TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
NYONYA KECIL.


__ADS_3

Waktu terus berjalan, kondisi Atha juga semakin membaik, bahkan dokter sudah memperbolehkan ia pulang. Namun ia masih harus dibantu dengan kursi roda, mengingat kondisi kakinya belum pulih benar. Tetapi ia sangat bersyukur sekali, karena kondisinya yang seperti itu, membuat Haniah, menjadi dekat padanya.


Bahkan Atha menjadi manja pada Haniah, yang apapun minta dibantu dengannya. Terlihat sekali ia ingin mengambil kesempatan itu, agar Haniah tak merasa canggung padanya lagi. Seperti saat ini ketika mereka telah sampai di rumah mereka.


"Bang Fahmi, tolong antarkan Mas Atha kekamarnya ya, saya mau masak dulu," titah Haniah pada Fahmi, yang terlihat, sedang membantu Atha, turun dari mobil dan membantunya juga menaiki kursi tamu rodanya.


Mendengar titah Haniah pada Fahmi, membuat Atha seperti tidak senang. "Loh, kok Fahmi yang bantu Mas, Niah? Mas nggak mau akh!" protesnya terdengar manja.


"Mas, sebentar lagi kamukan mau minum obatkan? Berarti Mas harus makan dulu iyakan? Terus kalau Niah nggak masak, Mas mau makan apa coba? Jadi Mas istirahat dulu ya diantar Bang Fahmi, biar Niah masak untuk makannnya Mas, oke?" ujar Haniah dengan lembut, memberikan pengertian kepadanya.


"Tapi Niah, tadi kata Papa di telpon, ia sudah mengirimkan Bi Ratmi untuk membantu kamu mengurus rumah, jadi mungkin sekarang Bi Ratmi sudah memasak untuk kita Niah," balas Atha semabri ia memegang tangan istrinya.


"Eh, benarkah itu Mas?" tanya Haniah, sembari ia melihat kearah pintu masuk rumahnya.


"Kalau kamu tidak percaya, sebaiknya sekarang mari kita masuk dulu ya? Biar kamu bisa melihatnya sendiri," balas Atha, dengan tatapan terlihat berharap Haniah mau mendorong kursi rodanya.


Haniah yang sepertinya paham dengan tatapan suaminya ia, berjalan menuju ke belakang kursi rodanya Atha. "Baiklah mari kita masuk," katanya sembari ia mulai mendorong kursi rodanya Atha.


Setibanya mereka di depan pintu, ternyata disana sudah ada seorang wanita paruh baya yang wajahnya amat Haniah kenali. Ia terlihat tersenyum senang menyambut kedatangan keduanya.


"Mbok Ratmi? Assalamualaikum Mbok?" ujar Haniah terlihat senang melihat wanita paruh baya yang bernama Ratmi tersebut.


"Wa'alaikumus salam Nyonya kecil, selamat datang Den Atha," balas Ratmi, sembari ia membungkukkan tubuhnya sedikit tanda ia memberi hormat pada Atha.


Atha mengerutkan keningnya, saat ia mendengar Ratmi menyebut panggilan untuk Haniah dengan nyonya kecil. "Kenapa Bi Ratmi manggil Nyonya kecil sama istriku Bi?" tanyanya terlihat heran.


"Eh, hehehe.. itu Den, kan waktu istri Aden masuk ke rumah nyonya besar, dia masih kecil Den jadi Bibi kebiasaan memanggilnya Nyonya kecil, Den," jelas Ratmi, sambil cengengesan, karena teringat ketika Haniah pertama kali masuk kerumah orang tuanya Atha.


"Eh, iyakah? Bukankah saat aku pergi keluar negeri, dia juga pergi ke kota JT Bi?" tanya Atha, terlihat penasaran. Karena seingatnya Ayah Haniah mengatakan hari dimana Atha berangkat Haniah juga dikatakannya akan berangkat juga.


"Iya Den benar, tapi sebelum Nyonya kecil berangkat, Tuan besar membawanya dulu kerumahnya, bahkan setiap Nyonya kecil liburan, Tuan pasti menjemputnya," jelas Bi Ratmi lagi.


"Ooh, pantas Papa lebih menyayangi kamu ketimbang aku anak kandungnya sendiri ya? Rupanya kamu lebih sering menemani mereka ketimbang aku. Terima kasih ya Niah, kamu sudah menjagai orang tuaku. Dan maaf, karena aku selalu su'uzon sama kamu," ujar Atha terlihat ada penyesalan dari raut wajahnya.


"Sudahlah tidak usah di ingat lagi ya? Sekarang sebaiknya Mas istirahat ya, kamukan harus banyak-banyak istirahat, biar secepatnya kaki kamu sembuh Mas," ujar Haniah mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah Bu Dokter, sesuai keinginan Anda saja, pasien mah hanya bisa pasrah mengikuti perintah dokternya saja," ujar Atha, sembari ia mengedipkan sebelah matanya, membuat mata Haniah membulat sempurna.

