
.*═══❉্͜͡🧡Mutiara Hikmah.🧡❉্͜͡═══*
Tatkala engkau hidup membawa husnudzhan kepada Allah. Maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbahagia
Allah itu lebih tahu dengan apa yang kita butuhkan, karena dia adalah AL ALIIM
Allah lebih mengerti dengan kondisi dan keadaan kita sehingga semua takdirnya adalah untuk kebaikan kita. Walau terkadang yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan hati.
Ikhlaslah apapun yang terjadi dan menimpamu. Karena, pasti ada hikmahnya bila kau menerima hal itu dengan hati yang penuh husnudzhan
Optimislah menghadapi kehidupan ini, sebab Allah lebih tahu daripada kita. Karena Allah itu lebih pengasih dan penyayang kepada kita daripada semua yang ada di muka bumi ini.
So, Berhusnudzhonlah Kepada Allah, Maka Engkau Akan Menjadi Hamba Yang Paling Berbahagia.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🧡❉্᭄͜͡•═══════•
Setelah mendengar penjelasan dari istrinya. Hafidz, semakin gencar melakukan hubungan, yang selama ini ia tahan. Karena ia tak ingin menyakiti buah hatinya. Setelah ia mengetahui hal tersebut justru baik untuk kelancaran proses persalinan Haniah, Hafidz pun tak pernah lagi menahan-nahan hasratnya lagi. Ditambah lagi, ia sudah cukup lama tak melakukan hubungan itu, sehingga kini bak seorang yang baru buka puasa ia tak pernah membiarkan istrinya pergi dari kamar mereka. Dan itu malah membuat Haniah menjadi kesal.
"Iikh! Hentikan Mas! Mengapa kamu jadi seperti ini sih! Bukankah tadi kamu sudah melakukannya berkali-kali! Jadi sekarang biarkan Niah berjalan-jalan sebentar. Sumpek tau didalam kamar mulu!" protes Haniah, terlihat kesal karena kelakuan suaminya, yang terus-terusan ingin bercumbu dengannya.
__ADS_1
"Hehehe, maaf Sayang, kamukan tahu, Mas selama kamu hamil tak berani menyentuh kamu. Tapi setelah mendengar ternyata itu baik untuk kamu dan Anak kita, Mas jadi tak ingin menahannya lagi Sayang," balas Hafidz, dengan tatapan mata yang masih bergairah melihat istrinya.
"Iya sih! Tapi nggak begini juga kali! Lihat aja tuh matanya, udah kayak mau menerkam Niah aja!" protes Haniah, bahkan ia sampai bergidik karena, melihat tatapan suaminya yang seakan ingin memakannya.
"Hehehe... ho'oh Mas kepingin itu lagi, Sayang," balas Hafidz, dengan tampang tak tahu malunya.
"Apa! Tidak-tidak! Niah lelah! Niah mau mandi aja!" teriak Haniah, dan ia pun langsung kabur menuju ke kamar mandi, dan langsung menguncinya.
Melihat Haniah, yang kabur karena ketakutan, Hafidz malah tertawa lucu melihatnya, bahkan ia begitu gemas melihatnya, " Hehehe.. lucu banget sih istriku. Walaupun perutnya buncit, tetapi menggemaskan. Hmm.. udah sok jual mahal lagi, lihat aja palingan sebentar lagi dia memanggil Suaminya juga, diakan nggak bisa jauh dari gue," gumam Hafidz, dengan penuh percaya dirinya.
...****...
Sementara itu Haniah yang berada dikamar mandinya, terlihat kelelahan. Sehingga ia memilih berendam air hangat dulu di dalam bathtubnya, selepas ia mandi wajib tadi.
Namun, kenyataannya ia malah merasakan perutnya sedikit mules, bahkan ia merasa seakan ada sesuatu yang ingin keluar dari bagian intimnya, "Akh, apakah ini sudah waktunya Ana melahirkan? Tapi bukankah Dokter mengatakan dua Minggu lagi ya?" gumamnya, sambil ia mengingat-ingat jadwal yang ditentukan oleh Dokternya.
