TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
BERBULAN MADU.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


𝔄𝔩𝔩𝔞𝔥 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔫𝔥 𝔟𝔢𝔯𝔨𝔞𝔱𝔞 𝔟𝔞𝔥𝔴𝔞 𝔧𝔞𝔩𝔫 𝔥𝔦𝔡𝔲𝔭 𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔲𝔡𝔞𝔥.


𝔗𝔢𝔱𝔞𝔭𝔦𝔇𝔦𝔞 𝔟𝔢𝔯𝔨𝔞𝔱𝔞 "𝔄𝔨𝔲 𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔯𝔰𝔞𝔪𝔞 𝔪𝔢𝔯𝔢𝔨𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔞𝔟𝔞𝔯"


وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ


"𝙱𝚎𝚛𝚜𝚊𝚋𝚊𝚛𝚕𝚊𝚑, 𝚜𝚎𝚜𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞𝚑𝚗𝚢𝚊 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚎𝚛𝚝𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚂𝚊𝚋𝚊𝚛"


(ℚ𝕊. 𝔸𝕃-𝔸𝕟𝕗𝕒𝕝 𝕒𝕪𝕒𝕥 46)


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


"Bunda, sakit kanker Rahim Mas, dan alasan itu juga, Niah ingin menjadi Dokter! Tapi, hiks..hiks.. Bunda, malah pergi hiks..sebelum Niah, berkesempatan untuk mengobatinya.. hiks.. hiks.." ujar Haniah, tangisnya kembali pecah. Membuat Hafidz menjadi Iba melihatnya.


"Sssth.. jangan menangis lagi Niah, ingatlah semua yang terjadi adalah sudah menjadi kehendak Allah tidak ada yang bisa menentangnya Sayang," balas Hafidz, sembari menghapus air mata Haniah.


"Sayang, langkah, rezeki, pertemuan dan maut itu sudah diatur oleh Allah dan sudah tertulis di Lauhulmahfuz dan tidak ada yang bisa merubah kitab Allah tersebut Sayang. Allah sudah menuliskan segala seluruh catatan kejadian di alam semesta ini, jauh sebelum manusia tercipta Dan Lauhulmahfuz disebut di dalam Al-Qur'an sebanyak 16 kali," tutur Hafidz, dengan penuh kelembutan.


"Jadi kamu harus mengikhlaskan apa yang sudah menjadi ketentuan Allah Sayang. Karena sudah pasti ini yang terbaik, bagi kamu juga bagi Bunda, apalagi sekarang Bunda pasti sudah tenang disana. Dan yang pasti Bunda tidak akan mersa sakit lagi Sayang," tuturnya lagi. Membuat hati Haniah, menghangat.

__ADS_1


Karena apapun yang dikatakan suaminya, benar adanya. Sehingga kini ada perasaan kelegaan dihati Haniah. Apalagi setelah Haniah menceritakan semua yang tersimpan dihatinya, pada Hafidz, membuat ia jauh lebih baik. Ditambah lagi setelah, mendengar wajangan sedikit dari suaminya. Membuat hatinya kini mulai mengikhlaskan kepergian sang ibu.


"Apakah, yang aku katakan tadi benar Sayang?" tanya Hafidz, karena ia melihat Haniah tidak memberikan respon kepadanya.


"Benar Mas," jawab Haniah lirih.


"Alhamdulillah, jadi apakah sekarang kamu sudah bisa mengikhlaskan kepergian Bunda Sayang?" tanya Hafidz lagi.


"In shaa Allah, Niah sudah mengikhlaskan Bunda Mas," jawab Haniah masih terdengar lirih. Namun masih terdengar oleh Hafidz.


"Alhamdulillah anak pintar, itu baru namanya putri Sholehahnya Bunda," ujar Hafidz, sembari ia memberikan kecupan lembut pada puncak kepalanya Haniah.


"Ya sudah, sekarang temani Mas, makan yuk? Mas laper banget Niah," kata Hafidz, yang sebenarnya ia tidak lapar. Ia melakukan itu, karena berharap Haniah mau makan. Namun Haniah tak langsung menjawabnya.


