TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
JANGAN PERNAH MENYERAH.


__ADS_3

─⊱◈◈◈⊰🤍 Mutiara Hikmah 🤍⊱◈◈◈⊰─


"*Sebelum meminta pertolongan kepada manusia, mintalah pertolongan kepada Allah, katakan kepada-Nya apa yang kau inginkan. Allah akan beri apa yang kamu minta, Allah akan membukakan pintu mudahkan urusan yang memberatkanmu, dan Allah akan gerakkan penduduk bumi untuk membantumu.


Bergantunglah kepada Allah, berharaplah hanya kepada-Nya, teruslah meminta sekalipun dalam hal kecil dan sepele. Semakin kita berserah diri kepada Allah maka semakin damai hati kita, dan Allah akan penuhi apa yang menjadi permohonan kita dalam bentuk yang terbaik."


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu"


(QS. Al Mu'min/Ghafir: 60*)


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•◈◈◈◈◈◈◈◈◈•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•◈◈◈◈◈◈◈◈◈•


Shinta benar-benar terkejut ketika, Fahmi datang kerumahnya, dengan membawa koper. Nampak ia memiliki tekad yang kuat, untuk bertemu dengan orang tuanya Shinta. Sehingga ia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang,untuk keberangkatannya ke Eropa.


"Hah?! Anda benar-benar serius ingin menemui orang tua saya?" tanya Shinta, yang ternyata ia berpikir kalau Fahmi, hanya sekedar bercanda. Apalagi semenjak kepulangannya dari kota JB tiga hari yang Lalu. Fahmi tak pernah memberikan kabarnya sama sekali pada Shinta.


"Apakah diwajahku mempunyai tampang main-main hm?" tanya Fahmi dengan tatapan seriusnya pada Shinta. Membuat Shinta menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Hmm.. Ta-tapi...."


"Berhentilah bertanya, karena pesawat kita akan berangkat dua jam lagi. Jadi pergilah bersiap dan jangan lupa bawa paspor kamu oke!" potong Fahmi, seraya ia mendekati wajahnya ke wajah Shinta. Membuat Shinta terkejut, dan dengan spontan jantungnya langsung berdegup kencang.


"Eh! I-iya iya saya siap-siap!" balas Shinta, yang kini wajahnya terlihat memerah. Lalu dengan spontan ia langsung lari ngacir meninggalkan Fahmi, yang terlihat sedang tersenyum gemas melihat tingkah laku Shinta, yang sepertinya sedang salah tingkah.


"Hehehe, ternyata dia lucu banget sih. Apalagi melihat wajahnya yang memerah karena malu, bikin aku gemas aja," gumam Fahmi, yang terlihat ia masih menatap, pergian Shinta, "Eh, Astaghfirullah.. sadar Fahmi apa yang kau pikirkan? Ingat dia belum halal untuk kamu! Jadi


berhentilah berpikir yang tidak-tidak!" gumamnya seraya ia melangkah keluar, lalu ia pun duduk di kursi yang berada di teras rumah Shinta.


...🍃🍃🍃...


Sementara dikamarnya Shinta.


"Aaaargh! Jantung sialan!! Mengapa kau berdebar kencang begini sih? Padahal kaukan sudah sempat baikkan, kenapa rusak lagi sih?!" gerutu Shinta, sambil memegang dadanya, ia terlihat kesal, pada jantungnya yang setiap berdegup kencang, akan membuat dirinya terlihat bodoh.


"Aaaakh! Tidak boleh begini! Aku harus tenang, kalau tidak, gue bisa mati sebelum gue kawin! Nggak lucu bangetkan? Anaknya Ravico Also seorang mafia yang ditakuti di Eropa mati dalam keadaan perawan! Hadeeh apa kata dunia?" gumam Shinta lagi, seraya ia memasuki beberapa baju kedalam kopernya, dengan cara meletakkan begitu saja tanpa melipatnya. Hingga terlihat begitu berantakan.


"Eh, kenapa gue bisa mikir sampai kesana sih! Dasar Shinta belekok! Aah sudahlah, sebaiknya aku segera turun! Bisa-bisa kami ketinggalan pesawat lagi!" gumamnya lagi, seraya ia bergegas keluar dari kamarnya seraya ia menarik kopernya.


