
Radith segera menuju sebuah ruangan VVIP President suite, nampak seorang pria muda tengah berbaring lemah di sebuah ranjang empuk berselimut tebal. Wajahnya terlihat begitu pucat, namun ia masih menyisakan senyuman di bibir nya ketika melihat adik kembarnya datang. Dia adalah Reyza Mahawira Aryaguna, kakak kembar Radithya.
Sejak kecil Reyza telah divonis menderita kelainan jantung bawaan. Walaupun mereka saudara kembar, namun kondisi kesehatan keduanya sangat berbeda, Reyza lebih rentan terhadap penyakit sedangkan Radithya jauh lebih sehat dan aktif.
Sebab itulah berolah raga teratur, pemeriksaan rutin serta mengkonsumsi obat yang di anjurkan dokter merupakan santapan sehari-hari bagi Reyza. Hal ini karena penyakit itu berpotensi muncul kembali di kemudian hari, selain itu fungsi jantung juga akan menurun seiring pertambahan usia.
Dan kini, Reyza tiba-tiba saja divonis mengidap penyakit anemia aplastik sebagai salah satu komplikasi penyakit jantung bawaannya. Awalnya Reyza merasa sangat lelah dan pusing ketika sedang memimpin rapat di sebuah anak cabang perusahaanya di Turki beberapa bulan yang lalu, denyut jantungnya begitu cepat dan ia pun mengalami sesak nafas. Hingga pada akhirnya ia pun di larikan ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan secara intensif.
Dari sanalah, setelah di vonis mengidap penyakit anemia aplastik beberapa bulan yang lalu ia pun kembali menjalani pengobatan rutin dan di haruskan menjalani transfusi darah.
Setiap tiga bulan sekali Radith mendonorkan darahnya karena hanya dialah saudara kandung nya satu-satunya yang cocok golongan darahnya nya dengan Reyza.
‐------------0000---------------
"Dia masih ada di dalam ruangannya, Pak"
Jawab salah satu pelayannya ketika ia di tanyai keberadaan Davina sekarang. Radith hanya mengangguk pelan.
" Panggil ia ke ruangan ku!" perintahnya sambil berlalu menuju ruang kerjanya.
tok!...tok!...tok!...
__ADS_1
Terdengar suara ketukan tiga kali, Davina yang ketiduran di sofa setengah sadar terperanjat mendengar ketukan pintu. Kemudian ia bangkit mendekati pintu untuk membukanya.
" Nona, mari saya antar ke ruangan Bapak Radithya. Ia sekarang sedang menunggu anda!" kata pria itu sambil menatap Davina yang masih setengah sadar. Seraya mengucek kedua matanya yang masih samar melihat pelayan itu, Davina pun bergegas menghampiri.
" Oh iya...iya.., tunggu sebentar saya mau ambil tas dulu" kata Davina sambil berlalu menuju sofa dan mengambil tasnya, tidak lupa ia mencuci muka dahulu agar tidak terlalu kelihatan habis bangun tidur.
Tak seberapa jauh jarak dari ruangan Davina berada tadi, akhirnya pelayan itu menyuruh Davina menunggu sebentar di lobi yang nampak lengang seperti tak berpenghuni.
" Permisi, Pak! Nona Davina sudah ada di lobi, apa boleh saya membawanya sekarang kehadapan anda?" kata pria itu menatap sejenak, lalu kembali ia menundukkan kepalanya tanpa berani melihat wajah tuannya lebih lama.
Radith hanya mengangguk tanpa suara. Dengan tampang coolnya, ia duduk di singgasanya membuat bertambah kuat kharismanya bagi siapapun yang memandangnya.
"Nona, anda dipersilahkan masuk!" Kata pelayan itu sopan.
Davina masih tak percaya kalau ternyata seorang karyawan kontrak seperti dirinya bisa masuk ke ruangan kantor yang begitu nyaman dan megah, Ini adalah pertama kalinya bagi Davina.
" Ruangan ini memang nyaman, pastinya bagi seorang karyawan tak berprestasi seperti kamu merupakan suatu hal yang ajaib karena bisa menginjakkan kaki di kantor khusus staff ini?" Kata Radithya dengan sudut mulutnya melengkung membentuk senyuman, lebih tepatnya sebuah seringai licik.
Sedikit tersentak Davina mendengar suara Radith, sontak ia menoleh kearah suara yang tak asing lagi baginya.
Memberanikan diri ia berkata: " Maaf, Tuan Radith! Sebaiknya kita langsung ke inti permasalahan nya."
__ADS_1
Bibirnya sedikit gemetar tetapi Davina mencoba menenangkan gejolak hatinya dengan mengulas sedikit senyuman.
Radith hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapan nya tajam seolah hendak menusuk jantung Davina.
"Ya memang saya orang kecil, seperti yang anda bilang tadi, saya pasti nya tidak akan mampu mengganti seluruh biaya kerusakan mobil tuan yang telah saya lakukan, walaupun sejujur nya saya merasa itu tidak murni kesalahan saya saja!"
sesaat Davina menghela nafas berat, mengumpulkan puing-puing keberaniannya yang sempat runtuh, dengan kepala sedikit tegak ia beranikan diri untuk menatap kembali sepasang mata elang Radithya yang tak kalah tajam, kemudian ia berkata.
"Tetapi saya pun tidak terima jika anda menganggap kejadian tadi adalah akal-akalan saya untuk mencari uang."
Ada penekanan disela suaranya yang sedikit gemetar.
"Asal anda tahu, Tuan! saya tidak akan mungkin melakukan hal serendah itu!" Entah datang darimana, tiba-tiba saja ada keberanian muncul pada diri Davina untuk membela diri.
Tiba-tiba sorot mata Davina berubah menjadi tajam. Timbul keberanian dalam dirinya bahwa ia harus mempertahankan harga dirinya walaupun ia sedang berhadapan dengan sang penguasa perusahaan. Ia telah siap dengan segala konsekuensinya jika ia harus di pecat dari pekerjaannya.
Radithya hanya menatap Davina, tanpa menyela ataupun marah kapada Davina. Sikapnya sangat berbeda dengan sikap tadi pagi. Davina pun heran.
BERSAMBUNG
__ADS_1
-----) Jangan lupa komentar nya yah, like dan vote nya juga ditunggu pisan.... nuhun....🙏🙏🙏😘