Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Aliran sesat


__ADS_3

Davina mencoba menghubungi pak Ba namun, sudah berkali-kali tidak di jawabnya, sepertinya ia sedang sibuk. Lalu ia mencoba menghubungi Selamet dengan harapan semoga saja ia bisa menjawab teleponnya.


Tak lama, telpon langsung dijawab Selamet.


Selamet :" Halooo Vina, apa khabar?. Kamu kangen kah sama saya?"


Davina :" Tidak baik, Met. Aku butuh bantuan bapak, apa dia ada?"


Selamet: " Kamu kenapa?, memangnya kamu dimana sekarang?"


Davina : "Ceritanya panjang, Met. Cepat tolong hubungkan aku ke bapak!, ini darurat!"


Selamet :" Tapi saya masih kangen sama suara kamu, saya jemput ya sekarang!, kamu dimana posisi?"


Davina : " Selameeeet!!!!... tolong sambungin ke bapaaaak, ini darurat Met... Selameeeettt.....!"


Davina :" o..i..iya...iya... tunggu sebentar yaaa!"


"Paaaaak!!!......paaaaak!!!! ini Davina mau ngomong sama bapaaaaak!" kata Selamet teriak sampai teriakkannya memekakkan telinga Davina. Tak lama terdengar suara pak Ba.


Pak Ba :" iya halo nak!, ada apa?"


Davina : " Pak, tolong saya! Ini sekarang saya lagi mengalami kejadian aneh!"


bla....bla...bla..... ( Davina menerangkan peristiwa yang sekarang menimpanya ke Pak Ba ).


Sesaat pak Ba diam, sepertinya ia sedang berfikir dan mencerna apa yang sedang dialami Davina dan Radithya.

__ADS_1


"Hugeeeeellll.... kenapa kamu berulah lagi!!!


Dengan geram pak Ba berkata, sorot matanya memerah, giginya gemeretak dengan tangan terkepal kuat. Lalu ia pergi masuk kekamarnya.


Davina :" halo... halo...halo pak!"


Tidak ada jawaban dari pak, namun telpon belum terputus sampai terdengar samar-samar dari arah sana, suara pak Ba yang seperti berdebat dengan seseorang, namun sayang Davina tidak dapat mendengar dengan jelas.


(Sura pak Ba...)


Pak Ba : "Kenapa kamu berulah lagi Hugell, tidak ada kapok-kapoknya kamu dengan kejadian yang menimpa istrimu!!, seharusnya kamu berfikir kenapa sampai istrimu meninggal secara misterius!, cepat kamu lepaskan ikatan rantai nerakamu yang menjerat mereka!, atau saya akan hancurkan kamu dari sini!!"


Mbah Hugell : " Hahaha... coba saja kalau kamu bisa, sekarang aku sama sekali tidak takut dengan gertakan kamu itu!. hahaha....!"


Tak membalas ocehan Mbah Hugell, pak Ba merasa itu sia-sia saja. Lalu ia duduk bersila dengan kedua telapak tangan menyatu didadanya. Matanya terpejam, sementara mulutnya komat-kamit.


"Hugell, ilmumu sudah benar-benar sesat!!. Kamu telah berani menggadaikan akidahmu hanya demi ketenaran!!. Kamu malah mau menjadi pelayan aliran sesat yang justru suatu saat akan mencelakaimu seperti yang terjadi ke istrimu dulu!".


Lalu ia kembali sadar dari lamunannya, ia teringat Davina yang masih menunggu jawabannya.


Pak Ba :" Vin.. kamu masih disana, nak!"


Davina :" Iya.. pak... ini saya masih disini. Mobil ini semakin kencang menuju ketempat yang jauh dari keramaian, seperti pedesaan pak!, mobil kami benar-benar tidak bisa dikendalikan. Ia berjalan sendiri. Tolong kami pak, apa yang harus kami lakukan?!"


