
Didalam mobil Atha.
Sesuai permintaan suaminya, Haniah akhirnya berangkat ke kampusnya bersama dengan Atha. Dan akibat Atha sempat memanggilnya Sayang, membuat jantung Haniah tidak bisa diajak kompromi. Sehingga membuat suasana didalam mobil menjadi hening, karena ia begitu canggung pada suaminya.
Namun tidak bagi Hafiz, ia justru begitu senang karena bisa duduk bersebelahan dengan istri cantiknya. "Niah? Kamu kenapa kok diam? Lagi sariawan ya?" tanya Hafizh, sedikit menggoda, memecahkan keheningan.
"Eh, nggak kok Mas!" sentak Haniah, yang ternyata ia sedang melamun.
"Ya ampun, Mas ngagetin kamu ya? Maaf Niah! humm.. emangnya kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Hafizh, terlihat penasaran.
"Eh, ng-nggak mikirin apa-apa kok Mas," dalih Haniah terlihat gugup, karena Hafizh memegang tangannya yang sedang diatas pahanya.
"Nggak mikirin apa-apa kok kaget sih? Atau kamu lagi mikirin Mas yaa?" goda Hafidz, sembari ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Haniah yang melihatnya langsung membulat.
"Hah! Apaan sih Mas, kamu genit deh!" balas Haniah, terlihat salah tingkah.
Atha langsung tertawa lucu saat melihat mata Haniah yang membulat. "Seandainya Haniah tidak memakai cadar, pasti wajahnya akan terlihat memerah" itulah yang ada dalam pikirannya.
"Hahahaha, genit sama istri sendiri nggak papakan Sayang?" tanya Atha, yang terlihat ia tidak bisa menahan tawanya.
Mendengar Atha kembali memanggilnya Sayang, membuat jantung Haniah kembali berdetak lagi. "Eh, Mas Hafizh! Apaan sih! Jangan bikin Niah malu deh, ada bang Fahmi tuh!" balas Haniah, sedikit berbisik.
"Aah, maaf, maaf, habis kamu nggak jujur sih sama Mas, jadikann Mas penasaran," kilah Hafizh, "Lagian kenapa harus malu sih Niah, bukankah ini kamu bilang kita sudah halal? Jadi nggak berdosa dong kalau suaminya menggoda istrinya?" sambungnya lagi, sambil ia menaik turunkan alisnya.
"Hmm.. iya, maaf Mas, sudah ya Niah, mau turun," balas Haniah, yang ternyata mobil mereka telah berhenti tepat di depan kampusnya Haniah.
"Hah! Sudah sampai?" sentak Hafizh, yang tak menyadari kalau mobil mereka telah berhenti. Karena memang sejak tadi ia hanya memperhatikan wajah istrinya saja.
"Sudah Pak!" sahut Fahmi dari kursi pengemudi.
"Heh, cepat banget sih Fahmi?" protes Hafizh, yang sepertinya masih belum rela berpisah dari istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Eh, maaf Pak..saya .." ucap Fahmi, terlihat serba salah.
"Eeeeh.. kok malah berdebat sih? Ya sudah Niah pamit ya Mas?" potong Haniah, sembari ia mengulurkan tangannya.
"Hmm Maaf, itukan karena Mas masih ingin bersama kamu, Niah," balas Hafiz, semabri ia akhirnya mengulurkan tangannya juga.
"Nanti dirumahkan bisa Mas. Ya sudah Niah turun ya," ucap Haniah lagi, setelah ia mengecup tangan suaminya. Lalu ia bermaksud ingin membuka pintu mobilnya. Namun Hafiz menahan tangannya.
"Ada apalagi Mas?" tanya Haniah bingung.
"Tidak adakah kiss pamitannya Niah?" tanya Hafizh, seraya ia meletakkan jari telunjuknya ke pipi kanannya.
"Eh, Iis.. Mas ada bang Fahmi, malu akh Mas!" bisik Haniah, terlihat gugup.
Mendengar bisikan Haniah, spontan mata Hafidz mengarah ke kaca spion tengah, yang kebetulan Fahmi sedang meliriknya dari kaca tersebut. Karena mendapatkan tatapan dingin Fahmi langsung paham.
