TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
DIA SUAMIKU!


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


“𝙎𝙚𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙩𝙞𝙗𝙖-𝙩𝙞𝙗𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙤𝙡𝙖𝙠-𝙗𝙖𝙡𝙞𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖.


𝙄𝙩𝙪𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙙𝙖𝙡𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖...”


"𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘩𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱,𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢"


(𝓐𝓵𝓲 𝓑𝓲𝓷 𝓐𝓫𝓲 𝓣𝓱𝓪𝓵𝓲𝓫)


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


Fahmi dan Shinta masih berada di rumah kecil tempat Shinta membantu seorang ibu yang melahirkan bayinya. Karena Shinta bersikeras akan pergi setelah ayah sang bayi pulang, karena ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan bila mereka tinggalkan mereka begitu saja. Dan akhirnya Fahmi mengikuti keinginannya.


Selama mereka menunggu kedatangan Ayah sang bayi. Fahmi selalu memperhatikan Shinta, yang terlihat, ia terlihat begitu tulus setiap melakukan apapun untuk sang ibu dan juga bayinya. Seperti yang ia lakukan saat ini, ia sedang memberikan susu pada sang bayi. Dan tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang, saat melihat Shinta yang sedang tersenyum pada sang bayi yang sedang meminum susunya yang memakai botol dotnya.


"Hmm.. bagus Baby Boy, Kamu pintar ayo habiskan susunya sayang," ujar Shinta dengan lembut, ia terlihat sedang gemas pada sang bayi. Bahkan ia juga selalu menciumi bayi tersebut dengan penuh kasih sayang.


Fahmi yang melihat itu ikut tersenyum tipis, "Nona Shinta memiliki hati yang lembut, lihat saja, ia begitu menyayangi bayi itu, padanya bayi itu bukan siapa-siapa baginya. Pada anak orang lain begitu sayang, apalagi pada anaknya sendiri, sudah pasti dia akan menjadi ibu yang paling menyayangi anaknya. Aah! Ternyata aku salah menilainya. Apakah aku bisa memperbaikinya?" batin Fahmi, dengan mata yang tak pernah lepas dari setiap gerakan Shinta.

__ADS_1


Yaa Karena rumah wanita itu memang terbilang kecil, hanya memiliki satu ruangan, yang semuanya berada diruang tersebut. hanya sebuah tirai saja yang menutupi untuk tempat mereka tidur. Dan yang terpisah hanya kamar mandi saja dari ruangan tersebut. Makanya Fahmi yang saat ini sedang duduk di lantai yang beralaskan tikar saja, bisa melihat apapun yang dikerjakan Shinta. karena Shinta hanya menutup sedikit tirai untuk menutupi sang ibunya saja.


Disaat ia masih memperhatikan Shinta, tiba-tiba seorang laki-laki masuk begitu saja, dengan membawa kantong plastik. Membuat Fahmi kaget, saat laki-laki tersebut menjatuhkan kantongan plastiknya, saat melihat dirinya. Terlihat jelas kalau Pria tersebut seperti sedang marah melihat dirinya. Dan benar saja, Pria tersebut langsung menarik kerah baju Koko Fahmi dengan kasar, membuat Fahmi yang sedang duduk di lantai langsung tertarik dan berdiri.


"Siapa kamu hah?! Apakah kamu selingkuhan istriku hah?!" tanya pria tersebut dengan tatapan membunuhnya pada Fahmi.


"Eh, bukan pak bukan! Anda salah faham, saya bukan selingkuhan istri Anda!" jelas Fahmi, yang hanya mengangkat kedua tangannya saja. Karena ia tak ingin membalas perbuatan laki-laki tersebut.


"Sudah tertangkap basah kamu masih menyangkal hah! Dasar brengsek kamu ya!" ujar pria itu seraya mengepalkan tangannya, dan bersiap untuk meninju wajah Fahmi dan saat pria itu hendak melayangkan tinjunya tiba-tiba.


"Jangan Pak! Dia suamiku!" teriak Shinta, membuat Fahmi maupun Pria tersebut terkejut mendengarnya.