__ADS_1


"Iiiis, apaan sih Mas! Ya sudah ayo kita masuk!" kata Haniah, terlihat sedikit malu, karena saat Atha mengedipkan mata genitnya, di lihat juga oleh Ratmi. "Mbok, kami masuk dulu ya," Pamitnya pada Ratmi, sembari ia mulai mendorong kursi roda suaminya itu.


"Silahkan Nyonya kecil,"


Setelah mendengar balasan dari pembantunya, Haniah langsung beranjak, sembari ia mendorong kursi roda suaminya. Atha terlihat senang saat melihat wajah istrinya terlihat tersipu malu. Namun wajahnya langsung berubah tatkala, Haniah membawanya ke kamar tamu yang berada di lantai bawah.


"Loh! Kenapa Mas dibawa ke kamar ini Niah?" tanyanya terlihat tidak senang.


"Mas, kaki kamukan masih sakit, nggak mungkinkan Niah membawa Mas ke kamarnya Mas yang dilantai dua?" jelas Haniah, yang terlihat sudah mendekati kursi roda disisi ranjang kamar tamu.


"Hmm, apakah itu artinya kita akan tidur terpisah Niah?" tanya Atha terlihat resah, karena ia tak ingin mereka tidur secara terpisah lagi.


"Emangnya maunya Emas gimana hm?" tanya Haniah, dengan lembut. Sembari ia mengunci kursi roda suaminya. Lalu ia pun duduk di tepi ranjang menghadap ke Atha. Mendengar pertanyaan Haniah, Atha pun meraih kedua tangan Haniah.


"Niah, Mas ingin menjalani kehidupan rumah tangga kita, seperti kedua orang tua kita. Saling melengkapi baik di saat susah maupun senang, memiliki anak, dan mendidiknya bersama-sama. Terutama Mas ingin menjadikan rumah tangga sebagai ibadah dan semuanya karena Allah," tutur Atha, dengan tatapan lembut penuh pengharapan.


"Apakah kamu bersedia Niah? Menjalankan ibadah terpanjang ini denganku?"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit Oke😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.



Biar tambah penasaran author kasih cuplikannya akh cus Akh Cekidot 😉👇


Judul : MAKMUM PILIHAN MICHAEL EMERSON


Penulis :SkySal


Cuplikan


"Sayang, kok kamu cantik banget sih kalau pakai daster begini?" Micheal berkata sembari bergelenyut manja di punggung Zenwa yang saat ini sedang membuat roti panggang.


Zenwa memang hanya memakai daster saat ini, rambutnya di cepol asal dan ia tidak memakai apapun di balik daster itu di karenakan tadi ia terburu-buru, perutnya sudah keroncongan dan cacingnya itu sudah demo minta makan.


"Cantiknya buat kamu," ucap Zenwa yang sedikit kesulitan bergerak karena Micheal yang terus menempel seperti anak ayam yang baru menetes. "Sayang, kamu tunggu di meja makan ya, aku mau buat susu dulu," tukas Zenwa kemudian.

__ADS_1


"Tapi masih kangen, masih mau hirup aroma kamu," rengek Micheal manja dan ia pun mencium tengkuk Zenwa, seluruh tubuh Zenwa meremang, dan ia menggeliat geli.


"Kangen bagaimana? Kita selalu bersama," kata Zenwa dan ia mengambil dua gelas untuk membuat susu.


"Ya kangen, tadi pas aku bangun tidur, kamu tidak ada, kita sudah berpisah tadi karena kamu sibuk di dapur." Zenwa terkekeh mendengar aduan suaminya itu.


"Kamu nyenyak sekali tidurnya, aku tidak tega yang mau bangunin, Sayang."


"Tapi kan bisa pamit dulu, cium dulu gitu, sebelum pergi ke dapur."


"Sudah, tadi aku sudah cium kamu."


"Bohong! Nggak kerasa."


"Ya kan kamu tidur, gimana mau terasa?"


"Seharusnya terasa kalau kamu ciumnya di bibir, tadi kamu ciumnya dimana?"


"Di tangan."


"Yah, di tangan itu kalau aku mau berangkat kerja.


"Okey okey. Sekarang, ayo kita makan, setelah ini aku cium di bibir."


"Janji?"


"Iya."


"Mau bikin bayi lagi?"


"Pabriknya masih capek, Sayang."


Tbc....


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


Cieee pasti penasarankan 🤭.

__ADS_1


Cus yuk akh kepoin 😉 Jangan lupa juga berikan dukungannya juga oke. Dan sampaikan salam Ramanda pada Skysal oke guys 🙏 Syukron 🥰


__ADS_2