
*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*
Perputaran waktu seringkali menoreh kecewa..
Some people, easy to come and easy to go.Ada mereka yang datang sebagai berkah, dan ada yang datang sebagai pengajaran hidup
Balajar kuat dari setiap tetesan peluh dan airmata. Belajar merangkai tabah dari setiap kelemahan dan kekurangan diri.. Belajar bersyukur atas setiap Qodho dan Qodar. Belajar menarik ibroh dan hikmah dari setiap masalah. Dan belajar memberi balasan positif dari setiap perlakuan negatif
Bila tak semua air mata mampu tertahan, pun tak semua airmata harus tertumpah. Manusia hanya menyangka, dan selalu penuh prasangka..
Sedangkan Allah pasti lebih memahami, apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Haniah nampak terkejut tatkala ia mendengar perkataan Steven. Sehingga timbullah rasa penasaran pada dirinya. Mengapa suaminya bisa menjadi penyebab sang kekasih pria yang dihadapannya itu bunuh diri. Dan rasa penasarannya itu, membuat ia berani bertanya lebih jauh lagi pada Steven.
"Maaf, kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang telah dilakukan Suami saya? Sehingga Beliau menjadi penyebab kekasih Anda yang bunuh diri itu? Dan kapan dan dimana, peristiwa itu terjadi?" tanya Haniah, begitu penasaran.
Melihat tatapan Haniah, yang sangat penasaran, Steven pun tersenyum tipis, "Apakah Anda begitu amat penasaran, ingin mengetahui kisah percintaan Suami Anda, hm?" tanyanya, sembari ia bangkit dari kursi kebesarannya, lalu ia pun berjalan mendekati Naazwa.
__ADS_1
"Iya, kalau Anda tidak keberatan," balas Haniah, yang kini terlihat biasa-biasa saja. Tidak sepenasaran tadi.
"Hmm.. baiklah! Saya akan menceritakannya, tapi dengan satu syarat!" kata Steven yang kini ia sudah berdiri tepat di depan Haniah.
"Syarat? Apakah hanya mendengar sebuah kisah, harus memakai syarat?" tanya Haniah, tanpa ingin membalas tatapan Steven yang sejak tadi, ia sedang menatap Haniah begitu lekat.
"Yaa, itu harus Nyonya Atha! Karena pembicaraan tak akan nyaman bila Anda tak memenuhi syarat tersebut," balas Steven, sembari ia mengangkat tangannya, seperti memberikan kode pada anak buahnya.
Seperti paham dengan kode day Bosnya, salah satu dari mereka ternyata membawakan sebuah kursi, dan meletakkannya di belakang Steven. Dan otomatis Steven langsung duduk dikursi tersebut tepat didepan kursi Haniah. Steven nampak terlihat santai, dikursi tersebut dengan satu kaki yang ia timpakan kekaki kesatuannya lagi. Sehingga lututnya terlihat saling bertmpukan. Lalu ia juga meletakkan kedua tangannya di atas lututnya tersebut.
"Bagaimana Nyonya Atha apakah Anda mau menerima syarat dari saya?" tanyanya, sambil tersenyum miring, dengan tatapan masih terlihat fokus pada wajah Haniah yang masih tertutup oleh cadarnya.
"Apa syarat yang hendak Anda ajukan?" tanya Haniah, sambil membalas tatapan Steven, yang seakan matanya sedang menantang pria yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Ooh.. Kalau lupakanlah! Karena saya sudah tidak berminat lagi untuk mendengarkan cerita Anda lagi!" balas Haniah, terlihat begitu tenang.
"Apa! Bukankah Anda tadi terlihat begitu penasaran? Mengapa sekarang bisa berubah?" tanya Steven terlihat heran.
"Yaah, Anda benar! Saya memang sangat penasaran! Tetapi saya tidak akan Sudi membuka cadar saya, demi cerita yang belum tentu ada manfaatnya bagi saya! Jadi saya menolak syarat Anda!" tegas Haniah. Membuat Steven kaget mendengar keputusan Haniah ia tak menyangka. Ternyata Haniah lebih mempertahankan kain kecil tersebut, ketimbang rasa penasarannya.
