Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Masuk sama-sama..


__ADS_3

Pak Jo turun dari mobil, sementara Davina memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Terlihat Radithya masih santai duduk dan ikut mengantri, nampak disebelah kanannya duduk seorang perempuan menor bertubuh bahenol. Sudut matanya dari tadi terus melirik Radithya yang gantengnya ngabisin jatah ganteng suaminya yang juga duduk bersebelahan dengannya.


Sesekali tangannya disenggol suaminya yang merasa cemburu karena istrinya terus-terusan cari perhatian Radithya dengan pura-pura minta diambilin dompetnya yang jatuh padahal suaminya sendiri nganggur, "Kenapa harus minta tolong dia sih untuk mengambilkannya?" katanya jutek, terus pura-pura hampir jatuh lah karena katanya barusan ada gempa padahal mah cuma akal-akalannya saja, masa iya ada gempa cuma dia doang yang ngerasain sendiri. Kelihatan banget kan caper nya?. hmmmm...


Pak Jo datang menghampiri, lalu ia bertanya: "Bapak dapat nomer antrian berapa?" katanya sambil menengok ke arah Davina yang baru saja datang.


"Nomer?.. nomer apaan? saya dari tadi duduk kok!" jawabnya tanpa dosa, pak Jo langsung tepuk jidat. "Ternyata jalan duluan cuma tebar pesona doang toh! " gumam pak Jo. "Saya kira bapak tadi jalan duluan itu mau ngambil nomer antrian, oh ternyata belum ya?" katanya sedikit kesal namun tetap memasang raut muka manisnya. "Ya sudah biar saya saja yang ngambil nomer antriannya!" kata Davina sambil berlalu menuju loket pendaftaran.


Melihat Davina menuju loket pendaftaran, Radithya langsung menyusulnya di sambung dengan pak Jo yang ngekor dari belakang.


"Selamat siang bu, saya mau mengambil nomer antrian, dimana ya tempatnya?" tanya Davina kepada petugas pendaftaran.


"Oh ibu bisa langsung daftar saja disini!, maaf!, atas nama siapa pasien nya?, dan usianya berapa?" katanya ramah sambil melirik ke arah Davina, Radithya dan pak Jo bergantian.


"Atas nama Radithya Mahawira Aryaguna, usiaa..." Davina melirik ke arah bosnya yang langsung dijawab olehnya. "25 tahun!" jawabnya singkat.

__ADS_1


"Oiya terimakasih, kalau boleh tahu keluhannya apa ya?, bisa dijelaskan sedikit?" lanjutnya.


Ketiga trio kwek-kwek itu langsung diam, mungkin mereka bingung cara menjelaskannya bagaimana. Radithya nampak tidak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan petugas pendaftaran itu. Spontan ia langsung berkata:


"Lho kok ibu malah nanya saya si?, lalu tugasnya dokter nanti apa?, justru saya kemari itu mau periksakan penyakit saya, kok ini ma...." sebelum Radithya nyerocos terus, langsung Davina membungkam mulut bosnya dengan tangannya. "Maaf pak, tolong kendalikan emosi bapak!. Ini tempat umum pak, malu dong kalau sampe dilihatin banyak orang!" kata Davina mencoba menenangkan bosnya.


"Iya tapi kan dia sudah keterlaluan, masa iya saya harus menceritakannya disini!, kan malu dilihatin banyak orang!, sudahlah saya jadi malas periksa disini! katanya ketus sambil hendak berlalu pergi. Namun dengan sigap kedua asistennya itu mencegahnya dengan memegangi tangan dan bahu bosnya.


"Maaf ya pak, bu..!. kami disini hanya mencatat keluhan pasien secara garis besarnya saja, dan untuk lebih detailnya, nanti bisa dikemukakan kepada Dokter kami!" katanya masih tetap ramah.


"Iya nih pada jaim-jaiman segala, tak usah malu lah buu, semua orang juga sudah pada tahu kalau orang yang datang ke dokter spesialis kulit dan kelamin itu yaaa... pasti penyakitnya seputar itu, gak mungkin lah penyakitnya seputar kehamilan hahaha....ya gak?" kata pengunjung yang ada dibelakang orang tadi sambil tertawa terbahak-bahak membuat Radithya jengkel dan terkejut.


"Apaa.!!!, apa tadi dia bilang? ini dokter spesialis kulit dan kelamin? kok kesini si?, kenapa kalian tidak beritahu saya sebelumnya hah?" Radithya marah dan hendak pergi begitu saja. Namun kembali dengan sigap, kedua asistennya itu langsung mencegahnya dengan memegangi tangan kanan dan kirinya dengan erat.


"Ya kami bawa kesini lah bos, masak sih kami bawa ke dokter spesialis kandungan?" kata Davina mencoba menenangkan si bos.

__ADS_1


"Iya tapi kan saya malu tahu!, lagian kalian ini sok tahu banget sih!!, main bawa saya saja tanpa kompromi dulu. Ayo cepat kita pulang saja, lebih baik tidak jadi saja!" katanya dengan suara keras membuat semua pengunjung heran mendengar perdebatan mereka. Tiba-tiba petugas keamanan datang karena menganggap mereka telah membuat kegaduhan.


"Ada apa ini?, tolong jangan membuat kegaduhan disini!, ini tempat umum!, jadi kalau kalian ada masalah tolong diselesaikan diluar area ini!!" katanya tegas sambil melihat satu persatu ke arah Davina, pak Jo dan Radithya. Tiba-tiba datang seoarang pria berpakaian dokter.


"Pak Radith ya!, masih kenal sama saya?" kata seorang laki-laki berpakaian putih dan sepertinya ia seorang dokter. Sejenak Radithya diam seolah sedang mengingat-ingat. Melihat Radithya masih diam saja, ia langsung memperkenalkan diri.


"Saya Randy dokter khusus penyakit dalam yang dulu sempat menangani saudara bapak, pak Reyza!" katanya sambil tersenyum ramah.


"Ngomong-ngomong bapak kesini mau periksa atau...." belum saja dokter Randy meneruskan kalimatnya, Radithya telah menarik lengan dokter itu menuju kursi yang tempatnya tepat dibawah pohon.


"Sama bapak juga bisa kali ya?, begini.. saya itu..." belum selesai Radithya bertanya, tiba-tiba terdengar suara ponsel milik dokter Randy. "Maaf, sebentar ya!!, saya jawab dulu telpon nya, permisi.!" katanya sambil berdiri menjauh dari Radithya yang terlihat mengerucutkan bibirnya kesal.


"Antrian nomer 15 atas nama bapak Radithya Mahawira Aryaguna silahkan masuk!" Terdengar panggilan dari arah ruang informasi. Radithya nampak sedikit gugup, wajahnya memucat. Spontan ia memegang lengan Pak Jo. "Joooo, ayo kita masuk. Dan kamu juga Vin, kita masuk sama-sama!" katanya dengan wajah pias serta tubuh terlihat gematar.


bersambung

__ADS_1


--


__ADS_2