"Heh! Iya Pak saya keluar!" kata Fahmi sebelum, Hafizh mengeluarkan kata-katanya.
"Fahmi sudah turun Niah, sekarang berikanlah," ucap Hafizh, yang terlihat ia kembali mengetuk-ngetuk pelan pipnya dengani jari telunjuknya.
Tanpa ingin berkata-kata lagi, Haniah langsung mendekati wajahnya ke wajahnya suaminya. Namun disaat wajahnya telah mendekat tiba-tiba Hafizh menjauhkan wajahnya.
"Eh, kok Mas menghindar sih?" tanya Haniah, terlihat heran.
"Mas, nggak mau dikiss kalau kamu masih memakai cadar. Kan jadi nggak terasa Niah," balas Hafiz, menjelaskan keinginannya.
Mendengar perkataan suaminya, Haniah pun membuka cadarnya, dan terlihatlah wajah cantiknya. Membuat Hafizh bersemangat mendekati wajahnya. Haniah tersenyum lucu melihat tingkah suaminya, lalu ia pun mulai mengecup pipi kanan dan kirinya Hafizh.
"Sudahkan Mas?" kata Haniah, setelah ia memberikan kecupannya.
"Belum Niah, ini belum..ini belum dan ini juga belum," balas Hafizh, sembari ia menunjukkan dahi, hidung dan bibirnya, dengan wajah terlihat polos, membuat Haniah kembali tersenyum.
__ADS_1
"Humm... ya sudah sini Mas," kata Haniah, yang kemudian ia pun memegang wajah suaminya. Lalu ia mulai mengecup lembut dahi Hafidz, lalu turun ke pucuk hidung mancungnya, setelah itu ia pun mengecup singkat bibirnya Hafidz.
"Sudahkan Mas?" tanya Haniah lagi setelah ia menyelesaikan permintaan suaminya.
"Hu'um, tapi sekarang gantian Emas ya?" tanya Hafidz kembali memasang wajah polosnya, berharap Haniah mengizinkan ia mengecupnya.
Melihat wajah suaminya yang terlihat polos penuh pengharapan, Haniah pun tersenyum lembut, sembari ia mengangguk kepalanya. Dan kemudian ia pun memejamkan matanya tanda ia telah siap mendapatkan kecupan dari Hafizh.
Mendapatkan lampu hijau dari istrinya, Hafidz terlihat begitu bersemangat. Dan ia pun langsung memegang wajah Haniah. Lalu ia pun mulai mengecup lembut dahi istrinya, turun kepucuk hidung nan mungilnya, lalu kecupan berpindah ke pipi kanan dan kirinya Haniah.
Setelah itu Hafizh pun langsung meraih bibir ranumnya Haniah. Berbeda dengan Haniah saat mencium bibirnya yang hanya secara singkat saja. Hafizh justru ingin menikmatinya terlebih dahulu, ia pun menyesapi bibir Haniah, yang seakan ia sedang memakan sebuah permen.
Karena tak ingin Istrinya terlambat karena ulahnya, Hafizh pun melepaskan tautannya, dan kemudian ia pun menyatukan dahinya ke dahi Haniah seraya berkata.
"Niah, Aku mencintaimu karena Allah" ucapnya seraya ia tersenyum lembut pada istri cantiknya.
"Aamiin.. Semoga Allah mencintaimu, karena Mas telah mencintaiku karena-Nya" balas Haniah, yang terlihat ia juga tersenyum lembut pada Hafizh.
"Aamiin, terimakasih Niah."
"Sama-sama Mas, ya sudah, Niah pamit? Assalamu'alaikum" ucap Haniah, sembari ia menutup kembali cadarnya.
"Iya Sayang, Hati-hati ya Wa'alaikumus salam"
Setelah mendapatkan jawaban dari suaminya Haniah pun langsung turun dari mobilnya, meninggalkan Hafizh yang masih terlihat memandang kepergiannya.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah," gumam Hafih
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit Oke😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.
__ADS_1