TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
DISANDRA.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


"Ingatlah janji Allah, bahwa Dia tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya⁣


Ingatlah bagaimana Allah menolong Nabi Yunus alaihissalam ketika terjebak dalam perut ikan, atau bagaimana menakjubkannya pertolongan Allah kepada Maryam ketika ia menghadapi ujian yg luar biasa dahsyat, sampai membuatnya berpikir lebih baik ia mati & terlupakan daripada harus menanggung beban begitu berat⁣



Tapi Allah maha menepati janji. Ia pasti menolong hamba-Nya selama hamba tersebut berserah diri terhadap segala ketetapan-Nya⁣


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


"Jangan bergerak! Dan jangan bersuara! Atau bayi ini akan mati!" ancam seorang pria, yang terlihat sedang memegang pistol, sambil menggendong seorang bayi. Membuat Haniah dan Shinta harus mengikuti perkataannya.


"Siapa kalian sebenarnya? Apakah kalian tak punya hati? Sehingga kalian mengancam kami, dengan nyawa seorang bayi yang baru lahir?" ujar Haniah, dengan tatapan mata yang terlihat sedih. Saat melihat bayi yang ada di tangan pria bersenjata tersebut.


"Bukan hanya tak punya hati! Tapi mereka juga tak punya otak!" sambung Shinta, yang nampak sekali ia membenci para bandit yang sudah menyandra bayi sebagai ancaman buat mereka.


"Aaah! Diam kalian! Jangan banyak omong! Gue nggak perduli! Selagi masih menghasilkan uang! Gue akan melakukan apapun paham!" bentak Pria bersenjata itu.


"Bang Udin! Anda sudah berjanji pada saya, akan melepaskan istri dan bayikukan! Setelah saya membawa mereka kesini! Sekarang tolong tepati janji Anda bang, lepaskan istri dan bayiku, Bang," pinta Asep, sambil ia menengadahkan kedua tangannya, dengan wajah penuh pengharapan.


Pria bersenjata yang dipanggil Udin itu pun tersenyum seringai, melihat Asep, "Heh.. Baiklah, gue akan memberikan mereka. Asalkan kau ikat mereka terlebih dahulu!" katanya, lalu ia pun melirik ke salah satu temannya yang berdiri tak jauh darinya. "Anton, berikan dia tali cepat!" serunya lagi pada temannya yang bernama Anton

__ADS_1


"Baik Bos!" balas Anton singkat, lalu ia pun memberikan sebuah tali tambang yang berukuran kecil, namun terlihat panjang, "Nih! Ikat mereka cepat!" bentaknya pada Asep. Dan mau tak mau Asep pun mengambil tali tersebut, lalu ia pun mendekati Haniah dan Shinta.


"Maafkan Saya Bu Dokter, saya tak bermaksud seperti ini, tapi apalah daya, saya tak bisa berbuat apa-apa lagi, karena mereka telah menyandra istri dan anak saya," jelas Asep, sedikit berbisik.


"Tidak apa-apa Pak, saya paham kok. Lakukanlah perintah mereka," balas Haniah, yang ikut berbisik juga.


"Terima kasih Bu dokter, sekali lagi maafkan saya," ucap Asep, lalu ia pun mulai mengikat tangan Haniah dan Shinta. Setelah itu ia kembali menghampiri Udin, "Sudah Bang, sekarang serahkan bayiku Bang," pintanya lagi, dan kembali ia menengadahkan tangannya.


"Cih! Tidak sabaran sekali kau! Padahal tugas Lo belum selesai! Anton kain yang untuk menutup mulut mereka, pada Ia cepat!" ujar Udin dengan tegas.


"Baik Bos!" balas Anton, dan kembali ia menyerahkan dua kain hitam pada Asep, "Ini cepat tutup mulut mereka!" katanya, dan Asep pun mengambil kain tersebut,


"Bang, bukankah Bu dokter Hani, sudah menutup mulutnya? Apakah kain ini masih dibutuhkan?" tanya Asep, sedikit bingung, karena setahunya Haniah sudah menutupnya dengan cadarnya.


"Bodoh! Bukankah kau sudah lihat tadi! Walaupun mulutnya tak terlihat, tapi dia masih bisa mengeluarkan suaranyakan? Sekarang jangan banyak omong lagi! Cepat lakukan saja yang aku perintahkan!" seru Udin, yang nampaknya ia sudah mulai kesal.


