
*═══❉্͜͡🤍𝕄𝕦𝕥𝕚𝕒𝕣𝕒 ℍ𝕚𝕜𝕞𝕒𝕙.🤍❉্͜͡═══*
"Jangan dzalimi hatimu sendiri dengan berharap nilai baik dari manusia. Karna kebanyakan manusia, akan disibukkan untuk mencari cela dan kekurangan kita. Tugas kita hanya taat dan berbuat baik, lalu biarkan Allah saja yang menilai."
Allahumma musharrifal qulub, sharrif qulubana ala tha’atika.
Artinya :
“Ya Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu.”
(H.R. Muslim)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Setelah memarkirkan mobilnya Adam pun berjalan menuju sebuah taman, yang berada disamping dikampusnya tersebut. Karena ternyata ia telah melihat dua orang wanita yang ia amat kenali disana. Dan Adam pun langsung menghampiri keduanya.
"Hai guys? Assalamu'alaikum!" sapanya terlihat sok akrab. Namun langsung disambut dengan tatapan malas oleh Shinta. Ia terlihat memutarkan bola matanya, sambil membuang wajahnya. Nampak sekali ia tak menyukai kedatangan Adam.
"Wa'alaikumus salam!" balas Haniah, yang terlihat masih menghargai Adam, walaupun sebenarnya ia juga sudah mulai malas berteman dengannya.
"Ay, ada apa dengan wajah calon bini gue, Han?" tanya Adam pada Haniah, namun tatapannya mengarah ke wajahnya Shinta.
__ADS_1
"Cuih! Calon Bini? Mimpi aja Lo sana!" cetus Shinta, dengan tatapan yang terlihat dingin pada Adam.
"Waduh! Seram banget sih Han, wajah teman Lo! Udah kayak mau makan gue aja," protes Adam, sambil berpura-pura menggidikkan tubuhnya, seakan ia ngeri melihat tatapan matanya Shinta.
"Kalau iya Lo mau apa hah?!" Adam tersenyum tipis, melihat wajah juteknya Shinta, yang ternyata malah terlihat cantik dimatanya. Dan ia jadi semakin ingin melawannya terus.
"Yaa, kalau kamu memang ingin banget memakan gue. Dengan setulus hati gue ikhlas deh. Kan yang makan juga calon ayang mbeb gue,"
Mata Shinta langsung membulat sempurna, tatkala mendengar kalimat terakhir Adam, yang dibarengi dengan kedipan mata genitnya. Membuat perut Shinta terasa mual, melihat tingkah lakunya Adam.
Hueek! Mau muntah gue lihat Lo! Lo udah kayak ular kepala dua! Menjijikkan sekali! Ayoo Hani, kita pergi dari sini!" cerca Shinta, sembari ia menarik tangan Haniah, yang sejak tadi hanya jadi penonton, yang budiman.
Sebenarnya ia ingin menghentikan perdebatan mereka, namun ia tak berkesempatan karena keduanya terlihat sulit untuk dihentikan. Apalagi saat melihat Shinta, yang terlihat terang-terangan mencerca Adam tanpa rasa takut sama sekali.
Melihat keduanya telah pergi meninggalkannya, Adam langsung tersenyum sinis, "Heh! Semakin menarik saja Dia! Mulutnya begitu tajam! Bikin gue gemas melihatnya! Tapi gemas ingin menghancurkannya!" gumamnya, yang wajahnya kini terlihat dipenuhi dengan dendam.
Sementara disisi lain.
"Lepaskan Shinta! Tanganku sakit!" ujar Haniah seraya ia menyentakkan tangannya, yang sejak tadi ditarik oleh Shinta yang terlihat masih dikuasai oleh emosinya. Hingga tanpa sadar ia menarik tangan Haniah, begitu keras.
"Eh, sorry sorry, Han! Karena terbawa emosi, gue malah nyakitin tangan Lo lagi," ucap Shinta, merasa bersalah. Dan ia pun mulai meredamkan emosinya.
"Iya nggak papa Shin. Tapi Ana heran deh lihat kamu Shin, kenapa kamu sekarang terlihat arogan begitu sih? Padahal kamukan dulu sangat lembut Shin," tanya Haniah. Ia memang terlihat heran melihat perubahan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Capek Han, berlaku lembut! Yang ada orang bertindak semaunya, tanpa menghiraukan perasaan orang sama sekali! Makanya, gue kubur tuh Shinta yang lembut! Karena dia sekarang sudah mati, yang ada tinggal Shinta yang Lo lihat sekarang dah," balas Shinta, sambil menaik turunkan alisnya, setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Hmm.. tapi ana tidak suka, melihat Shinta, yang seperti ini!" pungkas Haniah, lalu ia pun berlalu meninggalkan Shinta.
"Eh, kok gue ditinggal sih Han?!" seru Shinta, dan ia pun langsung mengejar sahabatnya itu, "Han, tunggu ngapa! Lo marah ya ma gue?" tanyanya lagi sambil mengikuti langkah Haniah, yang terlihat agak cepat.
"Ngapain juga Ana marah? Itukan hak kamu Shinta, Ana cuma bilangin aja ya? Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari, hanya karena kesalahan dari tutur katamu itu, oke," pesan Haniah, seraya ia menoel pucuk hidungnya Shinta dengan singkat lalu ia pun memasuki kelas mereka.
Shinta, langsung tertegun setelah mendengar perkataan sahabatnya. Ia terlihat sedang mencerna, setiap perkataannya, "Maksudnya Hani apa sih? Kok gue nggak paham ya?" gumamnya, "Ah, bodo akh! Pusing gue!" gumamnya lagi, lalu ia pun memasuki kelas yang sama dengan Haniah.
Setelah beberapa saat mereka memasuki kelas, Dosen pembimbing mereka pun masuk. Tanda mereka akan memasuki jam pembelajaran. Dan itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Dan dosen pun kembali pergi meninggalkan kelas tersebut.
Itu menandakan jam kuliah selesai, lalu Haniah dan Shinta pun membereskan buku-buku mereka, yang hendak dimasukkan kembali ke tasnya. Namun tiba-tiba saja Adam sudah berdiri disamping meja mereka, sembari menaruh lembaran kertas, diatas meja Haniah.
"Apa ini Dam?" tanya Haniah, seraya mengambil kertas tersebut.
"Itu undangan Han, dari para warga JB, tempat kita magang dulu. Mereka ingin mengucapkan terima kasih, karena kita pernah beberapa kali menolong mereka," jelas Adam.
"Ooh, emangnya kapan acaranya?" tanya Haniah lagi.
"Besok Han, kalian pergkan guys?" tanya Adam terlihat berantusias.
"In shaa Allah Dam, karena ana harus izin dulu sama suami Ana," balas Haniah, tanpa melihat wajah Adam, yang ternyata wajahnya langsung berubah, ketika Haniah menyebut kata Suami.
__ADS_1
"Huh! Paseh banget sih ngomong suaminya! Pokoknya recana penculikan dia tidak boleh gagal! Jadi gue harus desak terus dia! Agar dia ikut ke JB, karena cuma itu kesempatan gue!" batin Adam.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...