
Jam 01:30 di rumah dinas Haniah.
Semenjak kepergian Atha, Haniah terlihat begitu gelisah. Membuat matanya jadi enggan untuk dipejam. Apalagi setiap ia memejamkan mata, membuat ia jadi teringat saat Atha yang ia pergoki tadi menitikkan air matanya, membuat jantungnya tiba-tiba bergejolak.
"Astaghfirullah, ada apa ini? Kenapa jantung Ana jadi berdebar-debar begini sih?" gumamnya semabri ia mengelus-elus dadanya.
Kegelisahan Haniah, mengakibatkan Shinta yang sudah tertidur, akhirnya kembali membuka matanya. Karena sudah pasti gerakan Haniah menimbulkan goyangan pada springbad yang mereka tiduri alhasil Shinta pun terbangun.
"Kamu kenapa sih Han? Dari tadi kok goyang Mulu! Ganggu tidur cantikku saja sih!" tegur Shinta, dengan mata yang masih terlihat memerah menandakan ia masih mengantuk.
"Astaghfirullah! Maaf Shin, Ana jadi membuat kamu terbangun," balas Haniah merasa bersalah.
"Udah nggak papa. Tapi ngomong-ngomong, kamu sebenarnya Kenapa sih? Kok kayaknya aku lihat kamu lagi gelisah ya?" tanya Shinta terlihat penasaran.
"Iya nih Shin, malam ini Ana gelisah banget, Ana nggak tahu mengapa Ana segelisah ini. Jantung Ana sejak tadi berdebar terus," balas Haniah yang akhirnya, ia mengutarakan kegelisahannya.
"Biasanya kalau seperti itu, akan terjadi sesuatu, atau mau mendapatkan kabar buruk tuh Han," ujar Shinta, terdengar asal.
"Astaghfirullah! Hus, jangan berprasangka buruk akh, semoga kita semua dalam lindungan Allah," ucap Haniah, dan saat bersamaan pintu rumahnya di ketuk seseorang.
"Eh, siapa sih yang ngetuk pintu, malam-malam begini!" gerutu Shinta sembari ia melihat jam yang tergantung di dinding kamar mereka. "Hah! Sudah jam dua pagi loh! Usil banget mengganggu istirahat kita!" gerutunya lagi terlihat kesal, pada si pengetuk pintu.
"Sssth.. nggak boleh menggerutu begitu! Siapa tahu di ada warga yang sedang membutuhkan bantuan kita. Sudah sana kamu bukakan saja pintunya!" tegur Haniah, sembari ia bangkit dari ranjang, dan langsung mengambil hijab dan cadarnya.
"Haiis.. iya iya aku bukakan pintunya!" balas Shinta, masih terdengar kesal. Seraya ia turun dari tempat tidurnya dan langsung keluar dari kamar mereka untuk membuka pintu rumahnya.
Setelah pintu terbuka, terlihatlah seorang wanita berpakaian putih, berdiri tepat di depan pintu rumah dinas milik Haniah dan Shinta.
"Suster Nita? Ada apa ya kok malam-malam begini mengetuk pintu rumah kami?" tanya Shinta setelah ia mengenali wanita berpakaian putih tersebut.
"Maaf Dokter, saya mengganggu istirahat Anda. Tapi ini darurat dokter, ada pasien kecelakaan membutuhkan pertolongan Dokter Shinta dan Dokter Haniah," ujar wanita berseragam.
"Ooh.. baiklah, tunggu sebentar saya mengambil jas saya!" balas Shinta.
"Silahkan Dok!"
__ADS_1
Shinta pun kembali masuk kedalam dengan langkah sedikit tergesa-gesa. Membuat Haniah yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut. Karena hampir saja mereka bertabrakan.
"Akh! Astaghfirullah.. Shinta! Bikin kaget saja sih!" sentak Haniah saat mereka hampir tabrakan.
"Sorry.. sorry..! Aku terburu-buru soalnya!" balas Shinta, sembari ia memasuki kamar mereka.
"Emangnya ada apa sih?" tanya Haniah penasaran, seraya ia mengikuti Shinta dari belakang memasuki kamar mereka kembali.
"Ada Pasien kecelakaan, kata Suster Nita, dan kita diminta menangani pasien tersebut! Han," jelas Shinta sembari ia memakai jas kebesaran Dokternya.
"Innalilahi.. Ya sudah ayo kita segera kesana!" ajak Haniah, sembari ia juga mengambil jas putih yang sedang tergantung di dinding kamarnya, dan langsung memakainya.
Setelah keduanya sudah memakai jas putih Mereka masing-masing. Haniah dan Shinta pun langsung bergegas, pergi menuju ke puskesmas, yang kebetulan berada didepan rumah Dinas mereka.
Setibanya mereka di dalam puskesmas, Haniah dan Shinta langsung menuju ruang UGD, dimana pasien kecelakaan itu berada. Dan ketika Haniah sudah berada didepan pintu ruang UGD, tiba-tiba seorang pria memanggilnya.
"Dokter Hani tunggu sebentar!" panggil seorang pria yang terlihat ia juga memakai jas putih juga.