"Tidak apa-apa lakukan saja, tapi tidak perlu membuka cadar saya Pak Asep, timpakan saja kain tersebut pada cadar saya," balas Haniah, yang sebenarnya ia sedikit takut, kalau mereka berani membuka cadarnya.


"Baiklah Bu Dokter," Asep pun melakukan apa yang dikatakan oleh Haniah, ia menimpakan kain hitam tersebut, diatas cadar Haniah. Setelah itu ia juga menutupi mulut Shinta dengan kain hitam juga.


Setelah mulutnya di tutup, tiba-tiba Haniah merasa pusing, serta tubuhnya juga ikut melemas, "Astaghfirullah.. ternyata kain ini sudah diberi bius oleh mereka! Yaa Allah lindungilah kami berdua, jangan biarkan mereka menyentuh kehormatan kami. Hanya pada-Mu hamba meminta hamba serahkan tubuh ini pada-Mu, karena Engkau adalah pemiliknya..aaahs..." ucap Haniah didalam hatinya. Dan seketika tubuhnya terjatuh dan tak sadarkan diri lagi.


Begitu juga dengan Shinta, yang ternyata ia yang terlebih dahulu sudah tidak sadarkan diri. Karena sudah pasti, ia menghirup obat bius tersebut secara langsung. Berbeda dengan Haniah, karena cadarnya membuat ia agak lambat menghirup obat bius tersebut. Setelah keduanya tidak sadarkan diri. Membuat Asep amat kaget.


"Astaghfirullah! Apa yang telah Anda berikan dikain penutup mulut mereka Bang! Mengapa mereka pingsan?" tanya Asep, terlihat sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Jangan banyak tanya! Nih Anak Lo! Dan ingat jangan coba-coba menghubungi polisi! Kalau Lo tidak ingin berurusan lagi sama gue! Lo paham!" bentak Udin, sambil ia menyerahkan bayi yang sejak tadi ada ditangannya.


"Paham Bang!" balas Udin, dengan suara yang terdengar sudah bergetar. Sambil ia menyambut bayi tersebut dan langsung menggendongnya.


"Bagus! Ayo! Sekarang kita bawa mereka dari belakang saja! Karena kita harus secepatnya sampai di dermaga!" ujar Udin, menitahkan pada anak-anak buahnya.


"Baik Bos!" balas anak buah si Udin, yang terdiri dari enam orang, dengan tubuh besarnya. Dan sesuai dengan perintah Bosnya, mereka pun menggendong Haniah dan Shinta, dan membawanya lewat pintu belakang.


...*****...


Sementara disisi lain.


Fahmi yang tadi berpura-pura ingin mengangkat telepon, ternyata ia sedang memanggil para anak buahnya. Dan kini, semua anak buahnya sudah berkumpul, bahkan salah satunya di suruh mengintai gubuk, yang didalamnya terdapat Haniah dan Shinta.


"Bang Fahmi, mereka sudah keluar dari pintu belakang! Seperti Nyonya dan temannya telah dibius Bang! Apakah kita serang saja sekarang Bang?" tanya Anak buahnya Fahmi yang bertugas mengintai gubuk tersebut.


"Jangan gegabah! Kita ikuti saja dulu! Mau dibawa kemana Nyonya dan temannya itu," balas Fahmi. Dan saat bersamaan ponselnya berdering. Dan ia pun langsung melihat siapa yang telah menghubunginya.


"Pak Hafidz?" gumamnya, lalu ia pun menerima panggilan tersebut, "Halo, Assalamu'alaikum Pak Hafidz?" ucapnya setelah panggilan tersambung.


"Wa'alaikumus salam, Fahmi, mengapa handphone istriku tidak aktif? Apakah sekarang kamu berada didekatnya?" tanya Hafidz di seberang.


"Maaf pak! Disini ada sekelompok orang, yang sengaja menjebak kami. Jadi saat ini, istri bapak sedang disandra oleh mereka, tapi Pak Hafidz tenang saja, karena saya aku berusaha menyelamatkannya" jelas Fahmi, mendengar kata disandra, spontan Hafidz kaget.


"Apa! Istriku disandra?! Kalau begitu share lokasi kalian saat ini, karena aku akan kesana dengan helikopter!"

__ADS_1


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


__ADS_2