
"Bingao!!" kata Hafizh, yang terlihat ia langsung tersenyum penuh kemenangan, setelah ia mendengar perkataan Sebastian.
Mendengar perkataan Hafizh, Jennifer pun langsung menyadari kesalahan Sebastian, membuat ia menjadi kesal pada pria yang berada di sebelahnya.
"Bodoh! Kenapa kamu bicara sembarangan sih! Bikin rusak semua rencana gue!" bentak Jennifer pada Sebastian.
"Aah, maaf Honey, aku tidak sengaja, itu karena aku sangat mengkhawatirkan kamu Honey," ucao Sebastian, sembari ia merangkul pundak Jennifer.
Mendengar perkataan Pria tersebut Hafidz merasa jijik. Namun ia juga merasa lega, setelah mendengar pengakuan pria tersebut. Karena itu artinya anak yang sedang di kandungan Jennifer bukanlah anaknya.
"Cih! Ingin membodohi gue? Tidak segampang itu perempuan ular!" gumam Hafizh, sembari ia menatap sinis wajah Jennifer.
"Hah! Sudahlah nggak ada gunanya melihat PP perdebatan wanita ular ini! Ayo Fahmi kita pergi!" kata Hafizh, tanpa ingin melihat wajah Jennifer lagi.
"Baik Pak!" kata Fahmi yang kemudian iapun mulai mendorong kembali kursi rodanya Hafizh, memasuki pintu lobby kantornya.
Melihat Hafizh pergi, membuat Jennifer semakin kesal. "Sialan kau Atha! Lihat saja aku akan membuat kamu menderita! Aku akan membalasnya!" teriaknya, penuh rasa dendam.
"Honey hentikan! Biar itu menjadi urusanku! Jadi sebaiknya sekarang kamu fokus saja dengan kehamilan kamu oke?" balas Sebastian, menenangkan Jennifer.
"Hmm oke kalau begitu! Tapi ingat jika kamu gagal, maka anakmu yang didalam kandunganku akan aku gugurkah!" ancam Jennifer sembari ia melangkah pergi dengan keadaan kesal.
"Cih, sepertinya wanita itu semakin besar kepala saja lihat saja kalau sampai dia menggugurkan kandungannya maka aku nggak akan segan-segan menghancurkannya juga!" gumam Sebastian, yang terlihat ia mulai geram pada Jennifer. Lalu ia pun akhirnya mengikuti langkah Jennifer.
__ADS_1
*****
Sementara di fakultas kedokteran.
Semenjak ia meninggalkan mobil Hafizh, sejak itu juga Haniah jadi selalu salah tingkah. Sehingga ketika Shinta memanggilnya ia seakan tidak mendengarnya. Membuat Shinta menjadi kesal, dan ia pun langsung memukul pundak Haniah dari belakang.
"Woy! Bolot banget sih jadi orang!" tegur Shinta terlihat amat kesal lihat sahabatnya itu.
"Astaghfirullah! Sakit banget tahu Shin," balas Haniah sambil mengusap-usap pundaknya yang habis dipukul oleh Shinta.
"Ya kamu sih dipanggilin orang dari tadi nggak dengar-dengar sih! Nggak tahu apa, pita suara gue hampir putus!" protes Shinta sambil memegang lehernya.
"Eh, ya maaf, aku benaran nggak dengar tadi" balas Haniah, yang memang ia merasa tak mendengar panggilan Shinta. "Emangnya, sejak kapan kamu memanggil aku Shin?" tanyanya lagi.
"Sejak kamu turun dari mobil suaminya kamu tau! Padahal, kalau kamu dengarkan gue bisa basa-basi dulu sama pujangga gue tadi," kata Shinta, masih terlihat kesal.
"Iis kamu nih yaa, yaitulah Abang Ami, gue, alias Fahmi, Asisten laki Lo tau! Humm gue kangen banget tahu sama dia," jawab Shinta, sembari ia meletakkan kedua tangannya di pipinya.
"Siap Fahmi?" tanya seorang pria, yang tiba-tiba muncul dari belakang, Haniah dan Shinta. sehingga membuat keduanya kaget mendengar suara bariton seorang pria, yang tiba-tiba menyambung perkatanya Shinta.
Mendengar suara bariton yang amat keduanya kenali. Seketika Haniah dan Shinta begitu dan keduanya pun langsung menoleh ke belakang.
"Eh Adam!" ujar Shinta dan Haniah secara bersamaan, setelah keduanya melihat seorang pria sedang berdiri tepat di belakang mereka.
__ADS_1
"Ah elo! Sudah kayak hantu aja deh! Main muncul tiba-tiba!" protes Shinta, yang terlihat, ia tak suka melihat kedatangan Adam.
"Iya benar! Aku emang hantu, yang bakalan nyekek kamu, kalau kamu mulai berani mendekati pria lain lagi," kata Adam, terlihat asal.
"Siapa Lo, Ikut campur urusan gue hah? Gue mau dekat pria lain kek, mau nggak kek, kayaknya bukan urusan elo deh!" protes Shinta, yang terlihat ia amat tidak suka melihat wajah Adam, dan membikinnya muak.
"Siapa aku? Bukankah aku calon Suami idaman kamu?" jawab Adam dengan entengnya.
"Cih nazis tralala deh! Ingat bung, kalau meludah tuh jangan di jilat lagi pamali tau! Ayoo Han, kita pergi dari sini! Dari pada gue muntah kelamaan disini!" ujar Shinta, sembari ia menarik tangan sahabatnya itu. Lalu mereka pun beranjak meninggalkan Adam.
"Eh, loh kok gue ditinggal sih? Woy Shin, ada yang mau gue omongin Ama elo!" teriak Adam, namun nggak direspon oleh Shinta. "Hah, ini salah gue! Kenapa waktu itu gue bentak-bentak dia ya?" gumamnya sembari ia memandang kepergian Haniah dan Shinta.
...*****...
Sementara itu Shinta dan Haniah yang pergi begitu saja meninggalkan Adam, Kini mereka telah sampai dikelas mereka.
"Kamu kok kasar begitu sih Shin sama Adam?" tegur Haniah, setelah mereka duduk di kursi mereka masing-masing.
"Aah bodo amat! Pria plin-plan gitu, emang kudu digituin Han, dia mah, bikin nggak cocok dibaikin bisa menggigit!" balas Shinta masih terlihat kesal.
"Hus! Nggak boleh gitu akh. Dan kamu juga harus hati-hati Shin, bisa-bisa Allah menjadikan dia Jodoh kamu loh!" kata Haniah mengingatkan sahabatnya itu.
"Astaghfirullah, Amit-amit ya Allah, jangan sampai aku berjodoh dengan Pria plin-plan seperti dia ya Allah, jauhkanlah" kata Shinta sambil menengadahkan tangannya.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit Oke😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.