
*═══❉্͜͡🧡Mutiara Hikmah.🧡❉্͜͡═══*
Terkadang kita bersedih berlebihan Ketika dalam fase ujian, Padahal sedih yang kita rasakan hanya setitik dari bahagia yang panjang. Ternyata syukur kita belum sampai Pada titik sadar, bahwa sedih hanya sementara di banding bahagia yang Allah anugrahi jauh lebih banyak. Kita dapat menghindari ombak dengan menjauhi laut. Tapi kita tak mungkin menghindari angin. Cobaan dan ujian hidup sesuatu yang niscaya. Pasti ada, pasti datang menerpa. Karena itulah kita berdoa,
"Ya Robb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban cobaan yang tak sanggup kami memikulnya"
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🧡❉্᭄͜͡•═══════•
Hari-hari telah terlewati begitu cepat, hingga tak terasa sudah satu bulan lebih juga Fahmi dan Shinta berada di negara Eropa. Yaa setelah peristiwa dihari pernikahannya. Ravico meminta Fahmi untuk mengajarkan ia memperdalam ilmu agamanya, yang selama ini ia tinggalkan. Dan tentu saja Fahmi dengan hati ikhlas mau menerimanya. Bahkan ia senang karena pada akhirnya sang ketua Mafia mau bertaubat.
Kini kesabaran Fahmi membimbing Rqavico, telah menuaikan hasil. Karena kini Ravico telah menjadi seseorang yang baru, ia juga begitu baik, rendah hati, serta begitu taat dalam beribadah. Melihat hal itu, Fahmi pun merasa tugasnya telah usai. Dan ia pun berniat untuk kembali pulang ke negaranya lagi. tentu saja bersama istrinya.
"Apakah kalian benar-benar ingin kembali? Tidak bisakah kalian tinggal di sini lebih lama lagi?" tanya Ravico, setelah ia mendengar Fahmi yang mengungkapkan niatnya yang ingin kembali ke tanah airnya.
"Maaf Dad, saya tidak bisa, karena saya masih memiliki tanggung jawab dinegara saya. Jadi saya benar-benar tidak bisa menunda-nundanya lagi," balas Fahmi, yang nampak ia bersikeras untuk kembali.
"Iya Dad, kuliah Vero jugakan belum selesai. Dan sudah satu bulan lebih Vero nggak kuliah loh! Jadi please izinkan kami pulang ya," sambung Sinta yang terlihat Ia juga berharap sang Ayah mengizinkan ia kembali ke negara ibunya. Karena ia lebih menyukai tinggal di negara Sang Ibu ketimbang negara Sang Ayah.
Karena budayanya sangat bertolak belakang dengan kebudayaan sang Ibu. Makanya nggak heran bila Shinta kembali ke rumah sang Ayah, ia lebih memilih berdiam diri dirumah saja. Berbeda bila ia berada di tanah kelahiran Sang Ibu. Ia justru rugi bila hanya berdiam diri saja dirumahnya. Apalagi ia pencinta kuliner, membuat ia selalu ingin berpetualang keberbagai daerah yang berada di Nusantara.
"Baiklah kalau begitu, kalian boleh pergi. Tapi ingat kalian harus sering-sering datang menjenguk Daddy, Oke!" ujar Ravico, terdengar tegas.
"Kenapa harus kami terus sih Dad, yang harus kemari! Gantian dong sesekali Daddy yang mengunjungi kami ketanah air," protes Shinta, dengan memasang wajah cemberutnya.
__ADS_1
"Maaf, Daddy nggak bisa kesana! Karena itu akan mengingatkanku pada Ibumu Nak," balas Ravico, yang kini raut wajahnya pun langsung menjadi sendu.
"Huh, Alasan! Terus mau sampai kapan Daddy seperti ini? Apa Daddy tak ingin melihat makam Bunda? Hmm..atau jangan-jangan cinta Daddy sebenarnya palsu, makanya Daddy tak merindukannya, iyakan?"
Mendengar perkataan Shinta, Ravico terlihat terkejut, ia tak menyangka putrinya bisa berpikir seperti itu, "Bukan seperti itu Nak, Daddy itu.." balasnya. Namun perkataannya langsung terhenti, karena ia mendapatkan tatapan, yang tidak biasa dari Shinta, membuat ia tak ingin membantahnya.
"Haiiis..! Baiklah baiklah, Daddy akan mengunjungi kalian sekalian mengunjungi makam Bunda kamu. Tapi nanti, setelah Daddy mendengar kabar baik dari kamu," lanjut Ravico, membuat dahi Shinta berkerut, Karena sepertinya tak memahami perkataan sang Ayah.
"Kabar baik? Kamikan emang baik-baik saja Dad, lagian Daddykan udah lihat sendiri! Kenapa malah berkata seperti itu," protes Shinta. Membuat Sang Ayah menepuk keningnya.
