
─⊱◈◈◈⊰🤍 Kalam Habaib🤍⊱◈◈◈⊰─
"Allah akan menguji masa mudamu dengan mengirimkan seseorang yang membuatmu jatuh hati padanya, seolah-olah ia membawa hakikatnya cinta, tapi nyatanya hanya membuatmu untuk bermaksiat kepada-Nya"
[ Al Habib Umar bin Hafidz ]
❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ❤
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•◈◈◈◈◈◈◈◈◈•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•◈◈◈◈◈◈◈◈◈•
"Iya! Karena Rabb saya melarang, laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya saling bersentuhan. Untuk itu kamu harus bertanggung jawab terhadap saya! Jadi menikahlah denganku!"
Mendengar perkataan Fahmi, Shinta langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Karena ia sempat terperangah, saking terkejutnya akan ungkapan Fahmi. Ia juga tidak menyangka, kalau Fahmi dapat mengungkapkan keinginannya untuk menikahi dirinya. Sehingga ia terlihat bingung, untuk memberikan jawaban pada Fahmi.
"Kenapa diam? Apakah kamu bersedia menikah dengan saya Shin?" tanya Fahmi kembali, karena melihat Shinta yang hanya diam.
"Apakah saat ini anda sedang melamar saya? tanya Shinta balik, dengan tatapan penasarannya.
"Iya, bisa juga dikatakan seperti itu. Lalu apa jawaban dari kamu? Apakah kamu menerima lamaran saya?" tanya Fahmi kembali, dengan wajah penuh harapnya.
"Baiklah saya akan menerima lamaran Anda!" balas Shinta dengan santainya.
"Alhamdulillah, syukurlah.. kalau begitu..." ucap Fahmi terlihat begitu sumringah. Namun perkataannya langsung terpotong oleh Shinta.
"Tapi itu Kalau Daddy saya menerima Anda!" tegas Shinta, dibarengi dengan senyuman yang tak bisa diartikan, antara senyuman sinis ataupun senyuman meremehkan.
"Baiklah! Saya pasti akan menemui orang tua kamu," kata Fahmi yang terlihat bergitu percaya diri sekali, " Tapi sebelumnya kita menemui orang tua kamu. Kita harus kerumah sakit dulu, karena saat ini teman kamu sedang menunggumu," lanjutnya lagi, seraya ia, meraih, gelas yang berisi minumannya dan meneguknya.
"Baiklah! Sesuai keinginan Anda! Ayo kerumah sakit," kata Shinta seraya ia bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Oke!" balas Fahmi dengan singkat, lalu ia pun ikut bangkit dari duduknya, setelah ia meletakkan beberapa lembaran uang kertas berwarna merah bill book, yang berada disisi meja tersebut. Lalu ia pun berjalan mengikuti Shinta yang berada didepan.
Setelah mereka berada di luar restoran, Fahmi pun mengajak Shinta, menaiki mobilnya. Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, Fahmi pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Haniah dirawat. Dan tak membutuhkan waktu yang lama, mobil Fahmi kini telah terparkir, diperparkiran rumah sakit. Setelah keduanya turun dari mobil. Mereka pun langsung memasuki rumah sakit tersebut, dan langsung menuju ke kamar rawat Haniah. Sesampainya mereka disana.
"Assalamu'alaikum," salam keduanya, saat memasuki ruang rawatnya Haniah.
"Wa'alaikumus salam," balas Haniah dan Hafidz secara bersamaan.
"Hani? Alhamdulillah akhirnya gue masih bisa melihat Lo lagi!" kata Shinta yang terlihat ia begitu senang ketika ia melihat Haniah. Bahkan ia langsung memeluknya, "Terima kasih Han, karena sudah bertahan, hiks..aku sempat ketakutan saat melihat Lo tertembak..hiks..gue pikiri gue nggak akan bisa meli...hiks..hiks.." ungkap Shinta, sambil nangis tersedu-sedu. Didadanya Haniah, yang masih berbaring di tempat tidurnya.
Hafidz yang melihat Shinta yang sedang memeluk Haniah, terlihat tidak senang. Bahkan ia tak sungkan-sungkan menarik tangan Shinta agar ia melepaskan pelukannya. Membuat Shinta maupun Haniah kaget dengan keberanian Hafidz.
"Maas Hafidz! Apa yang kamu lakukan sama Shinta sih?" tegur Haniah, yang terlihat tidak suka pada kelakuan suaminya, yang berani menyentuh Shinta.