Pak Ba :" Kamu tenang ya, nak! saya juga akan bantu dari sini!. Kamu bisa mengaji kan?, coba kamu bacakan surat surat yang kamu hafal sebisanya. Dan ingat!, fokuskan hati dan fikiran kamu hanya kepadaNYa. Jangan ada sedikitpun terselip rasa takut kepada makhluk selain kepadaNYA. Ingat ya, nak! Manusia jauh lebih sempurna dibandingkan makhlukNYA yang lain. Berserahlah padaNYA, mohon pertolongan padaNYA. Saya yakin kamu pasti bisa melawan pengaruh jahatnya. Saya bantu kamu dari sini! Semangat ya, nak!"


Davina diam sejenak mencerna setiap kalimat yang dilontarkan pak Ba sambil melirik ke arah Radithya yang juga sedang memandangnya.

__ADS_1


"Bagaimana katanya, Vin?" tanya Radithya.


Kita berdo'a saja pak, bapak bisa mengaji kan?" tanya Davina sambil tangannya langsung mengambil buku kecil yang terdapat surat-surat pendek dan do'a-do'a harian yang selalu ada di dalam tasnya.


Radithya diam, sejujurnya ia sama sekali tidak bisa membaca Al-Qur'an. Dulu ketika masih ada Bi Inah pengasuhnya sering ia diajarkan mengaji, tapi setelah bi Inah meninggal, kegiatan itu sudah lama tidak dilakukannya lagi. Dan kini ia sangat menyesal.


"Saya akan coba dalam hati!" katanya.


Lalu Davina membuka lembar demi lembar surat yang ada di dalam buku itu, perlahan ia memejamkan matanya memohon dengan tulus kepada Sang Pencipta, Yang Maha Menguasai alam dunia beserta seluruh isinya. Ia sangat yakin, hanya kepadaNYa lah ia berserah diri dan memohon pertolongan. Tak ada satupun kekuatanpun yang melebihi kekuatanNYA.


Ia kembali membuka matanya, perlahan dengan suara merdunya ia melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan khusyu. Radithya hanya bisa memandangnya dengan penuh kekaguman.


Tiba-tiba mobil berguncang hebat, udara didalam terasa panas dan seperti berasap. Bermacam-macam bebauan semakin menyengat, Pak Jo yang dari tadi hanya diam, ia kini nampak gelisah. Sorot matanya memerah tajam, bibirnya menganga dengan mengeluarkan desisan seperti ular. Namun tiba-tiba gesturnya berubah menjadi seperti seorang perempuan yang sedang menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa cekikikan, tak lama iapun berubah lagi seperti seekor singa yang menyeringai dengan kedua tangan seperti hendak menerkam Davina.


Namun dengan sigap Radithya menahan lengan Pak Jo yang hendak menyergap Davina dari arah belakang dengan ganas. Lalu Pak Jo menoleh ke arah nya dan hendak mencakar wajah Radithya, namun tiba-tiba tangan Davina mencekalnya sambil membacakan salah satu surat yang ada dalam Al-Qur'an.


Pak Jo berontak seraya menjerit seolah kesakitan, ia mencoba melepas cekalan Davina yang terus melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Lalu Davina berkata dengan suara yang tidak seperti biasanya.


"Aku mohon lepaskan cengkraman tangan kalian ke mobil ini, dan cepat kalian pergi dari sini. Jangan ganggu cucu-cucuku kalau kalian tidak mau menerima akibatnya. Cepat lepaskan dan pergi dari sini!!" kata Davina dengan suara yang terdengar aneh seperti suara seorang kakek-kakek.


Tak lama mobil berhenti dengan sendirinya di sebuah tebing yang sangat tinggi, mungkin jika Radithya tidak segera menginjak rem dan mengambil alih kemudi, pastilah mobil mereka akan terjun bebas kebawah sana yang terlihat begitu curam.


Suasana nampak hening, bebauan yang tadi sempat menyengat akhirnya menghilang tanpa bekas. Mobil yang mereka tumpangi kembali tenang, Davina dan Radithya saling pandang sambil menghela nafas panjang. Mereka seolah belum percaya dengan yang baru saja terjadi.


bersambung


like n komennya yaaa makasih🙏🏻😘

__ADS_1


__ADS_2