Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Dinner 1


__ADS_3

Rebahan sambil mendengarkan musik dangdut koplo kesukaannya..., mungkin itulah salah satu cara ampuh mengusir kepenatan setelah hampir seharian berkutat dengan pekerjaan yang melelahkan.


Sesekali nampak tubuhnya ia guling-gulingkan kekiri dan kekanan sambil tertawa cekikikan sendiri, ponselnya yang dari tadi ia mainkan hampir saja terjatuh kalau saja ia tidak cepat-cepat bangun dan meraihnya dengan kedua tangannya.


tok...tok...tok...


Terdengar suara ketukan dari luar, sedikit malas-malasan ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu.


"Permisi nona, selamat sore!, saya mendapat titipan surat serta paket ini dari seseorang yang enggan menyebutkan namanya. Mohon di terima!" seraya menundukkan sedikit kepalanya, sopan.


"Oo..iya terimaksih, dari siapa ya?" kata Davina penasaran sambil membolak-balik surat itu.


Sejenak ia merenung, kira-kira siapa pengirim paket itu. Karena setahunya ia belum memiliki teman atau orang yang dekat dengannya sekarang.


Penasaran ia lalu membuka amplop kecil itu yang didalamnya terdapat kartu nama serta sebuah kertas kecil.


"Saya mengundang anda untuk dinner nanti malam, dan sengaja saya memberikan sebuah hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi saya terhadap kinerja anda. Mohon diterima!" tertera nama YOGA PRATAMA SURYA Direktur Utama SURYATAMA COMPANY.


Sesaat Davina diam, ia heran bisa mendapatkan undangan dinner serta paket dari seseorang yang tidak ia kenal sama sekali.

__ADS_1


Ketika fikiran Davina masih melayang dan menerka-nerka siapa pengirim paket itu, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilnya. Davina menolehnya.


"Kebiasaan kamu, saya panggil berkali-kali gak nyahut-nyahut juga. Apa perlu saya bawa kamu ke dokter spesialis THT, biar diperiksa telingamu itu?" kata Radithya yang sudah berdiri di depan pintu kamar Davina bersama pak Jo.


"Eèe iya pak maaf, saya tadi sedikit melamun jadi bapak gak usah bawa saya ke dokter THT. Telinga saya masih normal kok, heee.." pinta Davina sambil cengar-cengir. Ia sangat takut kalau bos nya serius dengan ucapannya yang akan membawanya ke dokter specialis.


"Vina, kemarin saya lihat presentasi kamu lumayan bagus, dan sepertinya banyak dari rekan-rekan bisnis bapak Radith terkesan dengan presentasi kamu. Ternyata kamu berbakat juga ya." puji pak Jo yang membuat mata Davina sedikit membulat.


"Lho kok pak Jo bisa ada disini? Sejak kapan? kok saya tidak lihat kemarin? dan kenapa bapak tidak cepat-cepat nemuin saya sih? jelas-jelas waktu itu saya sedang kebingungan dan butuh dukungan. Ini pertama kalinya lho saya tampil dan berbicara di depan orang-orang pinter dan hebat, bagaimana coba kalau hasil presentasinya jelek dan gagal, kan kalian sendiri yang malu. Kok bapak tega gitu sih membiarkan saya menghadapinya sendiri!"


Cerocos Davina panjang lebar, ini kesempatan baginya untuk mengeluarkan kekesalannya yang dari tadi ia pendam. Pak Jo hanya diam tanpa membalas ocehan Davina yang tanpa koma itu. Ia hanya menanggapinya dengan senyuman membuat Davina semakin kesal saja.


"Sudahlah. kamu seharusnya bangga saya kasih kepercayaan sepenting itu, dan ini tandanya saya percaya sama kamu karena kamu mampu mengerjakannya". kata Radithya sambil memberikan sebuah bungkusan kecil yang ukurannya tidak berbeda jauh dengan paket yang baru saja Davina terima.


Davina dan pak Jo saling pandang, ia mengiba lewat tatapannya meminta jawaban kepada pak Jo tentang maksud dari bos itu.


Pak Jo hanya mengangkat bahu menandakan dia juga tidak tahu apa-apa. Tak lama ia pun pergi berlalu menyusul bos nya.


"Dasar duo koplak, tiba-tiba datang tanpa di undang, ehh pergi pun tanpa pamit, mirip jelangkung aja... hiiii" sambil bergidik, Davina kembali masuk kamar dan tidak lupa menutup pintunya kembali.

__ADS_1


---------××××-------------


Davina hanya memandangi dua buah gaun cantik yang ia letakkan sejajar satu sama lain diatas tempat tidurnya.


Dan untuk menghilangkan rasa penasarannya, kemudian ia meraih ponselnya dan hendak mencoba menelpon bos nya. Namun Radithya lebih dulu menelponnya yang langsung dijawab Davina.


"Iya halo pak!" jawab Davina.


"Sebentar lagi akan ada orang yang mendandani kamu, siap-siap saja. Dan ingat jangan lupa pakai gaun yang tadi saya kasih. Setengah jam lagi saya tunggu di bawah!" kata Radithya dan langsung menutupnya tanpa menunggu jawaban Davina.


"Oiya pak, halo!...halo! saya mau nanya gaun yang dari bapak tuh yang man....na...?"


nut....nut....nut.... (telpon telah terputus)


"Iiiiiih... kenapa sih ngeselin banget, nelpon seenaknya, nyuruh seenaknya... ngomong seenaknya.... apa gak bisa yah hidup normal seperti manusia lain pada umumnya yang punya etika dan sopan santun. Huh... dasar manusia langka! Nasib-nasib, kenapa aku harus kerja sama manusia aneh seperti itu sih. huh.." lagi-lagi Davina hanya bisa mengeluh dalam hati.


Ia kesal sekaligus bingung karena ternyata ia lupa gaun mana yang diberikan bosnya tadi, ia membukanya secara bersamaan dengan paket yang satu nya lagi. Hmmmm....


bersambung

__ADS_1


like komen nya ditunggu ya... makasih....😘😘😘🙏🏻🙏🏻🙏🏻


.


__ADS_2