"Maaf Sayang, Mas melakukan itu, agar tubuhnya tidak menyakiti bayi kita," jelas Hafidz, membuat Haniah maupun Shinta yang mendengarnya langsung terperangah.
"Bayi?" ucap keduanya secara bersamaan. Dan dibarengi dengan mata saling bertatapan.
"Iya Sayang, kita akan memiliki bayi, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua," kata Hafidz, seraya ia mengecup lembut dahi istrinya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, atas kepercayaan yang membahagiakan ini! Mas aku akan menjadi seorang Ibu!" ujar Haniah, seraya ia memeluk suaminya. Terlihat sekali dari wajahnya ia begitu bahagia .
"Iya Sayang, kamu akan menjadi seorang Ibu," balas Hafidz membalas pelukan Haniah, bahkan ia juga mengecup kedua pipi istrinya.
"Ehm! eheem.. hello.. masih ada orang disini loh! Bisa tidak kalau mesraannya di tunda dulu? Soalnya bikin mual tau!" protes Shinta sembari ia melipat kedua tangannya di bawah dadanya.
"Tau tuh! Nggak lihat apa, disini masih ada orang?" sambung Fahmi juga yang terlihat wajahnya ia alihkan ke jendela.
"Aah! Mengganggu saja kalian berdua! Makanya Nikah! Biar kaliam bisa merasakan surganya Dunia,, kaya kami, iya sayang..? Muach!" balas Hafidz seraya memamerkan kemesraannya lagi, dengan memberikan kecupan sayang dipipinya Haniah. Membuat Fahmi maupun Shinta, yang melihatnya, sama-sama melengos sembari memutarkan bola mata malas mereka.
"Cih! Sombong sekali Anda! Lihat saja nanti setelah kami menikah, maka Anda tidak akan bisa menyombongkan diri lagi pada kami!" gerutu Fahmi, seraya matanya memandang langit-langit kamar.
__ADS_1
"Hah? Benarkah kalian mau menikah?" tanya Haniah yang ternyata ia mendengar gerutuannya Fahmi, "Benarkah yang dikatakan bang Fahmi Shin?" tanyanya lagi pada Shinta, yang berdirinya tak berapa jauh dari tempat tidurnya Haniah.
"Eh! A-aku..i-ttu gu-gue nggak tahu Han! Kan Bang Fahmi belum menemui Daddy gue," balas Shinta sedikit gagap, karena menahan malu.
"Aah.. Lo Mi, kalau mau menikahi anak orang, kudu jumpai dulu dong orang tuanya! Jangan main nyolong Bae!" tegur Hafidz pada Asistennya tersebut.
"Nah itu dia, Bos, saya bermaksud ingin izin sama Bos hari ini. Soalnya saya ingin bertemu dengan orang tuanya Shinta Bos. Boleh tidak?" balas Fahmi, terlihat begitu berharap ia mendapatkan Izin dari Bosnya.
"Eh! Emangnya Bang Fahmi sudah tahu orang tua Shinta dimana?" tanya Haniah, terlihat kaget mendengar Fahmi ingin menemui orang tua sahabatnya itu.
"Tidak! Emangnya dimana Shin?" tanya Fahmi, yang wajahnya langsung beralih ke Shinta.
"Eropa!" jawab Shinta dengan singkat dan padat.
"Apaa!!" sentak Fahmi dan Hafidz secara bersamaan.
"Kenapa? Takuut? Mau mundur yaa?" tanya Shiny, seraya menyempilkan senyuman miringnya, seperti meremehkan Hafidz.
"Heh...siapa juga yang takut? Kalau demi kamu ke ujung dunia pun akan aku jabanin, Shin!" tegas Fahmi.
"Cih! Sempat-sempatnya dia gombal!" gumam Shinta, sambil memutar bola mata malasnya. Namun gumamannya ternyata terdengar oleh Fahmi.
"Siapa yang gombal sih? Aku seriusan Shin, aku akan tetap menemui orang tua kamu!" balas Fahmi terdengar tegas.
"Bagus Fahmi! Kalau begitu aku memberikan kamu cuti! Tapi ingat setelah urusan kamu selesai, maka secepat mungkin kamu kembali, Oke?" sambung Hafidz, membuat Fahmi terlihat begitu senang.
"Siap Bos!" balas Fahmi, sembari mengangkat tangannya memberi hormat.
"Hah? Jadi benaran Anda Mau ke Eropa?" tanya Shinta, masih belum percaya.
"Menurut kamu?"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...