Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Perasaan Aneh


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang terasa. Seolah mereka hanyut dalam fikiran masing-masing, tapi tidak bagi Davina. Ia begitu menikmati perannya sebagai supir. Sampai-sampai orang yang berada di sampingnya pun tak terasa keberadaannya saking fokusnya ia mengemudi. 


Sesekali Radithya melirik Davina yang masih tetap fokus menatap jalanan yang nampak lengang. 


"Kamu belajar darimana bisa mengendarai mobil?" Tanya Radith memecah keheningan dengan pandangan tetap lurus kedepan. Akhirnya pertanyaan gak penting itu terlontar dari bibirnya. 


"Saya gak pernah belajar secara khusus, pak. cuma dulu saya sering ikut pamanku yang bekerja sebagai kurir pengantar barang. Dari beliau saya belajar menyetir mobil". Kata Davina tanpa menoleh.


"Belajar nyetir mobil apa?" Sedikit penasaran Radith melanjutkan pertanyaannya. Walaupun ia tahu pasti bahwa pertanyaannya itu sangat gak penting.


"Pertama tuh saya dulu pernah menjadi supir angkot, awalnya sih cuma iseng-iseng aja, itu pun kalau lagi libur sekolah aja saya narik, trus yang kedua ketika paman sakit, aku ditawarin menggantikannya mengirim barang ke outlet-outlet. Bayarannya lumayan besar tuh pak, jadi saya suka ngarep kalau paman nyuruh menggantikannya lagi, heee..."


Celoteh Davina panjang lebar diselingi tawa lepas, nampak kedua lesung pipinya menghiasi wajah manis nya, membuat Radithya tak berkedip memandangnya.


"Sebenarnya saya tuh penasaran banget pengen bisa bawa bis, pak! Hanya saja paman belum ngizinin soalnya taruhannya ada banyak nyawa orang didalamnya, katanya sih itu alasannya" terang Davina lirih. 


Radithya sampai menahan nafasnya saking kaget bahkan nyaris tak percaya, bahwa ternyata ada juga seorang perempuan yang begitu tangguh bisa menjalankan pekerjaan yang umumnya dilakukan kaum pria. Ada terbersit kekaguman didalam hatinya.


"Ibumu mengizinkan kamu bekerja dijalanan, kamu kan perempuan?" Pertanyaan yang dari tadi mengganggu fikirannya akhirnya terlontar juga. 

__ADS_1


"Awalnya sih iya pak, ibuku tidak mengizinkannya. Namun saya memaksa dan meyakinkannya kalau saya insyaAllah bisa menjaga diri" sesekali ia melirik kearah orang yang berada disebelahnya yang telah dibuatnya mati kutu. Radithya yang biasa banyak mendominasi dalam bicara, kini ia hanya menjadi pendengar setia.


" Hahahaa.... bapak jangan melongo begitu dong, tuh..!" Sambil menunjuk bibir sang bos yang sedikit terbuka dengan mata yang melebar.


Radithya kaget, reflek ia menyentuh bibirnya yang ditunjuk Davina. 


"Hahaha... bapak ternyata lucu juga yah!" Kembali Davina tertawa lepas memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Nampak pipi sang bos sedikit merona, namun dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya kesemula, kembali kegaya cool nya, ia tidak mau Davina sampai mengetahui ketertarikannya dengan kisah hidup davina. "Bisa nurunin imej"  fikirnya.


"Pak, kalau mau ketawa itu jangan ditahan, nanti bisa gembung loh perutnya?" Dengan gaya sok tahunya Davina mencoba mencairkan suasana kembali. 


"Bapak tahu tidak, dengan banyak senyum dan tertawa itu ada manfaatnya juga lho."


Sedikit menurunkan volume suara dan mendekatkan sejenak tubuhnya ke arah sang bos yang nampak diam tanpa respon. Davina semakin bersemangat melanjutkan bicaranya.


"Nih ya pak, yang pertama manfaatnya adalah untuk kesehatan Fisik dan juga untuk kekebalan tubuh. Terus dengan senyum dan tertawa juga bisa mempengaruhi kondisi mental dan mood kita. Sederhana namun dengan manfaat yang menakjubkan, betul gak pak?" Kata Davina diakhiri dengan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.


"Saya biasa melakukannya" lanjutnya " karena dengan cara sederhana itulah saya bisa tetap semangat seperti ini di saat menghadapi hari-hari berat."

__ADS_1


Dengan nada lirih Davina berkata. Matanya tetap fokus kedepan.


"Ah sudahlah, dari tadi kamu nyerocos melulu. Aku jadi pusing lama-lama dengernya" sikap juteknya akhirnya kembali lagi.


"Eh iya maaf deh pak!, atuh kenapa bapak tadi mancing-mancing saya dengan pertanyaan itu heee.... , saya kan jadi terpanc...... ya udah saya diem!"


Davina tidak melanjutkan omongannya, melirik bos nya yang memandang dengan tatapan tajamnya, ia langsung diam ngeri juga melihat sorot mata sang bos yang mendadak tak bersahabat. 


"Ternyata masih galak yah, heee tapi lucu juga sih bisa melihat muka culun nya dia ketika heran.. hihi... menggemaskan" batin Davina dengan sisa senyum yang masih terlintas di bibirnya.


"Emmmh... maaf pak, kalau saya bertanya, bapak mau menjawab gak?" hati- hati Davina bertanya dengan memasang wajah serius.


Radithya menoleh sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"Tergantung pertanyaannya, kalau gak penting lebih baik jangan bertanya saja!" Jawabnya, kembali dengan ekspresi coolnya.


"Yah mungkin bagi bapak ini sesuatu yang gak penting, tapi bagi saya ini sangat penting." Ada sedikit guratan kecewa mendengar jawaban Radithya. Kembali ia diam menatap jalanan yang akan dilewatinya.


Entah kenapa, sikap Radithya yang biasa acuh terhadap apapun yang terjadi disekitar, atau bahkan setiap peristiwa yang dialami oleh siapapun, selama ini ia tidak perduli bahkan tidak akan pernah mau tahu. Tapi kali ini, terhadap Davina ada perasaan menggelitik yang membuatnya selalu penasaran untuk mengetahui latar belakang Davina lebih jauh lagi. "Sungguh mengherankan, apa yang terjadi padaku?" Katanya dalam hati.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2