Terjerat Cinta Sang Asisten

Terjerat Cinta Sang Asisten
Bercak merah yang menghebohkan


__ADS_3

Radithya semakin penasaran, ia mendekati Davina yang masih berfikir keras untuk mencari alasan logis yang bisa diterima bos nya. Setelah meneliti satu persatu bercak merah di sekitar leher Davina, kemudian ia menyuruh pak Jo untuk memanggilkan dokter pribadinya yang selalu ia sertakan jika ada acara meeting diluar kota.


"Jo, coba panggil pak Burhan agar ia segera datang kemari untuk memeriksakan dia!" kata Radithya yang membuat mata Davina terbelalak kaget dan hampir saja tangannya melepaskan laptop yang dari tadi dipegangnya.


"Apa!, tidak... tidak... pak!, saya gak perlu diperiksa... saya baik-baik saja kok!" kata Davina sedikit memohon.


Akan lebih memalukan lagi kalau saja sampai nambah satu orang lagi yang mengetahuinya, apalagi ini adalah seorang dokter, bisa-bisa ia akan ditertawakan dokter itu karena pastinya ia akan lebih mengetahui kalau ini bukan penyakit, melainkan bekas gigitan kecoa besar yang gak punya akhlak. Tidak seperti kedua jomblo akut itu yang badannya aja digedein, namun kecil pengetahuan soal begituan. "Aaah.mikir apa sih aku ini? " batin Davina kesal dengan fikirannya sendiri yang mendadak 21 an plus-plus.


"Sudahlah, kamu turuti saja apa kata bosmu. Inikan demi kebaikan kamu juga." kata pak Jo ikut menimpali omongan bosnya Dan sukses membuat Davina ingin sekali melayangkan sepatu kearahnya.


"Pokoknya sekarang kamu periksakan ke dokter, saya gak mau kalau itu nantinya menulari saya. hih..!!!, tuh cepat sana duduk sebelah sana!" kata Radithya sambil bergidik, membuat Davina sangat geram.


"Iya paaaaak, ini penyakit menular banget!, jadi kalian jangan dekat-dekat lagi, oiya dan ini penyakit bukan karena nyamuk, tapi karena kecoa songong yang nyebelinnya tingkat dewa." kata Davina gemas .


Nampak kedua lelaki itu diam seolah sedang berfikir, mungkin mereka bingung mencerna apa yang dikatakan Davina. "Mereka itu bodoh atau pura-pura bodoh si? kok nanggepinya sampe seserius begitu. Ahhh... ini mah mereka bener-bener fix oon bin once heeee.... " Davina tertawa sendiri dalam hati.

__ADS_1


Davina berfikir, kalau saja semalam bos nya sengaja melakukan itu dengan sadar, pastinya ia akan sangat marah sekali, mengingat itu sudah fatal dan merupakan suatu tindakan pelecehan, namun Davina tahu, pak Radith tidak bersalah. Ia merasa bos nya bisa seperti itu pasti ada yang sengaja memasukan sesuatu ke minuman atau makananya tanpa bos sadari, yang memicu hilangnya kontrol emosi.


Dan justeru Davina berniat akan menyelidikinya suatu saat nanti. "Kenapa aku curiga sama Claudia dan lelaki itu ya?", pasti akan aku selidiki ini!" kata Davina dalam hati.


Kemudian tidak lama pak Jo datang mendekati Davina, dan berkata: " Sekarang kamu jujur sama saya, apakah ini perbuatan pak Radith semalam?" katanya penuh selidik membuat Davina terkesiap.


"Nah itu kamu bisa pintar, Jo. Coba dari tadi bisa menerkanya!". kata Davina dalam hati.


"I...iya...pak, tolong deh bapak jelaskan ke pak Radith, saya jadi malu sendiri mengingat kelakuannya semalam. Coba saja kalau tadi malam itu ia sengaja melakukannya, sudah habis tuh dia" kata Davina sedikit kesal.


"Jo, si Burhan katanya istrinya melahirkan jadi dia izin pulang duluan, dan ini saya browsing soal bercak-bercak merah pada sekitar leher... ". sesaat ia menghentikan kalimatnya, kembali ia asyik membaca artikel tentang kulit yang tiba-tiba ada bercak merahnya.


"Nih denger ya!, apabila tiba-tiba terdapat bercak-bercak merah dikulit itu artinya anda menderita gejala alergi, yang bisa dipicu oleh faktor cuaca, makanan, obat-obatan atau minuman beralkohol. Nih lihat gambarnya!" sambil memperlihatkan foto orang yang terkena alergi ke arah pak Jo yang duduk didepannya.


Pak Jo meraih ponsel bosnya sambil mencoba meneliti foto yang ada di artikel itu. "Iya betul ini alergi pak, tuh lihat bercak-bercak merahnya banyak dan tidak hanya dileher saja melainkan diseluruh tubuh katanya, tapi ini masalahnya kenapa bercak merah yang diderita Davina hanya ada di sekitar leher saja, dan besar-besar lagi, heee...." tak kuasa menahan tawa akhirnya pak Jo tertawa kencang yang otomatis membuat Radithya bengong, karena ia berfikir " Dari mana lucunya, kok sampe ketawa kencang begitu si?"

__ADS_1


Wajah Davina sudah mulai memerah menahan malu, sementara kedua lelaki itu masih terus saja membahas bercak merah dileher, jelas-jelas ini akibat perbuatan si bos kutu kupret itu, masih saja diperdebatkan.


"Sudah cukup pak, sepertinya saya juga izin tidak bisa menghadiri meeting kali ini. Saya merasa tidak nyaman sekali ini pak! maaf ya!", kata Davina sambil berdiri hendak keluar ruangan karena sudah terlanjur kesal dengan kelakuan duo jomblo sejati itu.


"Tunggu sebentar! kalau begitu dia kenapa ya kalau bukan alergi?" lanjut Radithya yang masih saja penasaran, ia sama sekali tidak menanggapi apa yang dikatakan Davina barusan.


Davina dan Pak Jo saling pandang sambil geleng-geleng kepala, mereka mulai stres memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada bosnya, yang pasti ujung-ujungnya ia akan merasa malu dengan ulahnya sendiri.


"Jo! kok kamu diam saja si! ayo bantu berfikir dong! ini masalah serius lho, bisa-bisa kita ikut ketularan kalau didiemin saja!" kata Radithya serius.


"Pak, itu bukan alergi, tapi akibat perbuatan bapak semalam!" akhirnya keluarlah kalimat yang dinanti-nanti Davina dari tadi, ia sangat berharap urusan memalukan itu cepat selesai.


"Hah!.... apa kamu bilang?"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2