Haniah langsung menoleh, kesumber panggilan tersebut. "Ada apa Dokter Adam?" tanya Haniah, terdengar datar.
"Maaf Dokter Hani, sebaiknya Anda jangan masuk! Biarkan kami yang menangani pasien tersebut!" ujar pria berjas putih, yang ternyata Dia adalah Adam.
Haniah mengerutkan dahi, saat mendengar larangan dari Adam, padahal setahunya dirinya dan Shintalah yang diminta untuk menangani pasien tersebut.
"Apa maksudnya Anda Dok? Bukankah Dokter kepala meminta kami yang menangani pasien?" tanya Haniah, sedikit heran.
"Iya Saya tahu Dokter Hani, tapi sebaiknya Anda jangan masuk ya?" kata Adam lagi, membuat Haniah menjadi penasaran. Sehingga tanpa ingin membalas perkataannya Adam ia langsung menerobos masuk keruang UGD tersebut.
"Hani tunggu!" teriak Adam saat melihat Haniah yang langsung menerobos masuk. Ia seperti ingin mencegah Haniah memasuki ruangan tersebut.
Namun Adam gagal mencegah karena Haniah, kini sudah berdiri tepat di depan tempat tidur pasien yang diatasnya terdapat seorang pria yang wajahnya dan pakaiannya dipenuhi oleh darah. Akan tetapi walaupun, wajah pasien sedang berlumuran darah. Namun Haniah masih bisa mengenali wajah pria tersebut.
"Bang Hafiz!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit yaa😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.
Oh iya selagi menunggu Author update, yuk kepoin Novel kakaknya Author, yang novelnya in shaa Allah, membawa manfaat juga. Cus Akh kepoin yuk Novel Author 💓JULIA FAJAR 💓
Agar pada penasaran Author kasih sedikit Cuplikannya ya cus cekidot 😉👇
Mencium aroma busuk dan menyengat sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Zero. Zero yang besar dilingkungan pemulung, sudah terbiasa dengan kehidupan kumuh, bergelut dengan sampah yang menurut sebagian besar orang pasti sangat menjijikkan.
Namun Zero bersyukur, berkat sampah dia dan ibunya bisa bertahan hidup, bisa sekolah hingga sekarang duduk di bangku SMA.
Kebutuhan biaya menjelang ujian akhir dan kelulusan cukup besar, sedangkan emaknya tidak bisa membantu dan saat ini sedang sakit bahkan membutuhkan biaya pengobatan yang lumayan banyak.
Hal ini tentu saja membuat Zero kuwalahan dalam mengumpulkan uang, walaupun teman-teman di likungannya sudah berusaha untuk membantu, tetap saja belum cukup.
Selama libur sekolah menjelang ujian akhir berlangsung, Zero memulung dari pagi hingga petang, tapi hasilnya tidak sepadan dengan waktu yang telah dia habiskan.
Namun Zero tidak mau menyerah, dia yakin usaha pasti tidak akan mengkhianati hasil, itulah prinsip hidup yang selalu Zero tanamkan di dalam hatinya.
Selain itu dia juga salah satu hamba yang yakin dengan Sang pencipta, walaupun dirinya setiap hari bergelut dengan kotoran tapi Zero tidak pernah lupa dengan kewajibannya untuk beribadah.
Zero selalu membawa bekal makanan dan pakaian ganti di dalam tasnya hingga saat tiba waktu sholat dia menyempatkan diri untuk singgah ke masjid, mandi lalu ikut dalam barisan sholat berjama'ah.
Didikan Mak Salmah yang keras, sejak Zero kecil berhasil membuatnya menjadi pemuda yang tegar dan mandiri, hingga dalam situasi tersulit pun Zero bisa tetap tenang.
Pagi ini setelah mencuci pakaian, membereskan rumah dan menyiapkan sarapan untuk emaknya, Zero pamit akan memulung di pusat pasar.
Biasanya dia hanya memulung di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang tidak jauh dari rumahnya, tapi entah mengapa malam tadi dia seperti mendapatkan firasat, akan memperoleh rezeki lebih jika memulung ke arah kota, tepatnya dekat pasar.
Seperti biasa, Zero terlebih dahulu memasukkan bekal makanan, minuman dan pakaian ganti ke dalam tasnya, lalu dia menyalim tangan emak sambil meminta agar mendoakannya pulang nanti membawa rezeki yang banyak dan berkah.
Mak Salmah pun mengelus kepala putranya, sembari berkata, "Hati-hati ya Nak! Di sana bukan tempatmu biasanya mencari rezeki, jadi jangan sembarangan mengambil apa yang tidak mereka buang. Kita memang miskin, tapi kita bukanlah pencuri, Mak tidak ingin terjadi hal buruk terhadapmu."
"Iya Mak..., Insyaallah Zero akan selalu ingat pesan emak."
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Ayo pasti penasarankan, cus yuk kepoin Novel kakaknya Author. Dan jangan lupa sampaikan salam Ramanda ya sama Author Julia Fajar oke guys 😉 Syukron 🥰🙏.