TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
PRIA LICIK.


__ADS_3

*┉━•❖❀🤍 Mutiara Hikmah 🤍❀❖•━┉*


"Di saat dalam keadaan gelap tanpa cahaya, sebuah lentera akan menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan sebagai jalan penerang. Dan betapa bahagianya jika lentera penerang tersebut ditemukan.


Akan tetapi, kondisi ini akan berbalik disaat seseorang berada didalam keadaan yang terang benderang, lentera tersebut tidak akan dipergunakan bahkan mungkin diacuhkan dan dipadamkan."


Itulah cara Allah menyayangi hambaNya, "Disetiap kesulitan pasti ada kemudahan".


(QS. Al Insyirah : 6)


*┉━━━━━━•❖❀🤍❀❖•━━━━━━┉*


Disebuah gedung bertuliskan H&H grup.


Disebuah ruangan terlihat Hafidz, sedang fokus pada layar laptopnya. Wajahnya nampak begitu serius saat memperhatikan layar tersebut. Namun tiba-tiba, wajahnya langsung berubah, saat ia menemukan hal yang tak beres dalam layar tersebut.


"Heh! Ada yang ingin bermain denganku rupanya," gumamannya seraya tersenyum miring. Dengan tatapan tajam masih mengarah ke layar laptopnya. Dan terlihat jelas ada kemarahan diraut wajahnya. Disaat bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk!" serunya, tanpa mengalihkan sedikitpun pasangannya pada layar laptopnya tersebut.


"Permisi Pak! Di luar ada Pak Steven, dari SE grup Pak!" ujar seorang wanita cantik, yang baru saja masuk keruangan Hafidz.


Hafidz langsung tersentak saat nama Steven disebutkan oleh wanita itu, "Siapa yang yang kau sebut Rika?" tanyanya terlihat penasaran.


"Pak Steven, dari perusahaan SE grup Pak!" balas Wanita cantik yang dipanggil Rika itu lagi.

__ADS_1


"Hmm.. mengapa pria licik itu datang kesini? Apa yang terjadi saat ini ulahnya?" batin Hafidz, terlihat dingin. Melihat Bosnya terdiam Rika, pun kembali bertanya.


"Pak! Apakah Bapak bersedia menerimanya?"


Hafidz, langsung tersadar dari lamunannya, "Ya sudah, suruh dia masuk!" ucapnya terdengar tegas. "Oh iya Rika, panggil Fahmi keruangan saya!" katanya lagi, dengan mata kembali kelayar laptopnya.


"Baik Pak!" Rika pun beranjak pergi dan tak berapa lama, masuklah seorang pria tampan, bersetelan jas putihnya, dengan rambut yang terlihat klimis tersisir kebelakang. Nampaknya pria tersebut, berusia sepantaran dengan Hafidz.


"Hi friends how are you?" kata Pria, seraya tersenyum seringai, dan dengan mata menanar penuh kelicikan.


Tatapan Hafidz langsung dingin melihat pria tersebut. Terlihat sekali ia tak menyukai kedatangannya. "Cih! Tidak usah berbasa-basi! Mau Apa Lo datang ke kantor gue, Steven!" tanyanya terdengar datar.


"Hey come on? Begitukah cara Lo menyambut teman lama kawan?" balas pria yang dipanggil Steven tersebut. Seraya ia langsung duduk tanpa menunggu Hafidz mempersilahkannya.


Hafidz tersenyum sinis," Heh! Sorry gue nggak punya waktu untuk menyambut Lo! Jadi kalau tidak ada berkepentingan! Sebaiknya Lo pergi dari sini!" hardiknya, dengan tatapan penuh kebencian.


"Hooo? Ternyata seperti itu ya? Panjang juga nama Lo? Kenapa saat di AS, semua Identitas Lo hanya Alfarezi?" tanya Steven sambil meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya.


Hafidz bangkit dari duduknya, sambil mengebrak mejanya, "Bukan urusan Lo! Sekarang sebaiknya Lo cepat pergi dari sini!" bentaknya. Ia nampak sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


Disaat bersamaan, muncul seorang pria berjas hitam, dengan kemeja kokonya, "Permisi Pak, Bapak memanggil saya?" tanya pria tersebut, dengan sopan.


"Iya! Antar tamu kita ini keluar, Fahmi!" tegas Hafidz, dengan suara masih dirundung emosi.


"Baik Pak!" balas Pria, yang ternyata Fahmi. "Silahkan Pak saya antar Anda keluar!" katanya lagi masih terdengar sopan, pada Steven, yang terlihat masih duduk santai, dengan kaki saling bertumpu.

__ADS_1


"Hi, ayolah Al, gue datang dari AS, karena Lo! Masa iya sih sudah sampai sini gue diusir!" protes Steven, yang tak bergeming dari duduknya, walaupun Fahmi sudah mengusirnya secara halus.


"Itu bukan urusan gue! Sebaiknya Lo pergi dengan sendirinya? Atau Lo mau gue panggilkan scurity buat Lo hah?!" ancam Hafidz, terlihat semakin kesal pada Steven, yang terlihat begitu cuek dan santai, membuat Hafidz semakin muak melihatnya.


"Haiiis.. ya sudahlah kalau begitu! Sebenarnya gue kesini karena kasihan sih sama Lo. Mengingat RZ grup, diambang gulung tikar!"


Hafidz langsung tersentak, saat mendengar Steven menyebutkan RZ grup, "Apa maksud Lo hah?" tanyanya dengan tatapan penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan Hafidz, Steven malah tersenyum seringai, sambil ia bangkit dari duduknya, "Lo lihat aja sendiri!" katanya lalu ia pun langsung melangkah menuju pintu keluar.


"Oh iya, kalau Lo butuh bantuan gue, datanglah ketempat biasa!" katanya lagi, sambil ia terus berjalan tanpa menoleh ke Hafidz lagi. Sesampainya diluar ia langsung tersenyum sinis, dengan tatapan tajam mengarah pintu ruangan Hafidz yang telah ditutup oleh Fahmi.


"Heh! Sudah hampir tiba masa kehancuran Lo Al! Tapi sebelum Lo benar-benar hancur! Gue mau melihat Lo menangis terlebih dahulu! Jadi nikmatilah kebersamaan Lo malam ini sama bini Lo! Karena besok Lo tidak akan pernah bertemu lagi dengannya!" batin Steven. Dan tak berapa lama ia pun beranjak pergi.


...*****...


Sementara didalam ruangan.


"Brengsek! Kenapa gue lengah sih?" gerutu Hafidz, masih terlihat emosi. Melihat Bosnya yang begitu emosi, membuat Fahmi jadi penasaran.


"Sebenarnya Siapa Dia? Dan kenapa Pak Hafidz terlihat begitu membencinya?" tanyanya penasaran.


"Dia Pria licik yang pernah menjebakku saat di AS! Dia berpikir, aku penyebab kekasihnya bunuh diri! Padahal itu ulahnya sendiri!" jelas Hafidz, "Aah! Lupakan Dia, sekarang sebaiknya kamu perintahkan anak buahmu untuk melindungi istriku! Dan kasih juga penjagaan di rumah besar, kamu paham!" lanjutnya, yang tiba-tiba ia mencemaskan seluruh keluarganya.


"Baik Pak! Sesuai perintah Anda!" balas Fahmi tegas.

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2