
•─⊱◈◈◈⊰🤍Kalam Hikmah 🤍⊱◈◈◈⊰─•
"Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal terbaik, termahal dan tercantik yang kita miliki atau dari hal-hal terindah yang selalu kita impikan. Akan tetapi, kebahagiaan datang dari cara kita menyikapi apa yang kita miliki. Syukurilah, maka kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Melihat istrinya pergi karena sedang merajuk padanya, membuat Hafidz resah. Karena sudah pasti ia tidak akan bisa bermanja-manja padanya. Makanya, sebaik Haniah pergi, ia pun segera menyusul sang istri, yang sudah pasti ia berada dikamarnya. Dan sesampainya ia dikamar mereka, ternyata Haniah berada disana.
"Loh, kok nggak ada? Kemana Hani?" gumamnya seraya matanya melihat sekeliling kamarnya, "Apa dia dikamar mandi ya? Coba akh aku lihat." Hafidz pun langsung bergegas ke kamar mandi dan ternyata kamar mandi juga kosong.
"Aduuh, dimana Haniahku? Kok nggak ada sih?" gumam Hafidz lagi, dan disaat ia hendak meraih handel pintu bermaksud keluar dari kamarnya. Namun matanya tanpa sengaja melihat pintu yang mengarah ke balkon kamarnya terbuka sedikit.
"Hmm.. apa Niah ada di balkon ya? Coba lihat deh," gumamannya, lalu ia berjalan menuju pintu mengarah ke balkon kamarnya. Dan benar saja ternyata Haniah memang berada disana, sedang berdiri memandang indahnya langit malam.
"Sayang kamu disini?" tanya Hafidz, sembari ia memeluk Haniah dari belakang, dan meletakkannya wajahnya dibahu istrinya.
"Sayang kamu marah ya sama Mas?" tanya Hafidz lagi, karena ia tak mendapatkan respon dari Haniah. Dan sekali lagi Haniah tak merespon pertanyaan Suaminya, ia masih diam seribu bahasa, dengan tatapan masih mengarah ke langit malam.
__ADS_1
"Sayang Maaf ya jika telah membuat kamu marah. Maafkan mas juga yang tidak bisa mengerti keinginanmu. Tapi Mas lagi belajar untuk selalu mengertiin kamu Sayang," ujar Hafidz dengan tulus.
"Siapa juga yang marah sih Mas? Orang Niah nggak marah kok," balas Haniah, namun terdengar sedikit ketus
"Nggak marah? Tapi kenapa terdengar jutek sih? Sayang jangan ngambek lama-lama, nanti langit berubah jadi mendung loh, karena takut melihat melihat kamu marah. Maafin Mas ya sayang. Love you." rayu Hafidz, sembari ia mengecup lembut pipinya Haniah.
"Iya loh, Niah udah maafin Mas kok," balas Haniah, terlihat sedikit tersipu. Membuat Hafidz tersenyum tipis melihatnya. Dan timbullah rasa ingin menggodanya lagi.
"Sayang kamu tahu nggak kenapa lampu itu terlihat redup?" tanya Hafidz sembari ia menunjuk sebuah lampu yang terlihat dihalaman rumah mereka.
"Nggak tahu, emangnya kenapa?" Bukannya menjawab Haniah malah balik bertanya pada Hafidz.
"Itu karena lampu itu pasti cemburu sama kamu, soalnya mata kamu terang banget buat menerangi masa depanku, Sayang," balas Hafidz, sembari mengedipkan matanya.
“Tahu nggak Sayang? Mas telah tulis namamu di langit, tapi angin meniupnya. Dan juga telah Mas tulis namamu di laut, tapi badai membawanya. Lalu, Mas coba menuliskan namamu di hati Mas, tapi cinta menahannya. Jadi jangan salahkan Mas, kalau Mas semakin cinta sama kamu Sayang,"
Wajah Haniah langsung memerah, tatkala mendengar gombal maut suaminya, "Eh, kenapa Mas jadi tukang gombal sih?" tanyanya terdengar lirih, sambil ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedang tersipu.
"Emangnya ada larangannya ya? Suami menggombali istrinya sendiri?"
__ADS_1
"Nggak ada sih? Tapi Aneh aja rasanya Mas, mendengarnya," balas Haniah, jadi salah tingkah.
Hafidz tersenyum gemas melihat istrinya yang terlihat salah tingkah itu. Membuat ia semakin ingin menggombalinya. "Sayang Tuhan itu suka pamer yah?" Haniah langsung tersentak mendengar pertanyaan Hafidz.
"Eh, kamu kok ngomong gitu sih Mas?"
"Iya loh Sayang, Allah itu pamer, makanya dia itu ciptain kamu buat buktikan dia punya ciptaan yang begitu sempurna.” balas Hafidz sambil mengedipkan sebelah matanya. Haniah semakin terperangah melihat tingkah laku suaminya, hingga ia tak bisa mengeluarkan kata-katanya lagi.
"Sayang, di dunia ini, cuma ada 3 hal yang tidak bisa kuhitung, jumlah bintang di langit, pasir di bumi, dan cintaku ke kamu,"
Haniah semakin salah tingkah mendengar gombalan suaminya, yang membikin jantungnya berdesir-desir karena berkali-kali Hafidz mengungkapkan rasa cintanya.
"Iis udah akh Mas, Niah nggak kuat dengar gombalan Mas! Niah nyerah Mas!" ujar Haniah sembari mengangkat kedua tangannya. Membuat Hafidz langsung tertawa lucu.
"Hahahaha, kamu kok lucu banget sih Sayang? Mas digombali kaya sedang berperang, pakai ada kata menyerah," ujar Hafidz, masih terlihat tertawa geli.
"Iiiis.. tau akh nggak lucu tahu!" cetus Haniah, kesal, membuat bibirnya langsung mengerucut kedepan, membuat Hafidz semakin gemas, hingga membuat ia tak kuasa menahan dirinya lagi. Dan tanpa basa-basi lagi ia langsung meraih bibir ranumnya Haniah. Membuat mata Haniah membulat sempurna.
Namun karena, permainan bibir sang Suami begitu lembut dan hangat, membuat Haniah akhirnya ikut terhanyut. Hafizh yang mendapatkan respon dari istrinya, membuat hasrat birahinya bangkit. Hingga membuat rasa ingin berpetualangnya tak bisa ia kendalikan lagi.
__ADS_1
Sehingga dalam posisi yang masih berciuman itu, Hafidz langsung menggendong tubuh Haniah dengan ala bridal style. Lalu ia pun membawanya ke ranjang mereka. Hafizh juga terlihat begitu bersemangat, membawa Haniah, mengarungi ke samudra mahligai percintaan yang panas membara itu.
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...