
Satu Minggu pun berlalu.
Sudah satu minggu juga Atha, telah dirawat di rumah sakit dikota JK. Dan sudah satu minggu juga Haniah, dengan sabar merawatnya. Sehingga kesembuhan Atha, terlihat begitu pesat. Hanya tinggal menunggu pemulihan kakinya yang kebetulan ada peretakan disana.
Atha, sebenarnya sudah sangat tidak betah dirumah sakit. Bahkan ia sudah berkali-kali meminta pada sang Dokter, agar dirinya di perbolehkan pulang. Namun sang Dokter, masih belum mengizinkannya. Sehingga ia meminta tolong pada Haniah, agar ia mau membantunya bicara pada sang Dokter.
"Niah, tidak bisakah kamu membantu Aku? Tolonglah Niah, yakinkan pada dokter kalau Aku, sudah pulih," ujar Atha, sembari ia mengatupkan kedua tangannya, berharap Haniah mau membantunya.
"Sabar dong Bang Hafiz, lagian kaki Abangkan juga belum pulihkan?" balas Haniah dengan lembut.
"Tapi Aku sudah bosen banget Niah, apalagi mulai hati kamu pergi kuliah lagikan? Jadi sudah pasti hari ini aku semakin bosen Niah, please, bilangkan pada dokter yaa," keluh Atha, sambil memasang wajah memelasnya.
Melihat wajah suaminya yang terlihat begitu sedih, membuat Haniah merasa tidak tega. "Hmm, ya sudah nanti sepulang Niah dari kampus, Niah akan coba bicara pada dokter. Tapi sekarang Abang istirahat dulu ya, jangan banyak mengeluh oke," ujarnya sembari, ia membenarkan selimutnya Atha.
"Alhamdulillah, siap Bu Dokter, saya pasti akan beristirahat, sesuai keinginan Anda," balas Atha, sambil mengangkat tangannya memberi hormat pada Haniah, begitu bersemangat. Sehingga ia lupa pada lukanya yang ada didahinya.
"Awuu! Sakit!," pekik Atha, dengan wajah terlihat meringis karena merasakan sakit pada lukanya.
"Aah, tuhkan? Abang sih, jadi kenakan lukanya? kata Haniah, Seraya menahan tawanya lucu, karena bagi Haniah saat melihat, suaminya, meringis jadi terlihat lucu.
"Huh, malah diketawain sih!" kata Atha, dengan memasang wajah cemberutnya.
"Eh, Iya deh Niah minta Maaf ya Bang." balas Haniah, yang kali ini dialah yang mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak, aku tidak mau memaafkan kamu!" katanya terdengar ketus, sembari ia lihatkan kedua tangannya, dengan wajah yang terlihat masih merajuk.
__ADS_1
"Loh kok gitu sih Bang?"
" Aku akan memaafkan kamu Niah, asalkan kamu berhenti memanggilku dengan sebutan Abang!"
"Eh, emangnya kenapa Bang?"
"Ya karena aku berasa sebutan itu, membuatku seperti Abang tukang becak Niah!" ujar Atha dengan wajah yang terlihat sedih.
Mendengar perkataan Atha, Haniah, spontan tertawa kecil. Membuat mata langsung membulat, dan ia membuang wajahnya, yang masih terlihat sedang merajuk. Persis bak seorang anak kecil yang sedang mengambek.
"Huh! Malah diketawain lagi! Kayaknya senang banget ya, suaminya jadi Abang tukang becak!" gerutu Atha, terdengar lirih, namun masih terdengar oleh telinga Haniah.
Haniah, yang mendengarnya semakin tidak mau berhenti tertawa, karena dipandanganya suaminya terlihat lucu dengan tingkah ngambeknya. Sudah persis seperti anak kecil.
"Huh! Ketawain aja terus, Abang tukang becak kamu ini!" gerutu Atha lagi.
"Ya terserah kamu Niah, asalkan jangan panggil dengan sebutan Abang lagi. Nggak enak banget didengarnya tahu!" balas Atha, yang kini pandangannya sudah kembali lagi menghadap Haniah.
"Hmm, gimana kalau Niah panggil Mas saja? Abang maukan?" tanya Haniah dengan lembut.
"Yaah, aku pikir dia akan memanggilku Sayang. Tapi nggak papa deh, dari pada di panggil Abang, mendingan dipanggil Emaskan? Lagian inikan masih awal, jadi kamu jangan terlalu banyak menuntut dulu deh Atha!" batin Atha bergelut dengan pikirannya.
Haniah, yang melihat suaminya tidak langsung menjawab, membuat ia mengerutkan keningnya bingung. Dan dia berpikir kalau suaminya tidak menyukai sebutan Mas itu.
"Kok diam Bang? Nggak suka juga ya dipanggil Mas?" tanya Haniah penasaran.
__ADS_1
Mendengar perkataan Haniah, Atha langsung tersentak dari lamunannya. "Eh, suka kok Niah, dari pada Abang tukang becak. Yaa mendingan dipanggil panggil Mas deh," balasnya, terdengar pasrah.
"Alhamdulillah, ya sudah, kalau begitu Niah, berangkat ke kampus ya Bang, eh hehe salah maksudnya Emas," kata Haniah, terlihat masih canggung dengan sebutan barunya Atha.
"Apakah, kamu benar-benar akan pergi Niah? Tidak bisakah kamu tetap di sini?" tanya Atha, yang terlihat ia begitu berat, melihat Haniah yang hendak pergi ke kampusnya.
"Mas, Niah sudah terlalu banyak mengambil cutikan? Jadi nggak papa ya, kalau hari ini Niah pergi. Lagiankan sekarang sudah ada Bang Fahmi temannya Mas, jadi Niah berangkat ya Mas," ujar Niah, meminta izin pada suaminya.
"Ya sudah deh, kamu boleh pergi, tapi kamu jangan dekat-dekat sama pria yang namanya Adam itu ya! Soalnya Mas nggak suka!" kata Atha, yang kini wajahnya langsung berubah, tatkala ia teringat pada Pria yang bernama Adam.
"Eh, emangnya kenapa Mas?"
"Jangan ditanya lagi, kenapanya! Pokoknya mas Nggak suka dengan pria itu!" balas Atha, terdengar ada penekanan dengan kata nggak suka pria tersebut.
"Hmm, Niah paham nih, kayaknya ada yang sedang cemburu nih?" kata Haniah, sembari tersenyum lucu, saat melihat wajah suaminya yang terlihat lucu akibat sedang cemburu.
"Eh, siapa juga yang cemburu? Orang Mas nggak suka ma dia yang selalu dekatin kamu aja kok," dalih Atha, yang kini wajahnya terlihat memerah karena malu.
"Ya sudah iya iya, Niah nggak dekat-dekat kok sama Adam, Mas. Sekarang apakah Niah sudah boleh berangkat Mas?"
Mendengar perkataan istrinya, Atha terlihat senang. "Alhamdulillah, kalau begitu kamu boleh pergi, tapi hati-hati dijalan ya?"
"In shaa Allah Mas, ya sudah Niah pergi ya Assalamu'alaikum," pamit Haniah semabri ia menyalami tangan suaminya. Membuat jantung Atha, berdetak tak menentu tatkala, Haniah mengecup tangannya.
"Eh, Wa-wa'alaikumus salam Niah," balasnya terlihat sedikit gugup.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Maaf ya guys, karena kemarin Author benar-benar tepar 🤒 jadi kemarin nggak update, deh😔 Sekali lagi maaf ya🙏