
*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*
"Sedalam apapun jurang, pasti ada dasarnya
Seberat apapun ujian, pasti ada jalan keluarnya
Ingatlah janji Allah, bahwa Dia tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya
Sebab Allah itu Maha Adil, Ia tahu betul kapasitas setiap hamba-Nya dalam menghadapi ujian. Apapun cobaan yg menimpa kita saat ini, Allah tau kita mampu melewatinya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•
Dikota JB.
Setelah, menjemput Shinta sahabatnya Haniah. Fahmi, langsung melanjutkan perjalanannya menuju kota JB. Dan dalam waktu, dua Jam perjalanan, akhirnya mobil yang membawa mereka, pun memasuki Area kota JB. Bahkan mobil yang dikemudikan Fahmi kita sudah memasuki halaman puskesmas, tempat Haniah dan Shinta pernah magang disana.
Setelah mobil terparkir, Haniah dan Shinta langsung turun. Begitu juga dengan Fahmi, yang ikut turun. Bahkan ia selalu mengikuti Haniah. Karena mengingat pesan dari sang bos. Yang menyuruhnya agar melindungi istri Bosnya tersebut. Sebenarnya Haniah merasa tidak nyaman, karena harus diikuti terus. Tapi karena Shinta yang terlihat sedang bucin padanya. Akhirnya ia pun membiarkan Fahmi mengikutinya
"Mimpi apa gue tadi malam ya? Bisa berdekatan dengan pangeran gue," bisik Shinta pada Haniah.
"Ngomong apaan sih kamu Shin? Sorry Ana nggak dengar, soalnya lagi Fokus mendengar kata sambutan pak kepala desa nih," balas Haniah, yang terlihat ikut berbisik.
"Huh! Sudah lupakan saja!" kata Shinta seraya ia mencibirkan bibirnya. Tanda. ia kesal pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hmm.. ceritanya lagi merajuk nih? Kalau begitu, nanti kamu pulang sama Adam saja, kalau masih marah," ancam Haniah, Ia sengaja mengancam karena ia tahu kalau sahabatnya itu sangat menyukai Fahmi, asisten Suaminya.
"Eh, siapa yang merajuk? Orang enggak kok! Kalau nggak percaya, tanya aja tuh sama rumput yang bergoyang, pasti mereka akan bilang nggak," sanggah Shinta, yang kini ia sengaja memasang wajah polosnya.
"Huh! Emangnya Ana sinting apa? Disuruh tanya sama rumput!"
"Eh, hehehe..Bukan gue loh yang ngomong gitu ya?" balas Shinta sambil cengengesan.
"Sudahlah! Lebih baik kamu diam deh! Acara puncaknya sudah mau di mulai tuh!" ujar Haniah, agar sahabatnya itu tidak berisik lagi. Dan akhirnya Shinta pun diam, dan mereka pun mengikuti acara ulang tahun puskesmas tersebut.
Setelah acara usai, Haniah dan Shinta, bermaksud ingin langsung pulang. Namun salah satu warga yang ada disana tiba-tiba memanggil mereka. "Bu Dokter, tunggu sebentar!" kata seorang pria yang datang menghampiri mereka.
"Ada apa ya Pak?" tanya Shinta dengan ramah.
"Maaf Bu dokter saya mengganggu sebentar. Perkenalkan Saya Asep, suami yanti, salah satu pasien Dokter. Karena dokter sudah menolong Istri Istri saya melahirkan. Jadi saya dan istri saya ingin mengundang Anda berdua kerumah kami, Apakah Bu dokter bersedia?" ujar pria yang menyebut namanya Asep tersebut.
"Ooh baiklah, memangnya Rumah Pak Asep dimana? Apakah jauh dari sini?" tanya Naazwa, dengan ramah.
"Tidak begitu jauh kok Bu dokter, Rumah saya dibelakang puskesmas ini, hanya saja kita harus memutar jalan Bu Dokter," balas Asep dengan sopan.