"Heh..Menarik! Saya jadi semakin penasaran, ingin melihat wajah Anda!" kata Steven, seraya tersenyum seringai kembali.
__ADS_1
Mendengar perkataan Steven, Adam yang sejak tadi berdiri agak menjauh, kini ia mendekati Steven, "Bang Steven? Bukankah Anda sudah berjanji tidak akan menyentuh dia? Jadi please tepati janji Anda!" ujarnya penuh harap.
"Cih! Apakah Lo berpikir Gue orang yang suka menepati janji hm? Jadi jangan pernah mengingatkan gue! Karena itu tidak mempan! Apa Lo paham hah?!" bentak Steven dengan tatapan dinginnya ia menatap Adam, seakan ia ingin membunuhnya. Melihat tatapan Steven, Adam pun mundur dengan sendirinya.
"Bagus! Menjauhlah dari gue! Atau Lo akan menyesal nantinya!" lanjutnya, sambil mengalihkan wajahnya, yang kini ia kembali menatap Haniah, yang masih berada dihadapannya.
"Baiklah mari kita lanjutkan lagi Nyonya! Karena saya sedang berbaik hati, jadi saya akan memberikan kesempatan untuk Anda. Bagaimana Nyonya Atha? Apakah Anda sudah berubah pikiran?" kata Steven lagi, yang kali ini ia tujukan pada Haniah.
"Hmm.. maaf Tuan! Sepertinya Anda harus kecewa lagi! Karena saya akan tetap pada pendirian saya! Karena lebih baik saya mati! Dari pada harus menunjukkan wajah saya pada iblis seperti Anda!" balas Haniah, yang terlihat ia begitu santai dan begitu tenang.
Steven begitu terkejut mendengar perkataan Haniah. Membuat rasa penasarannya semakin meningkat. Dia juga sangat geram saat mendengar Haniah menyebut dirinya dengan sebutan iblis,
"Heh! Berani sekali Anda menyebut gue iblis! Humm.. ternyata Anda adalah salah satu wanita yang berani mati ya? Baiklah saya akan kabulkan keinginan Anda, tapi sebelumnya Anda mati. Saya ingin melihat wajah Anda terlebih dahulu! Dan saya juga ingin melihat Anda ingin berbuat apa dengan tangan terikat ini, saat saya, membuka wajah Anda saat ini!" kata Steven seraya ia bangkit dari duduknya. Lalu ia pun mendekat pada Haniah
"Mari kita lihat sekarang, apa yang tersembunyi di kain hitam ini! Sehingga Anda memilih mati dari pada menunjukkannya pada gue!" lanjut Steven, dengan tangan yang mulai bergerak menuju ke wajahnya Haniah. Dan disaat tangannya sudah hampir menyentuh kain hitam yang menutupi wajah Haniah.
Namun tiba-tiba, Haniah mengangkat kedua kakinya yang terlihat masih terikat itu, lalu dengan hentakan sekuat tenaganya. Sehingga kedua kakinya langsung mengenai perutnya Steven, dan otomatis Steven terhempas dikursi tempat ia duduk, membuat kursi yang terbuat dari kayu tersebut, hancur berkeping-keping.
"Ukh! Brengsek! Dasar wanita jal*ng!" ucap Steven dengan suara yang tertahan akibat menahan rasa sakit yang ia rasakan pada perutnya.
Sementara Haniah, yang tadi menendang Steven dengan sekuat tenaganya. Membuat ia ikut terjatuh, hingga kursi yang ia duduki pun ikut hancur. Dan ternyata selama ia menanggapi pembicaraan Steven, itu hanya untuk mengalahkan perhatiannya agar ia bisa membuka ikatan di tangannya. Dan kini tangannya telah terlepas, dan dengan secepatnya juga ia melepaskan tali yang ada pada kakinya. Setelah itu ia menyempatkan diri melepas tali ikatan pada Shinta dan kini keduanya telah terbebas.
__ADS_1
"Sialan! Kalau begitu gue tidak akan sungkan lagi! Kalian cepat habisi kedua wanita ini!!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...