
Terlihat seorang ibu yang tengah duduk termenung meratapi anaknya yang entah keberapa kalinya mengalami kegagalan untuk memiliki kekasih. Dia adalah Karsih ibu dari Ayu anaknya kemarin sempat jalan bareng dengan pak Jo.
Ia merasa sedih melihat nasib anaknya yang selalu mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Hati kecilnya memang dia menyadari bahwa salah satu faktor penyebabnya itu adalah mungkin karena kekurangan yang dimiliki anaknya sejak lahir.
Awalnya para lelaki yang mendekati Ayu terlihat begitu mencintainya, mungkin mereka hanya melihat penampilan luarnya saja yang memang Ayu memiliki paras cantik alami ciri khas kecantikan wanita Indonesia, namun setelah mereka mengetahui kekurangannya itu, lambat laun mereka mundur dengan teratur. Ada yang baik-baik memutuskan hubungannya, namun ada juga yang dengan terang-terangan menghina bahkan mengejek kekurangannya itu.
Dan akibat banyaknya perlakuan bernada penghinaan bahkan cibiran yang membuat ibu Karsih tersinggung. Ia sangat marah dan tak rela melihat anaknya diperlakukan seperti itu.
"Kenapa aku begitu sreg dengan anak ini ya, sepertinya dia jodoh terbaik buat anakku. Apapun caranya, aku harus bisa mendapatkannya untuk anakku. Ahhh.... tapi sial aku tidak menanyakan namanya!" kata bu Karsih sambil memandang poto pak Jo yang sempat ia abadikan kemarin.
Kali ini aku terpaksa harus melakukan sesuatu demi anakku!, yaaa..... aku akan datang padanya untuk minta bantuannya!, sepertinya ia adalah orang yang sangat tepat!" katanya sambil berlalu kekamar untuk bersiap-siap pergi ke suatu tempat.
-------------×××××------------
"Jo, mana dia?" tanya Radithya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Dia sedang pergi kekamarnya dulu bos, katanya gerah mau mand....ups!!" pak Jo menggantung kalimatnya sambil menutup mulutnya, mulai saat ini ia harus belajar bisa memilah dan memilih kata agar tidak memancing otak si bos menuju kearah sana. "Bisa ribet lagi nanti urusannya". fikirnya.
"Ada apa?, kemana dia?!" tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
"Dia pergi kekamarnya dulu ganti baju, bapak tunggulah sebentar!" kata pak Jo.
Tak lama Davina datang dengan outfit kaos santai dengan rambut yang di ikat sembarang, tanpa polesan mencolok dilengkapi tas selendang berwarna coklat. Ia terlihat lebih fresh dari biasanya.
Radithya diam-diam mengagumi kecantikan alami yang dimiliki Davinà, sampai sesekali ia curi-curi pandang ke arah Davina yang tengah duduk di dekat jendela memandangi taman bunga yang memanjakan mata.
"Vin, kita berangkat sekarang!" kata Radithya seraya bangkit dari tempat duduknya. "Oiya Jo, aku pakai mobil kamu ya!" sambil melirik ke arah asistennya.
"Terus saya gimana?" tanya pak Jo polos sambil melirik ke arah bosnya dan Davina bergantian.
"Lho kenapa malah tanya saya?, itu kan urusanmu sendiri. Masa saya harus ajak kamu juga?" jawab Radithya jutek.
"Ya sudah kalau mau ikut, ikut saja! tapi kamu duduk dibelakang, biar aku yang nyetir!" katanya masih dengan nada jutek akhirnya Radithya mengajak pak Jo.
"Ok siap, terimakasih pak!" ia nampak girang seperti anak kecil yang diajak jalan-jalan orangtuanya.
"Tuuuh kaaan, walaupun tadi aku cuma basa-basi tapi kamu tetap ikut kan?, aku fikir kamu tadi mau nolak!" kata Radithya gemas sambil melangkah mendahului kedua asistennya dengan mimik muka kesal karena acara romantis berduaan dengan Davina menjadi gatot alias gagal total.
--------------xxxxxx----------------
__ADS_1
Disebuah rumah semi permanen yang letaknya di tengah pemakaman umum, nampak seorang lelaki paruh baya sedang melakukan ritual di depan sebuah jendela besar yang sengaja ia buka lebar menghadap ke sebuah pohon besar berdaun rindang.
Sesekali mulutnya komat-kamit dengan tangan yang menggenggam sebuah foto yang dijepit diantara kedua jemarinya. Matanya terpejam, sesekali tubuhnya ia condongkan kedepan seperti sebuah gerakan menyembah sesuatu. Didepannya terdapat sebuah kotak kayu dan wadah yang berisi dupa yang mengeluarkan asap yang aromanya sangat menyengat hidung.
Disamping lelaki tua itu, nampak seorang perempuan tengah baya yang masih nampak modis dan menor, dengan setianya menunggu lelaki tua itu melakukan sebuah ritual gaib.
Ternyata lelaki tua adalah pananyaan kondang di dunia maya. Ia adalah Mbah Hugell. Dengan gaya eksentrik seperti biasanya, ia selalu bersikap ramah pada siapapun, apalagi ke perempuan bertipe centil seperti bu Karsih yang di usianya yang sudah tidak muda lagi, namun masih terlihat segar, bahenol dan menor, membuat mbah Hugell betah berlama-lama memberikan solusi yang di butuhkan pelanggan.
Setelah beberapa menit melakukan persembahan, akhirnya mbah Hugell bangkit dan beranjak pergi menuju suatu ruangan rahasia. Tak lama iapun kembali menghampiri bu Karsih sambil membawa dua buah tali berwarna merah yang saling berkaitan satu sama lain.
Kembali ia duduk berhadapan dengan bu Karsih yang serius menatapnya.
"Sebenarnya kasus yang ibu hadapi ini termasuk rumit, dikarenakan yang pertama ibu tidak mengetahui namanya, yang kedua ibu tidak mengetahui nama ayah atau ibunya, ketiga ibu tidak membawa sampel rambut atau bagian tubuh lainnya. Dan ibu hanya membawa poto nya saja!" sejenak ia diam sambil menghisap cerutu kesukaannya, lalu kembali ia berkata:
"Dan ini sangat memerlukan kerja ekstra keras dari tim kami, yaaa... tentunya dengan biaya yang tidak sedikit karena saya harus memberi bonus juga kepada mereka atas kerja kerasnya jika sampai misi ini berhasil!" kata Mbah Hugell panjang lebar.
"Berapapun biayanya akan saya penuhi mbah asalkan keinginan dan cita-cita anak saya untuk segera mendapatkan jodoh laki-laki itu bisa secepatnya terlaksana." dengan nada berapi-api si ibu menyanggupi dengan yakin persyaratan apa yang nanti akan di ajukan mbah Hugell.
"Baiklah kalau begitu, saya persiapkan semuanya sekarang!" katanya.
__ADS_1
bersambung