"Eh, Mana orangnya? kok nggak ada sih?" gumam Shinta, saat ia sudah berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Aku berada di sini!" Shinta langsung tersentak kaget setelah mendengar suara bariton, berasal dari luar. Dan ia langsung bergegas keluar.


"Saya pikir Anda..."


"Pergi gitu? Itu tidak akan pernah terjadi Nona!" potong Fahmi, seraya ia bangkit dari duduknya, "Oke.. dikarena seseorang tadi berdadan harus memakan waktu lama. Jadi waktu kita tinggal satu jam lagi! Maka dari itu sebaiknya kita segera berangkat, kalau tidak ingin ketinggalan pesawat!" lanjutnya lagi, masih terdengar datar. Dan ia mengambil alih tas koper, yang masih berada di tangan Shinta. Lalu ia pun menarik koper tersebut menuju ke mobil hitam, yang sedang terparkir di depan gerbang rumah Shinta.


"Huh! Sok coll lagi! Dasar pria nggak romantis! Lihat saja nanti, akan ku buat dia menjadi pria bucin!" gumam Shinta, yang terlihat ia sedang mengikuti langkah Fahmi dengan jarak satu meter dibelakang Fahmi. Sehingga gumamannya sangat terdengar jelas oleh Fahmi, membuat ia tersenyum tipis. Namun ia tak mau meresponnya karena waktu mereka yang begitu mepet dengan keberangkatan pesawat mereka.


Setelah keduanya berada di mobil, Fahmi meminta supirnya untuk duduk di samping kursi kemudi, karena dialah yang akan mengemudikan mobilnya. Karena memang Fahmi sangat lihai, dalam mengemudi mobilnya, makanya walaupun kondisi jalan sedang ramai, itu tidak akan menjadi penghalang baginya.


Sehingga dalam waktu tiga puluh menit, mereka pun telah sampai di bandara. Dan untungnya juga Fahmi sudah melakukan check-in secara online. Ditambah lagi ia dibantu oleh anak buahnya. Sehingga memudahkan mereka untuk segera memasuki pesawat. Dan kini keduanya sudah berada didalam pesawat, bahkan mereka sudah duduk dengan nyaman dikursinya.


Suasana begitu canggung bagi Shinta, karena ia harus duduk bersebelahan dengan Fahmi, membuatnya merasa tak nyaman. Sementara Fahmi malah terlihat tenang dan santai, dengan posisi duduk yang menyandar, dikursinya. Dengan mata yang terpejam. Sedangkan tangannya ia lipatkan dibawah dadanya. Sehingga ia dapat merasakan ketidak nyamanan Shinta saat ini.


"Tenanglah! Aku tidak akan melakukan sesuatu yang belum halal untukku! Jadi sebaiknya kamu tidurlah dengan tenang!" ujar Fahmi, dengan mata yang masih tertutup. Membuat Shinta sedikit kaget, mendengarnya.


"Eh! Aku pikir dia sudah tertidur! Huh! Bikin kaget aja, tiba-tiba bersuara dengan mata terpejam!" batin Shinta, "Aah.. sudahlah! Kalau dia sudah ngomong begitu berarti aku aman! Kebetulan aku sudah mengantuk banget! Sebaiknya aku tidur deh," batinnya lagi sambil ia memejamkan matanya. Dan tak berapa lama Fahmi membuka matanya, setelah ia mendengar suara hembusan nafas Shinta yang mulai teratur menandakan ia telah pulas.


Fahmi tersenyum tipis, melihatnya, seraya ia menyelimuti Shinta dengan jasnya. Setelah itu ia kembali memejamkan matanya kembali, dan tak berapa lama ia ikut terlelap. Perjalanan mereka cukup panjang, membuat mereka enggan membuka matanya. Karena akan menjadi canggung. Apalagi Fahmi yang memahami sedikit ilmu agama, jadi ia harus benar-benar menjaga sikapnya.


Empat belas jam pun berlalu, dan tiba-tiba terdengar, "Selamat datang di Bandara Schipol, Amsterdam,". Suara pilot dari ruang kendali. Membuat Fahmi dan Shinta, langsung membuka matanya dan mereka pun bergegas untuk bersiap.

__ADS_1


"Selamat datang di Amsterdam! Apapun yang terjadi nanti, Ku mohon jangan pernah menyerah," batin Shinta, seraya memandang punggung Fahmi, saat mereka hendak turun dari pesawat.


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2