Seketika mata pria itu beralih ke Shinta, yang terlihat sedang menggendong bayi. Dan seketika itu juga Pria itu mendorong tubuh Fahmi, seraya ia berjalan mendekati Shinta. Lalu ia juga menyibak tirai yang menutupi tempat tidurnya, dan terlihatlah istrinya yang masih terbaring lemah, setelah pasca melahirkannya.


bertanya pada istrinya, ketika ia melihat perut sang istrinya, menjadi rata.


"Iya kang Yudi, Rida sudah melahirkan, dan yang menolong Rida, Neng Shinta berserta suaminya," jelas wanita yang dipanggil Rida oleh pria yang benama Yudi tersebut.


"Ooh begitu ya? Kalau begitu saya minta maaf, karena telah salah paham, pada suaminya neng Shinta. Sekali lagi maafkan saya ya Neng, Kang," kata Yudi, pada Shinta dan Fahmi.


"Iya sama-sama Pak! Lain kali, jangan main menghajar orang sebelum mencari kebenarannya! Ini bayi Anda! Karena saya mau secepatnya Pergi dari sini!" balas Shinta terdengar ketus, seraya ia menyerahkan bayi yang ada digendongannya pada Yudi.

__ADS_1


Yudi jadi merasa tidak enak hati, ia paham kenapa Shinta marah padanya, dan ia merasa bersalah atas kelakuannya terhadap Fahmi, "Maaf ya Neng, saya tahu Anda marah pada saya, karena kelakuan saya yang tidak terpuji terhadap suaminya Neng, sekali lagi saya minta maaf Neng," ucap Yudi, dengan tulus.


"Iya saya sudah maafin Anda!" balas Shinta masih terdengar ketus, "Baiklah Bu Rida, kalau begitu kami pamit ya, sekali lagi selamat atas kelahiran bayi Anda," lanjut Shinta kepada Rida yang terdengar lebih lembut padanya.


"Iya Neng, terima kasih," balas Rida, seraya tersenyum lembut pada Shinta.


"Oh iya, berapa saya harus membayar biaya persalinan istri saya Neng?" tanya Yudi, yang terlihat masih menggendong bayinya.


"Tidak perlu bayar! Karena saya hanya membantu Istri dan bayi Anda saja!" balas Shinta, kembali ketus pada Yudi, "Kalau begitu kami permisi! Assalamualaikum! Ayo bang kita pergi!" lanjutnya seraya ia merangkul lengan Fahmi, dan menggandengnya, keluar rumah, tanpa ingin menoleh lagi kebelakang. Terlihat sekali ia masih kesal terhadap Yudi. Sehingga ia pergi tanpa menunggu jawaban salamnya.


Disepanjang jalan Ketika mereka sudah diluar, Shinta masih menggerutu karena kesalnya terhadap Yudi. Dan itu membuat ia tak sadar kalau dirinya masih menggandeng lengan Fahmi.


"Dasar laki-laki arogan! Main kasar sembarangan! Pantas saja, aku melihat ada bekas pukulan pada istrinya! Rupanya dia laki-laki pencemburu yang berlebihan! Huh! Seharusnya laki-laki seperti itu tak pantas berada di bumi ini!" gerutu Shinta disepanjang jalannya, menuju kedepan gang.


Sedangkan Fahmi hanya tersenyum lucu menyaksikan gerutuannya serta wajah kesal Shinta yang terlihat menggemaskan dimatanya. Ia sempat senang, ketika Shinta menyebut dirinya sebagai suaminya. Rasanya ia seperti memiliki seorang istri, yang sedang mencintainya. Sehingga ia akan marah bila ada orang yang ingin menyakiti dirinya. Melihat itu entah mengapa ia jadi ingin menggodanya.


"Sayang Mau sampai kapan kamu menarik tangan suami kamu ini hm?" tanya Fahmi membuat Shinta tersentak dengan mata terbelalak. Dan dengan spontan ia langsung melepaskan lingkaran tangannya yang berada dilengannya Fahmi.


"Eh! Kamu! Eh, tunggu dulu! Tadi kamu panggil saya apa?" tanya Shinta yang terlihat begitu penasaran. Sebenarnya ia mendengar sebutan sayang dari Fahmi. Namun entah mengapa ia ingin mendengarnya kembali, karena ia takut kalau kupingnya salah mendengar.


"Sayang!"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2