
Keesokan harinya.
Pagi itu Haniah, terlihat baru menyelesaikan kewajibannya terhadap Rabb-nya. Setelah usai mengaji ia langsung bersiap-siap dengan memakai gamis berwarna biru tosca. Dengan memakai hijab dan cadarnya dengan warna senada dengan bajunya. Setelah ia juga menyandangkan tasnya dibahunya, sepertinya ia hendak pergi ke kampusnya.
Setelah selesai ia pun langsung berjalan menuju pintu kamarnya. Disaat ia keluar dari kamar, ternyata Atha juga keluar dari kamarnya secara bersamaan dengan Haniah. Membuat mata mereka akhirnya bertemu.
Namun dengan cepat Haniah, langsung membuang pandangannya kepintu sambil menutup pintu kamarnya kembali. Setelah itu ia bermaksud melangkahkan kakinya. Namun tubuh Atha menghentikan langkah kakinya, karena ia menghadang jalan Haniah.
"Mau kemana? Kenapa tidak menyiapkan sarapan hah?" tanya Atha dengan tatapan dingin terhadap Haniah.
"Mau kemana ana? Kayaknya bukan urusan anta deh! Dan apa tadi? Ana di suruh siapkan sarapan? Bukankah Anta punya istri? Mengapa tidak menyuruh dia saja yang menyiapkannya. Karena itu sudah kewajiban diakan? Jadi tolong pinggir dari jalan Ana, karena ana mau pergi!" balas Haniah, dengan tatapan yang tak kalah dinginnya dengan Atha.
"Kamu! Berani sekali kamu membantah gue ya? Dan lagian bukankah kamu juga istriku? Jadi sudah kewajiban kamu jugakan menyiapkan sarapan untukku!" seru Atha terlihat kesal.
"Heh.. Istri? Sejak kapan Anta mengakui ana istri?" tanya Haniah ketus, "Bukankah selama ini Anta tidak pernah mengakuinya ya? Begitu juga Ana! Semenjak anta mengabaikan janji di empat tahun yang lalu. Bagi ana pernikahan ini sudah tidak ada artinya. Jadi jangan pernah berharap lebih pada ana!" pungkas Haniah, dan ia langsung berjalan menyamping melewati Atha dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat.
__ADS_1
"Tunggu! Lalu kenapa kamu masih bertahan disini? Kenapa kamu tidak pulang saja ke kampung dan mengakhiri semua ini hah?" tanya Atha sambil mengikuti langkah Haniah yang terlihat berjalan dengan tergesa-gesa.
"Itu karena Ana bukan orang yang suka menyakiti hati orang lain! Apalagi orang tua Anta! Merekalah yang selalu menahan ana! Jadi Ana tidak memiliki kesempatan pergi!" ucap Haniah, tanpa ingin melihat wajah Atha.
"Tetapi Anta tidak perlu khawatir, karena secepatnya ana akan pergi dari sini! Dan ana juga tidak akan menggangu pernikahan anta!" balas Haniah, dan langsung melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar. Dan menghilang di balik pintu rumah mereka.
Sedangkan Atha langsung terdiam mendengar perkataan dari Haniah. Dan kata-katanya seperti anak panah yang langsung menancap di ulu hatinya. Yaa Atha mengakui kalau selama ini ia tak pernah memperdulikan bagaimana perasaan orang tuanya. Dan itu artinya ia telah menyakiti orang tuanya sendiri.
Disaat ia sedang hanyut dalam pemikirannya. Tiba-tiba tangan Jennifer memeluknya dari belakang. Seketika Atha langsung tersentak.
"Kamu sedang apa Beb? Mengapa sejak tadi kamu melamun dan memandang pintu itu terus?" tanyanya terlihat heran. Karena ia memang tak mengetahui kalau Azkha sempat berdebat dengan Haniah.
"Hah? Cocok kok Beb, kamu pemikirannya aneh deh? Oh iya apakah istri buruk rupa kamu, sudah menyiapkan sarapan untuk kita Beb?" tanya Jennifer terdengar manja.
"Aku suruh dia pergi Honey, karena Aku ingin memakan masakan istriku yang cantik ini" balas Azkha, dan lagi-lagi ia berbohong, agar Jennifer mau memasak sarapan untuknya.
__ADS_1
"Iikh..kamu manja deh Beb! Kamukan tahu aku tidak pernah memasak! Jadi jangan meminta aku untuk masak deh!" kata Jennifer, sembari ia melepaskan lingkaran tangannya yang berada didada bidang Atha. Lalu ia melangkah ke sebuah sofa panjang yang ada diruang tamu tempat mereka berada saat ini.
"Ooh, jadi kamu mau aku makan masakan dia terus ya Honey?" balas Atha, sembari ikut menghampiri istrinya yang kini sudah duduk di sofa panjang tersebut. Lalu ia pun langsung duduk di sebelahnya.
"Iya apa salahnya? Anggap saja dia pembantu kita Beb!" kata Jennifer begitu entengnya.
"Iya juga sih? Tapi kalau aku jatuh cinta karena masakannya apa kamu rela honey? Apalagi kamu tahukan masakannya enak banget, kalau tiap hari...."
Mendengar perkataan suaminya, seketika mata Jennifer membulat, dan seketika ia menghentikan perkataan Atha.
"Iiss.. stop jangan di teruskan! Iya aku akan masakin kamu!" potong Jennifer terlihat kesal mendengar perkataan Atha.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Jangan lupa dukung author terus ya guys 😉.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya oke 🙏🥰.
Syukron 🥰😘.