Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Aktifitas yang sama.... namun beda..


__ADS_3

Davina melangkah menyusuri lorong kamar hotel VVIP suite yang mewah, fikirannya berkecamuk antara pergi kesana atau tidak. Namun hati kecil nya mengatakan ia harus menolong bosnya, karena bagaimanapun juga ia sangat membutuhkan bantuannya. Segalak apapun bosnya, sebagai asistennya ia tetap harus membantunya walau dalam kondisi apapun.


Ia sudah tepat berada di depan pintu ketika pintu kamar terbuka, ternyata pak Jo sudah menunggunya dari tadi dan sudah tahu kalau Davina sudah berada di depan pintu. Setengah berbisik ia berkata:


"Pak Radithya kambuh lagi, bukannya apa-apa sih, tapi aku bingung kalau harus menghadapinya sendiri. Makanya aku panggil kamu biar kita bisa menolong dia sama-sama, terbukti kan kalau bersatu kita bisa mengatasinya kemarin?" katanya pelan bahkan setengah berbisik.


"Aaah... bilang saja takut digerayangi juga kalau menghadapinya sendiri, ya kan?" tanya Davina meledek yang dijawab dengan cengiran.


Davina mengangguk pelan, namun sejujurnya hatinya juga was-was. Ia sangat takut kalau pak Radithya memaksakan lagi ke dirinya. Pak Jo sangat maklum dengan diamnya Davina, kemudian ia mencoba menenangkannya.


"Kamu tenang saja, kalau dia ngapa-ngapain kamu, kita hajar saja bareng-bareng hehe.."


mencoba ngelawak walau terdengar garing.


"Dimana sekarang dia?" kata Davina. Belum juga dijawab pak Jo, terdengar panggilan pak Radithya memanggil.


"Joooooo..!, kamu dimana si? cepat kemari temani aku!" katanya setengah berteriak, untung saja ruangan itu kedap suara kalau tidak bisa heboh se erte erwe deh.


"Iya pak, saya datang!" reflek tangannya memegang tangan Davina dan manariknya agar ikut bersamanya ke kamar pak Radithya.


Terlihat Radithya telungkup diatas ranjangnya dengan bertelanjang dada, tangannya erat memeluk guling. Rambut terlihat acak-acak, mata memerah pokoknya sangat tak karuan penampilannya saat itu. Davina terlihat iba namun tak berani mendekat. Ia saling tatap dengan pak Jo dengan saling memberi isyarat agar duluan mendekat.

__ADS_1


Radithya menoleh kearah Davina, tatapan matanya sayu, nampak keringat mengembun di dahinya. Sepertinya ia sangat tersiksa dengan kondisi seperti itu. Davina benar-benar tidak tega melihatnya. Lalu ia memberanikan diri berkata:


"Saya akan siapkan air hangat agar bapak bisa berendam disana, mudah-mudahan bisa membantu membuat bapak lebih rileks!" katanya.


Radithya hanya menatap sayu tanpa menjawab, gejolak rasa yang menyeliara dalam dada ia coba tahan sekuat tenaga agar tidak melakukan kesalahan yang kedua kalinya.


Radithya bangkit dari ranjangnya, ia sudah tidak sabar lagi untuk berendam menenggelamkan tubuhnya yang terasa panas, kemudian pak Jo membantu memapahnya menuju kamar mandi, setelah sampai ia masuk kedalam bathtub dan langsung menenggelamkan Kepalanya sampai tubuhnya tak terlihat.


1 menit...2 menit...5 menit... 8 menit...10 menit.... Radithya belum juga muncul ke permukaan. Pak Jo dan Davina mulai khawatir, kemudian mereka mendekat.


"Pak!... pak Radith!... bapak baik-baik saja kan?" tanya pak Jo khawatir. Nampak Gelembung keluar dari dalam air. "Bapak... baik-baik saja kan?" Davina pun ikut memanggilnya karena cemas.


"Kamu mau ngapain hah?, tunggu saja disana jangan ikutan masuk, bikin risi saja!" katanya ketus. Lalu ia kembali menenggelamkan tubuhnya lagi.


Davina dan pak Jo saling lirik tanpa berkata apa-apa.


Hampir 1 jam lebih Radithya berendam, sepertinya ia sudah terlihat lebih tenang. Kemudian ia keluar dari bathtub dan pergi begitu saja meninggalkan kedua asisten setianya. Kembali mereka saling lirik tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka.


--------------xxxxxxx--------------


tik... tok...tik...tok...( suara detak jarum jam), waktu telah menunjukkan pukul 08.20 wib. Tanpa terasa merekapun kembali bangun kesiangan.

__ADS_1


Cahaya mentari pagi masuk lewat sela-sela tirai jendela, tidak berbeda jauh dengan kemarin, namun sedikit ada perubahan di posisi tidur. Kali ini pak Jo tidur di kursi kayu dekat lemari, sedangkan Dàvina tidur di sofa dekat jendela, agak jauh dari ranjang tempat Radithya tidur.


Dan seperti kemarin juga, Radithya bangun lebih dulu, setelah itu menyuruh asisten nya pak Jo untuk bersih-bersih dan membiarkan Davina masih tetap tidur di sofa ( "Kok bisa sama ya alur aktivitas nya seperti kemarin?, pasti tidak akan lama lagi Pak Jo datang, pesen makan terus ada dua pelayan yang masuk membawa makanan terus heran melihat Davina bisa tidur di sofa... hehe..").


Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan dari luar. Radithya yang memang sudah terlihat pulih nampak terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Masuk!" katanya sambil melirik kearah pintu yang perlahan terbuka. Ternyata dua orang pelayan yang membawakan sarapan, tidak lama Pak Jo pun datang dengan penampilan rapi seperti biasa.


"Ini sarapannya sudah kami siapkan, silahkan dinikmati!" katanya sopan seraya menundukkan kepala, kemudian mereka langsung pamit undur diri. Namun kali ini kedua netra mereka tidak berani melirik Davina yang masih terlelap tidur, karena dari pojok sana pak Jo telah mengintimidasi mereka lewat tatapan elangnya. Dan merekapun sangat tahu tentang respon yang akan keluar dari mulut asisten andalan pak Radithya itu jika ia beràni meliriknya.... ("hahaha.... gak mirip kan sekarang mah alur aktivitas paginya mereka??... yeeee salah...!").🤭


"Jo, cepat hubungi sekertaris dan beritahukan kesemua anggota kalau hari ini akan diadakan meeting setengah jam lagi!, ini pertemuan kita yang terakhir!" titahnya. Dan langsung pak Jo pun melaksanakan apa yang di perintahkan bosnya.


"Biarkan dia tetap tidur, tak apalah ia tidak mengikuti meeting kali ini, ada kamu ini Jo!, oh iya setelah ini kita harus bahas soal keadaan saya, harus kita bahas sampai tuntas!, karena aku tidak mau nanti terulang lagi rasa seperti itu!, saya benar-benar tersiksa, Jo!" katanya panjang lebar.


"Ok siap!, dipantai lagi pak!" tanyanya polos, namun yang terdengar oleh Radithya seperti sebuah sindiran pedas.


"Bukan!, di gunung!" katanya ketus sambil berlalu meninggalkan asistennya yang masih melongo heran. "Di gunung..... haaaaah...!" (kaget)


bersambung


mohon dukungan like dan komennya yaa... supaya saya lebih semangat lagi menulisnya, terimakasih😘😘🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2