Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Keputusan berat


__ADS_3

Davina nampak diam, tatapannya masih tajam memandang asal tempat berdirinya para makhluk astral tadi. Tak lama pak Ba datang menghampirinya.


"Salam hormat dari saya, terimakasih telah membantu menyingkirkan para perusuh astral itu!!" kata pak Ba seraya membungkukkan sedikit tubuhnya, hormat.


Davina hanya melirik sekilas, kembali tatapannya memandang kedepan, seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius.


"Saya hanya menolong cucuku. Jika mereka sampai melukai bahkan berhasil membawa jiwa-jiwa itu, saya tidak mau itu sampai terjadi karena dampaknya pasti ke Davina cucuku. Dan saya melihat salah satu dari mereka adalah takdir untuknya." katanya dengan tatapan yang masih tajam memandang kedepan.


Sesaat pak Ba diam mencerna setiap kalimat yang dilontarkan kakek Davina yang masih merasuki raga Davina. Setelah berfikir sejenak barulah ia mengerti maksudnya.


"Iya, sayapun berfikir sama!. Lewat merekapun akan ada jalan bagi anakku Selamet untuk mendapatkan jodohnya. Yaaaa....walaupun ia begitu mencintai Davina, namun cinta tidak bisa dipaksakan. Davina sepertinya bukan jodohnya, dan saya lihat lewat merekalah jodoh anakku akan diketemukan.!, makanya sampai kapanpun saya akan bantu mereka semampu saya, demi mereka dan anak semata wayangku, penerus genarasiku!!" kata pak Ba panjang lebar dengan wajah berapi-api penuh semangat.


Terlihat Davina tertunduk, ia seolah benar-benar serius mendengarkan penuturan pak Ba yang panjang dan lebar, sampai-sampai pak Ba begitu terharu dengan sikap kakeknya Davina yang sopan dan bijaksana.


Perlahan Selamet menepuk bahu Davina yang sedari tadi tertunduk lesu, namun tiba-tiba Davina terkulai lemas dan hampir saja terjatuh jika Selamet tidak cepat-cepat menyangga tubuhnya lalu ia merebahkannya di atas kursi dengan hati-hati.


Ternyata Davina tertidur dengan pulas, sampai - sampai dengkuran kecil terdengar dari bibirnya yang sedikit terbuka. Dari raut wajahnya menyiratkan ia seolah benar-benar kelelahan karena telah melakukan suatu kegiatan yang menguras tenaganya.


Pak Ba yang tadi sempat mengira itu masih kakeknya Davina yang mendengarkan kalimat panjang lebarnya tadi hanya tepuk jidat karena merasa di kacangin kakeknya Davina, ditinggal pergi begitu saja tanpa pamit.🀭☺️


Radithya yang melihat Davina tertidur diatas kursi tunggu langsung mendekati Davina, ia meneliti wajah Asisten perempuannya itu dengan seksama yang nampak sedikit pucat.


"Jo, apa dia sedang sakit ya?, kenapa pucat sekali wajahnya?" kata Radithya ke pak Jo. Kemudian pak Jo pun mendekat dan mencoba memeriksa serta meraba kening Davina merasai temperatur tubuhnya.

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa, hanya kelelahan saja.!!, jadi kamu tidak usah pakai pegang-pegang dahinya!!, bukan muhrim!!" kata Selamet jutek. Ia tidak rela kalau cewek idamannya di sentuh pria lain.


Pak Ba yang melihat reaksi kurang baik dari anaknya merasa perlu turun tangan, dengan bijak ia berkata:


"Sepertinya ia tidak akan bisa melakukan perjalanan jauh, kondisi tubuhnya sangat memerlukan istirahat yang cukup. Dan saran saya bagaimana kalau dia kita bawa ke tempat tinggalku dulu, mungkin ia bisa istirahat beberapa hari disana!." kata pak Ba memberi saran.


Radithya dan pak Jo yang sedari tadi hanya menyimak, mencoba mengutarakan keherannnaya ke pa Ba.


"Kenapa tiba-tiba dia bisa seperti ini pak?, padahal tadi ketika kita berangkat tubuhnya sehat-sehat saja!" tanya Radithya sambil memandang wajah Davina yang memucat.


"Nanti di rumah saya jelaskan!, yang penting kita bawa dulu dia ke rumahku!. Disini tidak aman, lagipula jam keberangkatan kalian hanya tinggal beberapa menit lagi, dan sangat tidak mungkin kan kalau kalian memaksanya berangkat dengan kondisinya yang lemah seperti itu!!" kata pak Ba sambil menatap kedua lelaki yang ada dihadapannya itu bergantian.


"Akhir-akhir ini banyak sekali kejanggalan yang terjadi pak, sepertinya ia mengetahui sesuatu, lebih baik kita turuti saja sarannya itu?!" kata pak Jo ke bosnya setengah berbisik ketelinga bosnya. Radithya diam sesaat sambil berfikir dan menimbang saran yang di ucapkan asisten laki-lakinya itu.


