TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
CARA MEMUDAHKAN PERSALINAN.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🧡Mutiara Hikmah.🧡❉্͜͡═══*


Bahasa Cinta Allah


Jangan melemah, meski mata harus berair. Jangan berhenti melangkah meski terasa berat. Hidup harus terus berjalan maju, tidak stagnan atau berjalan mundur.


Karena hidup itu penuh liku liku, ujian datang silih berganti, tapi satu hal yg harus kita pahami bahasa cintanya Allah.


Mungkin kita mengartikan cinta Allah sebatas pada nikmat yang Allah beri. Sebatas apa yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara Allah bersifat Maha Penyayang dan Pengasih melebihi apapun yang pernah kita ketahui di dunia ini.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🧡❉্᭄͜͡•═══════•


Waktu berlalu begitu cepat, kini kehamilan Haniah yang memasuki bulannya. Dan itu membuat Hafidz harus siap siaga, karena memang justru ia yang selalu merasa khawatir. Padahal Haniah malah tenang-tenang saja, karena ia terlihat begitu menikmati masa-masa kehamilannya. Berbeda dengan Hafidz, yang bahkan ia begitu posesif pada istrinya. Sehingga malah membuat Haniah street, akan perlakuan suaminya.


"Sayang! Kamu lagi ngapain sih disini? Bukannya Istirahat saja!" tegur Hafidz, tatkala ia melihat Haniah sedang berada di dapur.


"Niah, lagi masak kesukaan kamu Mas, bentar ya, sedikit lagi matang kok," balas Haniah, yang terlihat ia sedang fokus dengan masakannya.


"Kenapa harus repot-repot sih! Kan sudah ada Bibi, Sayang," ujar Hafidz, seraya ia mengambil sutil yang di pegang Haniah, untuk mengaduk masakannya.


"Mas kok diambil sih! Kemarikan Mas, nanti gosong masakan Niah," protes Haniah, yang terlihat ia sedang berusaha untuk mengambil kembali spatula yang sedang dipegang Hafidz.


Hafidz bukannya membalas perkataan Haniah, ia malah berteriak memanggil nama pembantunya, "Mbook Ratmi!" panggilnya, dan tak berapa lama muncullah wanita paruh baya, yang terlihat sedang tergesa-gesa menghampirinya.


"Iya Den, ada apa? Maaf tadi si Mbok, mengangkat telepon dari Ibunya Aden," balas Ratmi, berkata apa adanya.


"Ooh, ya sudah ini lanjutkan masakan istriku!" kata Hafidz, seraya ia menyerahkan spatula, yang ia rebut tadi dari Haniah.

__ADS_1


"Baik Den," balas Ratmi dan mengambil spatula tersebut.


"Dan satu lagi Mbok, mulai besok jangan izinkan istriku kedapur lagi, kamu pahamkan Mbok?" kata Hafidz lagi, terdengar begitu tegas.


"Paham Den," balas Ratmi, yang kini wajahnya terlihat agak sedih. Karena sebenarnya ia sudah melarang Haniah untuk tidak kedapur lagi. Tetapi karena Haniah, selalu memaksa akhirnya mau tak mau ia akhirnya membiarkan majikannya menyalurkan hobinya.


"Mas, kenapa sih? Kenapa malah menyalahkan Mbok Ratmi sih? Niah memasak, itu atas keinginan Niah! Jadi, Mbok Ratmi tidak salah apa-apa tau!" tegur Haniah, mulai kesal dengan sikap posesif suaminya yang menurutnya semakin parah. Dan habis mengungkapkan kekesalannya, Haniah pun langsung beranjak pergi meninggalkan Hafidz, karena ia tak mau Mbok Ratmi melihat ia yang sedang kesal pada suaminya.


"Loh, Sayang, kok Mas ditinggal sih?" protes Hafidz, namun tak dihiraukan oleh Haniah, yang terlihat ia terus melangkah menuju ke kamarnya.


"Haiiis.. marah lagi dah tuh, padahal aku melakukan ini, untuk kebaikan dia jugakan? Akukan kasihan melihat dia yang perutnya semakin membesar. Aah, sudahlah sebaiknya sekarang aku rayu saja dia, semoga marahnya langsung meredam," gumam Hafidz, yang akhirnya ia menyusul Haniah, kekamarnya.


Setibanya Hafidz didalam kamar, ia melihat istrinya sedang duduk disisi tempat tidurnya, dengan wajah yang terlihat sedang cemberut. Hafidz pun langsung menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya. Lalu ia bermaksud meraih tangan Haniah, namun langsung di tepis oleh Haniah.