"Alhamdulillah, ya sudah ayo kita keruang makan,' ajak Hafidz. Lalu mereka pun turun dari tempat tidur. Namun seketika Haniah tersentak kaget, saat melihat suaminya bisa berjalan.


"Eh, Mas kaki kamu?!" sentaknya dengan mata mengarah ke kakinya Hafidz. Yaa karena ia masih dalam masa bergabung atas kepergian ibunya. Membuat ia tak pernah memperhatikan suaminya. sehingga ia tidak mengetahui kalau Hafidz kini bisa berjalan.


"Iya Sayang. Alhamdulillah kaki Mas Sudah sembuh, atas izin Allah, juga berkat bantuan Fahmi, Sayang," jelas Hafidz, dengan wajah yang tersirat rasa syukurnya.


"Alhamdulillah, syukur deh, Niah ikut senang Mas. Selamat ya Mas, akhirnya kamu bisa berjalan kembali," ucap Haniah, sembari ia memberikan pelukannya pada suaminya.


"Terima kasih Sayang," balas Hafidz, dan langsung membalas pelukan istrinya. "Ya sudah ayo kita makan dulu, perut Mas sudah keroncongan nih," lanjutnya lagi, lalu ia pun menggandeng tangan Haniah. dan mereka pun beranjak dari kamar mereka menuju ke ruang makan.

__ADS_1


Setibanya di ruang makan, Haniah terlihat begitu bingung. Karena ia baru menyadari kalau sekelilingnya telah berbeda. "Mas, sebenarnya kita dimana? Seingat Niah kitakan dirumah Bunda," tanyanya dengan tatapan mata yang masih melihat sekeliling isi dalam villa.


Melihat wajah kebingungan Haniah yang terlihat lucu membuat, Hafidz tertawa. "Hehehe.. maaf Sayang, sudah membawa kamu tanpa izin. Dan sekarang kita berada di villa keluarga Mas, yang berada di KA sayang," jelasnya sembari ia menarik salah satu kursi yang berada di meja makan.


"Ooh, tapi kita mau ngapain kesini Mas?" tanya Haniah dengan wajah polosnya.


"Yang pasti ingin menyenangkan kamu Sayang," balasnya sembari ia menarik tangan istrinya lalu menyuruhnya duduk di kursi yang ia tarik tadi.


"Menyenangkan Niah? Maksudnya Mas apa?"


"Sayang, kata Ayah kamu sedari kecil sangat menyukai pantai. Nah villa ini berada di dekat pantai, makanya Mas bawa kamu kesini. Sekalian kita berbulan madu Sayang," balas Hafidz, sembari ia mengedipkan sebelah matanya, saat selesai mengucapkan perkataan terakhirnya.


Mendengar kata bulan madu, ditambah melihat kedipan mata sang suami. Mata Haniah langsung membulat kaget dan seketika wajahnya langsung memerah membuat Hafidz, tersenyum lucu melihat wajah istrinya itu.


"Eh! Apaan sih Mas, mulai genit deh!" kata Haniah, yang langsung mengalihkan wajahnya. Nampak sekali ia begitu salah tingkah. Membuat tawa Hafidz pecah.


"Hahahaha... nggak papakan, genit sama istri sendiri Sayang?" goda Hafidz sembari ia mendekati wajahnya ke wajahnya Haniah, membuat Haniah begitu kaget.


"Eh! Iiikh Mas Hafidz! Sana! Niah mau makan!" sentaknya sembari ia mendorong tubuh Hafidz, nampak wajahnya semakin memerah menahan malu. Membuat Hafidz semakin gemas melihatnya.


"Hahahaha.. Baiklah.. baiklah.. kita memang harus makan yang banyak. Agar kekuat kita bertambah saat melakukan malam pertama kita yang tertunda. Iyakan Sayang," ujar Hafidz, dan sekali lagi ia mengedipkan mata genitnya.


"Haaah..Apa?"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈,...


__ADS_2