"Tidak bisa Naik Mobil Bu, karena jalanannya amat sempit. Sebaiknya mobilnya ditinggal disini saja Bu Dokter,"
"Ooh, ya sudah kalau begitu, mari Pak, kita langsung saja kesana," ajak Haniah, namun sebelum pergi, tatapan matanya langsung kearah Fahmi, "Bang Fahmi tunggu disini saja ya? Kami tidak lama kok," sambungnya pada Fahmi.
"Maaf Ukhty, amanah dari pak Hafidz, saya tidak boleh jauh dari Anda. Jadi saya akan tetap mengikuti Anda kemanapun itu!" balas Fahmi dengan tegas.
"Tapi Bang Fahmi, ini cuma.." kata Haniah, namun langsung di potong oleh Fahmi.
"Ukhty, bukankah Andan tahu, Amanah itu merupakan salah satu sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajaran untuk bersifat amanah ini sejalan dengan perintah Allah di surat An Nisa ayat 58 yang artinya:
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”
__ADS_1
(QS. An-nisa ayat 58)
Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda tentang amanah, yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menepati janji”
"Jadi maaf Ukhty, saya tidak bisa mengikuti perintah ukhti, karena saya tak ingin mengikuti ajaran Rasulullah serta mengikuti perintah dari Rabb saya!" jelas Fahmi, memotong perkataannya Haniah. Dan seketika Haniah tidak bisa membantahnya lagi.
"Ya sudah, kalau begitu. Ayo Pak kita berangkat saja sekarang," ajak Haniah, yang terlihat pasrah. Dan akhirnya mereka pun mengikuti Asep, menuju kerumahnya. Didalam perjalanan mereka.
"Han? Apakah pangeran gue seorang Ustadz? Soalnya dia kok seperti kamu ya, sering menceramahi orang," bisik Shinta, yang terlihat ia begitu antusias. Dan nampak sekali ia semakin mengagumi Fahmi.
"Ana juga nggak tahu, tapi Kata Mas Hafidz, dia pernah mondok di tempat Ana mondok juga, tapi dipondok putranya," balas Haniah apa adanya.
"Ooh, pantas saja. Hmm..Han? Kayaknya gue semakin fall in love deh sama Asisten laki Lo. Gimana nih Han, tolongin gue dong," bisik Shinta lagi, sambil sesekali melirik ke arah Fahmi.
"Ah, kamu! Tetapkan dulu hati kamu, dan Sholat istiqoroh minta petunjuk dulu dari Allah. Baru deh, kamu bisa menguapkannya," balas Haniah terlihat, ikut berbisik.
"Hmm.. Baiklah Ustadzah! Ane, akan melaksanakan sesuai titah Ustadzah," ujar Shinta seraya ia mengedipkan sebelah matanya pada Haniah. Dan bertepatan mereka pun sampai disebuah rumah kecil. Yang terlihat rumah tersebut bergitu terpencil dan jauh dari tempat pemukiman penduduk.
"Kita sudah sampai Bu Dokter, ini rumah saya. Maaf rumahnya masih gubuk," ujar Asep masih belum membukakan pintu gubuk tersebut.
"Iya nggak papa Pak Asep," balas Haniah lembut.
"Han, kok rumahnya menyeramkan ya? Dan aku merasa ada yang tidak beres deh," bisik Shinta, sambil merangkul lengan Haniah, terlihat sekali ia sedikit takut.
"Huus! Kamu ngomong apa sih! Sudah jangan su'udzon," balas Haniah, lagi. Yang sebenarnya ia juga merasakan keanehan tersebut. Namun karena ia tak ingin membuat temannya takut. Ia pun berusaha tetap tenang.
Sedangkan Fahmi yang dari awal merasa ada yang tidak beres ia pun berpura-pura mengangkat handphonenya yang tadi sempat ia bunyikan.
"Maaf Ukhty, saya menerima panggilan dulu," katanya pada Haniah dan dianggukan olehnya. Lalu ia pun sengaja menjauh.
"Mari Bu Dokter kita masuk," ajak Asep, lalu mereka pun masuk dan disaat pintu baru saja ditutup.
__ADS_1
"Jangan bergerak! Dan jangan bersuara! Atau bayi ini akan mati!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...