TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
MEMILIKI HATI YANG MULIA.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," (QS Al-Baqarah: 216).


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


Fahmi terlihat kebingungan setelah dapatkan perintah dari Hafidz untuk mencari Shinta. Entah mengapa ia begitu enggan melihat wanita itu, apalagi menurutnya wanita itu terkesan gampang jatuh cinta pada seseorang. Dan itu ia perhatikan setelah ia pernah mendengar saat Haniah dan Shinta di dalam mobil ketika ia mengantar mereka kekota JB. Maka itu dia mengetahui tabiat wanita itu.


"Haiiis..tugas ini lebih berat, dari pada bertempur! Males banget dah ketemu dia lagi!" gumam Fahmi seraya ia mulai berjalan. Kelihatan banget ia begitu enggan menjalani perintah Hafidz. Dan itu terlihat dari langkahnya yang ogah-ogahan.


Setibanya di depan pintu lobiy rumah sakit, ia sempat melihat sekelilingnya disana. Namun sepertinya yang dicari sudah tidak berada disana.


"Haiis... kemana juga tuh akhwat(wanita, dalam bahasa Arab)? Bukankah kata Bos dia nggak punya uang, jadi nggak mungkinkan dia pulang jalan kaki? Mau berapa lama sampai di kota JK?" gumamnya lagi, sembari ia masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukannya.


Disepanjang jalannya, matanya terus melihat sekeliling yang ia lewati. Dan ia hanya teringat akan baju dan hijab yang dipakai Shinta, "Tadi dia memakai baju hijau jilbab hitamkan? Tapi kenapa belum kelihatan ya? Cepat sekali jalannya?" gumamnya lagi, masih fokus antara menyetir dan juga melihat sekitarnya.


"Apa jangan-jangan, dia pergi kerumah tempat mereka disandra ya? Karena kemungkinan tasnya berada disana? Aah sebaiknya aku kesana saja sekarang!"

__ADS_1


Fahmi pun mulai mempercepat laju mobilnya, menuju, kegubuk tempat Haniah dan Shinta, saat disandra. Karena filingnya Shinta bakalan kesana. Dan setelah ia sampai di depan gang kecil, ia pun menghentikan mobilnya, lalu ia bergegas turun dan ia pun memasuki gang tersebut, hingga ia sampai didepan gubuk tersebut. Namun tetap saja yang dicari tidak ada. Fahmi bermaksud kembali ke mobilnya. Namun saat dipersimpangan gang tersebut ia melihat seorang wanita, sedang memapahnya seorang ibu hamil.


"Shinta?" gumam Fahmi, lalu ia pun langsung menghampiri mereka, "Apa yang terjadi ukhti? Ibu ini kenapa?" tanyanya saat ia berada dihadapan kedua wanita tersebut, yang salah satunya adalah Shinta.


"Kenapa Anda ada Disni?" tanya Shinta, yang bukannya menjawab pertanyaan Fahmi, ia malah melontarkan pertanyaan kembali pada Fahmi. Namun belum sempat Fahmi menjawab, wanita yang sedang dipapah Shinta, mengerang kesakitan.


"Aakh.. saya nggak kuat lagi, Neng! Bayinya terasa mau keluar ngee..!" pekik wanita itu, dan diakhiri seperti ia hendak mengedan.


"Astaghfirullah! Kalau begitu kita kembali kerumah ibu saja ya? Karena sepertinya kita tidak akan sempat kerumah sakit!" kata Shinta, terlihat cemas.


"Baiklah Neng, ngee.. tapi saya tidak kuat lagi.. untuk berjalan Neng...Ugh.." balas Sang Ibu, yang wajahnya mulai di penuhi dengan keringat jagung.


"Bang Fahmi! Tolong gendong ibu ini!," ujar Shinta, pada Fahmi, yang terlihat matanya langsung membulat kaget, karena mendapatkan perintah dari Shinta.


"Cepat Bang! Nanti keburu bayinya keluar disini!" bentak Shinta dengan keras.


"Eh, iya iya!" balas Fahmi singkat, lalu dengan pasrah akhirnya Fahmi menggendong tubuh ibu hamil tersebut. Syukurnya iibu tersebut memiliki tubuh yang kecil. Sehingga tidak menyulitkan Fahmi. Lalu mereka pun langsung pergi kerumah ibu tersebut, yang kebetulan tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri tadi.


Setelah sampai Fahmi langsung, meletakkan sang Ibu, dibalei balei, yang ada dirumah kecil tersebut. Karena tak ada siapapun disana, Shinta pun meminta bantuan Fahmi, lagi.

__ADS_1


"Bang tolong bantu Saya! Karena tidak ada siapa-siapa disini, jadi tolong rebuskan air, karena saya hanya memakai alat ala kadarnya saja. yang ada hanya gunting, jadi harus direndam air panas dulu," kata Shinta, seraya ia menyiapkan, pelengkap ala kadarnya saja.


"Hah? Kenapa saya? Kemana Suami ibu ini?" tanya Fahmi yang sepertinya ia enggan membantu, karena nampaknya ia terlihat takut.


"Suaminya pergi bekerja! Sudah nggak sempat untuk mencarinya! Jadi cepat lakukan yang saya minta!" tegas Shinta.


"Haiiis, iya iya!" balas Fahmi yang akhirnya mau tak mau ia pun melakukan, apa yang dititahkan oleh Shinta.


Sedangkan Shinta mulai beraksi, ia membenarkan, kaki sang Ibu. Karena proses persalinannya akan dimulai, "Baiklah Bu, kita mulai sekarang ya, karena kepala bayinya juga mulai keliatan, Saya beri aba-aba ya Bu, dan kalau bisa saat ibu mau mengedan, baca basmalah dan dilanjutkan doa nabi Yunus ya Bu, biar diberikan kemudahan dari Allah," jelas Shinta, pada sang ibu, dan langsung dianggukan oleh ibu tersebut.


"Bismillah, tarik nafas yang dalam Bu, sekarang edankan Bu!" titah Shinta pada sang Ibu. Dan langsung dilakukan oleh ibu tersebut,


"Bismillah, lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn Ngeeeeeeeek !" Dengan sekuat tenaganya, sang ibu pun mulai mengedan, dan..


"Oek..Oek..Oek..Oek Oek" Suara tangis bayi terdengar memenuhi rumah kecil memiliki sang ibu.


"Alhamdulillah.. selamat Bu, bayinya laki-laki," kata Shita, yang terlihat ia begitu bersemangat. Ada perasaan lega pun terpancar dari Shinta, ia pun langsung menangani sang bayi tersebut.


Sedangkan Fahmi, yang sejak tadi dibelakang ternyata mendengar setiap ucapan Shinta saat, menangani ibu tersebut, ada perasaan aneh yang mulai mengelitik hatinya. Ia juga terlihat bersyukur saat mendengar suara tangisan bayi sang ibu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, hmm.. ternyata dia memiliki hati yang mulia, wanita yang hebat!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2