"Iya, baiklah, kita ikuti saja sarannya dan mudah-mudahan dia memang tahu sesuatu dengan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini!" dengan mantap akhirnya Radithya menyetujui saran pak Jo.


Dengan membuat game dadakan untuk menentukan pemenang dari lomba tahan kedip, namun berhubung mereka sama-sama kuat sedangkan waktu sudah beranjak sore maka akhirnya pak Ba mengambil keputusan bijak dengan memberi keputusan seadil-adilnya dan meminta pak Jo lah yang akhirnya menggendong Davina ke mobil rentalannya, "biar adil" katanya.


Masih dengan mimik muka cemberut Selamet berjalan mendahului, di ikuti pak Ba dan pak Jo yang menggendong Davina, sementara Radithya mengekor paling belakang. Mereka berjalan beriringan memanjang kebelakang seperti sedang melakukan sesi baris-berbaris pada sebuah upacara bendera. 🀭🀭☺️


------------------Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—Γ—------‐------------


Setiba di rumah pak Ba, Davina langsung di rebahkan di kamar khusus tamu dibantu oleh pelayan yang bekerja di tempak prakteknya.

__ADS_1


Ia masih nyenyak tidur tidak terpengaruh sama sekali oleh berisiknya orang-orang disekitar. Dan itu sangat aneh sekali, membuat Radithya dan pak Jo sedikit khawatir karena itu tidak seperti biasanya.


"Pak, saya merasakan ada keanehan akhir-akhir ini dan itu kami alami secara bersamaan bukan hanya seorang saja yang mengalaminya. Seperti sekarang ini, dia tidur sampai segitunya. Padahal tadi pagi dia baik-baik saja!!" kata Radithya mengawali pembicaraan ketika semua sudah nampak santai dan duduk bersama di ruangan paviliun yang nampak asri itu.


Dia menceritakan kronologis setiap peristiwa yang dialami mereka walaupun ia tidak tahu dengan pastiinya apa yang sebenarnya telah terjadi, dan itu hanya asumsinya saja melihat setiap kejadian aneh itu terjadi, selalu saja mereka bertiga sama merasakannya.


Pak Ba tidak langsung menjawab, ia diam beberapa detik seolah mencari jawaban yang tepat supaya mereka mengerti dengan apa yang di terangkannya nanti, karena pak Ba yakin peristiwa yang dialami mereka tidak akan bisa diterima begitu saja dengan akal sehat kalau sudah menyangkut dengan alam ghaib.


Sambil berdeham beberapa kali, lalu pak Ba memulai ucapannya dengan menatap ke arah dua lelaki yang ada dihadapannya itu secara bergantian.


"Iya saya tahu, kejadian aneh yang akhir-akhir ini menimpa kalian sepertinya itu adalah hasil dari perbuatan para makhluk astral yang diperintah oleh seseorang. Saya tidak tahu persis motifnya apa, yang jelas dia ada niat buruk dengan kalian berdua!" sesaat pak Ba diam, seolah sedang menerawang sesuatu yang pernah terjadi atau mungkin yang akan terjadi nanti. Entahlah...


"Sebenarnya kita bertemu bukan kali ini saja, melainkan lima hari yang lalu kalian pernah kesini dengan maksud ingin memeriksakan penyakit aneh yang kamu derita.!" kemudian pak Ba menceritakan kejadian awal Radithya datang ke tempat prakteknya untuk mengobati penyakit anehnya itu, sampai kejadian terakhir mereka di bandara, semua begitu detail sambil menatap ke arah Radithya yang nampak kebingungan, sama seperti halnya pak Jo yang dari tadi hanya menyimak setiap kalimat yang dilontarkan pak Ba namun yang tak mampu di cerna dengan akal sehat.


"Walaupun saat ini kalian aman, namun pengaruh ilmu itu akan datang sewaktu-waktu menunggu kalian lengah!!. Jadi saran saya, kalian tetap disini selama ilmu itu belum hilang dari tubuh kalian, dan saya akan bantu untuk menghilangkannya!!." terang pak Ba serius.


Radithya dan pak Jo hanya saling pandang tanpa keluar sepatah katapun dari bibir mereka. Bingung bercampur khwatir menyatu dalam fikiran masing-masing.


Mereka bingung karena kalau mereka harus tetap disana berarti mereka harus meninggalkan pekerjaannya dalam jangka waktu yang belum diketahui berapa lama, sedangkan kekhawatiran mereka adalah, mereka sekarang sedang dihadapkan dengan masalah rumit yang diluar nalar dan kuasa mereka.


Dan kalau boleh memilih, lebih baik mereka dihadapkan dengan berpuluh-puluh pesaing bisnisnya daripada harus menghadapi musuh yang tak terlihat oleh kedua netra mereka sendiri, fikirnya kompak.


Merekapun masih nampak diam dan berfikir keras untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk mereka.

__ADS_1


bersambung


like dan komennya yaa... πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2