seperti tadi. Dia nampak sama persis seperti patung manekin, tak bergerak sama sekali.
Tiba-tiba Davina berfikir untuk menghubungi pak Ba.
"Saya harus telpon Pak Ba, siapa tahu dia bisa menolong kita!" kata Davina sambil mengambil ponselnya dari tas selempangnya untuk menghubungi pak Ba.
Bersambung
__ADS_1
like dan komennya yaaa🙏🏻🙏🏻😘