"Haeh... Dasar anak bodoh! Maksudnya Daddy kabar baik itu, saat mendengar kamu hamil, Vero, dan saat itu juga Daddy akan tinggal disana, sampai cucu Daddy lahir," jelas Ravico, yang terlihat raut wajahnya langsung berbinar ketika ia mengucapkan dikalimat yang terakhir. Berbeda dengan Shinta dan Fahmi, keduanya malah terkejut mendengar kalimat terakhirnya Ravico.
"Ooh...Eh, Apa?! Hamil?" sentak keduanya, dan seketika mata keduanya membulat. Dan seketika itu juga keduanya saling bertatapan.
"Eh! Apaan sih Daddy! Kok jadi bahas begituan!" protes, Shinta, yang Wajahnya kini terlihat memerah.
"Yaa soalnya Daddy, merasa aneh saja Nak. Karena dulu ketika Daddy menikahi Bunda kamu, dalam satu bulan dia sudah hamil. Masa kamu sudah sebulan lebih belum ada kabar sih? Apa milik suami kamu kurang tokcer ya?" tutur Ravico, seraya matanya menatap sinis pada Fahmi.
"Daddy! Itu bukan salah dia tau! Tapi kami memang belum mau melakukan itu kalau masih tinggal disini! Jadi jangan menuduhnya sembarangan!" cetus Shinta, yang terlihat ia tak menyukai tuduhan Sang Ayah terhadap suaminya.
"Apa jadi kalian...? Hah, emangnya kenapa kalau disini? Apakah tempatnya berbeda?" tanya Ravico, yang terlihat penasaran.
"Aakh, kenapa jadi bahas itu sih! Udah akh kami pergi sekarang! Ayo bang kita pergi!" ajak Shinta, seraya ia menarik tangan Fahmi, dan otomatis Fahmi langsung bangkit.
"Eh, kok jadi terburu-buru? Tapi ya sudahlah kalau begitu, sepertinya semakin cepat kalian perginya akan semakin baik. Biar secepatnya Daddy mendapatkan cucu! Sudah sana kalian berangkat!" ujar Ravico, seraya mendorong tubuh Shinta dan Fahmi, yang terlihat jelas ia mengusir anak dan menantunya.
__ADS_1
"Hah?! kok Daddy, malah ngusir sih!" protes Shinta terlihat semakin kesal dengan sang Ayah.
"Itu biar kalian secepatnya memberikan Daddy cucu! Ingat Fahmi ini tugas kamu! Selain kamu menjaga Putriku! Kamu juga harus secepatnya Aku di bikinkan cucu! Apa kamu paham Fahmi?" ujar Ravico pada Fahmi, terdengar penuh penekanan dikalimat terakhirnya.
"Eh! In shaa Allah Dad," balas Fahmi, singkat karena ia tak tahu harus berkata apa, saat melihat Ayah Shinta yang terlihat begitu antusias ingin secepatnya mendapatkan cucu.
"Ya sudah sekarang cepat kalian masuk mobil!" kata Ravico, kembali mendorong Fahmi mau pun Shinta agar masuk kedalam mobilnya, "Jack cepat antar mereka! Dan pastikan agar mereka secepatnya naik pesawat pribadiku! Paham!" lanjutnya pada anak buahnya.
"Paham Bos!"
"Bagus sekarang cepat berangkat!" titah Ravico dengan tegas.
"Baik Bos! Kalau begitu saya permisi!" kata Jack, lalu ia pun langsung menghidupkan mesin mobilnya dan tak berapa lama, mobil pun melaju, meninggalkan Ravico. Yang terlihat masih melambaikan tangannya, pada Shinta, yang terlihat begitu kesal pada sang Ayah.
"Huh! Dasar pak tua gresek! Selalu bikin kesal!" gerutu Shinta, begitu kesal.
"Hus! Kamu nggak boleh begitu, mau bagaimana pun, diakan Ayah kamu loh jadi..."
"Belain aja sana! Lihat aja, aku nggak mau menuruti keinginannya! Yang artinya aku nggak mau dekat-dekat kamu, huh!" sungut Shinta, memotong perkataannya Fahmi.
"Hah?! Kok gitu sih Shin? Aku sudah menahannya selama satu bulan masa harus menahan lagi sih?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Alhamdulillah, ternyata Readersnya masih orang yang baik, sehingga menambah juga votenya. Membuat Author semangat kembali. 🥰 Syukron ya guys, semoga kebaikan kalian semua, dibalas dengan kebahagiaan Oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sekali lagi terimakasih, dan semoga kalian tetap memberikan dukungan serta semangat buat author yaa.. love you guys 🥰
__ADS_1