"Sayang, maafin Mas dong. Mas melakukan inikan demi kebaikan kamu. Mas nggak tega aja, melihat kamu melakukan hal-hal yang nggak penting itu, saat perut kamu semakin besar. Bukankah sebaiknya kamu harus banyak istirah..." ucap Hafidz, memberikan penjelasan, namun langsung dipotong oleh Haniah.


"Mas, sudah berapa kali sih Niah katakan, kalau wanita yang sudah memasuki bulannya, itu memang harus banyak melakukan aktivitas, seperti berjalan dan melakukan hal-hal yang membantu memindahkan bayi ke panggul dan gravitasi memberikan tekanan pada leher rahim, yang dapat melunakkannya atau membantu membukanya, dan itu akan membuat persalinan menjadi lancar Mas," jelas Haniah, berharap Suaminya mengerti.


"Ya itukan untuk kebaikan Niah, dan Anak kita Mas, biar lancar loh," kata Haniah, yang masih berusaha memberikan pengertian pada Hafidz.


"Iya sih, tapi emangnya nggak ada cara lain ya Sayang?"


"Ada sih!"


"Oh iya? Terus bagaimana caranya Sayang?" tanya Hafidz, terlihat begitu antusias. Melihat wajah suaminya yang terlihat begitu penasaran. Haniah pun mendekati wajahnya ke telinga suaminya.


"Berhubungan intim Mas," bisik Haniah, membuat mata Hafidz langsung terbelalak.


"Hah! Kamu bercanda Sayang?" tanyanya seperti tak percaya dengan perkataan Haniah.

__ADS_1


"Tidak! Mana ada perkataan dokter yang bercanda soal itu Mas,"


"Tapi Sayang, apakah itu tidak menyakiti bagi sang Bayi? Kan kalau melakukan itu otomatis anunya..apa ya? Hmm.. maksudnya ituloh sayang, emangnya anuannya si bapak, apa nggak terkena sama kepala si bayi ya?" tanya Hafidz, terlihat polos.


"Kenapa Mas jadi bepikir kesana sih?"


"Yaa, kan kamu tahu sendiri junior Mas panjang, jadi ya mas bepikir..."


"Sssssht..diam Mas! Nggak malu apa nyebut kata gituan!" potong Haniah sambil membukam mulut suaminya. Namun tangan Hafidz, langsung meraih tangan Haniah kembali.


"Kenapa harus malu sih Sayang? Lagian yang dengar cuma kamu doang! Ditambah lagi inikan punya kamu!" balas Hafidz, yang tak memiliki rasa canggung sedikit pun pada Haniah.


"Aaah, sudahlah ngomong sama Mas, bikin pusing! Mendingan Niah jalan-jalan aja!" cetus Haniah, seraya ia bangkit dari duduknya. Namun dengan sigap Hafidz menarik tangannya. Dan otomatis ia langsung terduduk dalam pangkuan Suaminya.


"Maaf Sayang, ya sudah sekarang jelaskan dong, mengapa hubungan intim bisa memperlancar jalannya bayi?" tanya Hafidz, seraya ia membuka Hijab besar yang masih dipakai istrinya.


"Mas? Bila leher rahim ibu hamil sudah siap untuk persalinan dan tanggal jatuh tempo sudah dekat, berhubungan pada usia 40 minggu bisa membantu melancarkan persalinan. Namun, bila kondisi ibu hamil dan leher rahim belum cukup siap, maka berhubungan intim tidak membantu apa-apa.


Meski begitu, bila persalinan sudah waktunya dan ibu tidak kunjung merasakan kontraksi, ibu bisa mencoba untuk berhubungan intim dengan pasangan. Faktanya, berhubungan intim pada waktu menjelang atau saat jatuh tempo cara memudahkan persalinan dengan cara berikut:


Merangsang rahim saat ibu mengalami orgasme.


Memicu pelepasan oksitosin, yang merupakan hormon yang berperan dalam pengaturan kontraksi. Melebarkan serviks dan membukanya, karena adanya prostaglandin dalam ******, yaitu hormon yang memicu persalinan, melembutkan dan mematangkan serviksnya..hum.. " jelas Haniah panjang lebar. Namun disaat ia sedang menjelaskan, Hafidz, malah sibuk dengan penelusurannya dibagian Tengku dan sekitar lehernya. Membuat tubuh Haniah otomatis bergeliat.


"Ukhm..Mas, apa yang kamu ah.. lakukan sih? Humm..." tanya Haniah, yang terlihat berusaha melepaskan diri dari dekapannya Hafidz.


"Mas, mau membantu Bayi kita Sayang..cup.."


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


Jangan lupa mampir loh ke karya author terbaru 😉 soalnya masih sedikit pendukungnya.



__ADS_2