Disaat ia sedang mengingat-ingat perkataan Sang Dokter, perutnya malah kembali bergejolak, seakan, Bayi yang masih berada di dalam perutnya memaksa ingin keluar, "Akh, Astaghfirullah! Maaas!" teriaknya seraya, ia bangkit dari bathtubnya, lalu ia pun langsung mengambil handuk kimono, dan berusaha ingin berjalan namun begitu sulit, "Aakh..Mas Hafiidz!!" teriaknya lagi dengan sekuat tenaganya.
_____
Sementara Hafidz yang masih berada di atas tempat tidurnya. Sedikit tersentak ketika mendengar teriakkan Haniah yang memanggil namanya. Namun seketika ia tersenyum smrik, karena didalam bayangannya, Haniah memanggil namanya, karena ingin mengajaknya melakukan sesuatu yang menggairahkannya lagi.
__ADS_1
"Hmm...apa gue bilang, pasti sebentar lagi dia memanggil gue, benarkan? Haniahku mah nggak bisa jauh-jauh dari suaminya yang ganteng ini," gumam Hafidz, yang terlihat ia masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Namun ketika teriakan Haniah untuk kedua kalinya, ia pun langsung bangkit dan langsung bergegas ke kamar mandinya.
"Oke Sayang! I'm coming baby!" kata Hafidz, yang terlihat ia begitu percaya dirinya memasuki kamar mandi tanpa memakai sehelai kain pun. Lalu ia langsung menerobos masuk. Membuat Haniah terkejut, saat melihat junior suaminya yang terlihat begitu togap seakan sudah siap untuk bertempur.
"Astaghfirullah! Apaan sih kamu Mas! Kenapa tidak pakai.,.. Aakh..,!!!" tegur Haniah, namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, ia kembali merasakan sakit pada perutnya.
Mendengar Haniah terpekik, Hafidz yang tadi begitu percaya dirinya, langsung panik, melihat wajah kesakitan istrinya, "Sayang kamu kenapa? Apakah perut kamu sudah mulai Sakit Sayang?" tanyanya sambil ia memegang perut buncitnya Haniah, yang terasa begitu keras.
"Iya Mas! Kayaknya Niah mau melahirkan Mas! Cepat kamu mandi sekarang!" balas Haniah, yang suaranya terdengar berat, seakan ia sedang menahan sesuatu yang amat sakit.
"Apa! Kamu bercanda ya sayang? Bukankah Dokter mengatakan dua minggu lagi ya kamu melahirkannya? Masa iya sih sekarang?" tanya Hafidz yang, sepertinya ia tak percaya dengan perkataan istrinya.
"Niah, tidak bercanda Mas! Aakh!! Astaghfirullah Ini benar-benar sakit Mas! Sepertinya Niah tidak akan sempat kerumah sakit! Jadi sebaiknya kamu panggilkan Shinta saja Mas, suruh dia datang secepatnya kesini!" teriak Haniah, yang wajahnya kini sudah dipenuhi dengan keringat janggung membuat Hafidz semakin Khawatir.
"Astaghfirullah, jadi benaran ya? Kalau begitu tunggu sebentar Sayang," balas Hafidz, seraya ia mengambil handuk kimononya yang selalu tersedia di dalam kamar mandi mereka. Setelah ia selesai memakai handuk tersebut, Hafidz pun langsung menggendong istrinya, dan langsung membawanya ketempat tidurnya. Setelah itu ia pun mengambil benda pipihnya dan langsung menghubungi Shinta agar secepatnya datang.
Setelah panggilan terputus, Hafidz, kembali menghampiri Istrinya, "Sayang, Nggak papakan kalau Mas tinggal mandi dulu? Mas nggak bakal Lama kok!" katanya, masih terlihat cemas. Namun ia teringat kalau dirinya belum mandi wajib.
"Iya Pergilah Mas!" balas Haniah, yang terlihat ia masih menahan rasa sakitnya.
"Baiklah Sayang! Sebentar ya?" kata Hafidz, lalu ia pun langsung bergegas ke kamar mandi dengan terburu-buru, karena ia takut, meninggalkan Haniah, sendiri dalam keadaan kesakitan.
__ADS_1
Setibanya di dalam kamar mandinya ia pun langsung membersihkan dirinya, sambil matanya menatap ke juniornya, "Haiiis..! Ah Maaf ya juniorku! Sepertinya mulai sekarang kamu harus berpuasa lagi!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...