
"Bang Hafiz!" sentak Haniah, saat ia mengenali wajah pria tersebut.
"Hani, Sebaiknya kamu pergilah dari sini! Biarkan kami yang akan menanganinya," ujar Adam sembari ia, bermaksud menarik tangan Haniah untuk keluar dari ruang UGD tersebut.
Namun dengan spontan Haniah langsung menghempaskan tangan Adam. "Dia Suami Ana! Jadi biarkan Ana yang menanganinya! Jadi please, tinggalkan ruangan ini Dokter Adam!" tegas Haniah, dengan tatapan yang begitu tajam pada Adam.
"Tapi Hani.…"
"Suster tolong antarkan Dokter Adam keluar dari ruangan ini!" potong Haniah, membuat Adam, tidak bisa membantahnya lagi. Dan dengan hati yang terlihat kecewa akhirnya ia beranjak dari ruangan UGD tersebut. Dan membiarkan Haniah dan Shintalah yang menangani Atha.
Sedangkan Haniah langsung menangani Atha, di bantu oleh Shinta. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Ia berusaha tegar. Namun tetap saja ia tak mampu membendung Air matanya, yang tanpa permisi mengalir begitu saja.
"Kenapa bisa jadi seperti ini sih Bang? Apa yang terjadi dengan kamu Bang?" gumam Haniah, sembari ia membersihkan luka-luka di bagian wajah Atha, yang terlihat ada beberapa serpihan kaca, di bagian dahinya.
Shinta yang tadi sempat mendengar perdebatan kecil antara Adma dan Haniah. Akhirnya ia tahu bahwa laki-laki yang sedang ia tangani bersama sahabatnya itu, adalah suaminya Haniah. Membuat Shinta menjadi iba melihat Haniah. Ia bahkan bisa merasakan kesedihan Haniah.
"Han, kalau kamu tidak sanggup, sebaiknya keluarlah, biar aku yang menangani Suami kamu Han," ujar Shinta yang terlihat, ia juga sedang membersihkan bagian tubuh Atha, yang terlihat banyak luka dan serpihan kaca dibagian dadanya Atha.
__ADS_1
"Tidak Shin, Ana sanggup kok, dia seperti ini juga karena Ana, jadi Analah yang harus menyelamatkannya! Hiks..hiks.." balas Haniah yang kini ia terlihat sedang menjahit luka yang nampak lebar di bagian dahinya.
"Karena kamu? Apa maksudnya kamu Han?" tanya Shinta menjadi penasaran.
Haniah tak langsung memberikan jawabannya pada Shinta. Karena ia masih fokus dalam menangani Suaminya, sesekali ia menyeka air matanya, yang tak kunjung berhenti. Namun ia masih tetap fokus dalam mengobati Atha, hingga akhirnya mereka selesai.
Kini dahi Atha, sudah dibalut dengan perban, begitu juga dengan tubuhnya, yang ada beberapa luka yang harus ditutup dengan perban. Sedangkan Kaki sebelah kanannya sudah dipasang gifs karena ada peretak disana.
Haniah, masih berada disisi suaminya dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Suaminya yang terlihat masih memejamkan matanya. Air mata Haniah tak kunjung berhenti, bahkan masih mengalir deras, tatkala ia teringat permintaannya terakhirnya tadi, yang ternyata membawa petaka bagi Suaminya.
"Maaf Bang, Maafin Niah! Seandainya Niah tidak mengutamakan keinginan Niah, mungkin hal ini takkan terjadi, hiks.. hiks..." ucap Haniah yang terlihat ia amat menyesal.
"Dua jam yang lalu, Bang Hafiz sempat datang kerumah kita Shin. Dia meminta Ana, untuk kembali padanya. Namun Ana menolaknya, bahkan Ana meminta dia menceraikan Ana, hiks..hiks.." ungkap Haniah, yang terlihat ia ada penyesalan dari bola matanya.
"Astaghfirullah.. mengapa kamu jadi seperti itu sih Han? Seperti bukan kamu, sih Han? Padahal kamu tahukan Allah membenci perceraian? Kenapa Aku jadi seperti orang bodoh yang nggak paham Agama sih Han? Kemana Hani yang biasanya memberikan pencerahan pada kami hm?" tutur Shinta, yang terlihat tak percaya dengan perubahan sahabatnya itu.
"Hentikan Shin, Ana bukan manusia sempurna! Ana hanya manusia biasa, yang masih punya rasa sakit. Astaghfirullah.. Ana memang bodoh! Hiks..hiks.. Entah mengapa setiap Ana melihat wajahnya Ana teringat ******* wanita itu. Sangat menjijikkan Shin..hiks..hiiks..Ana sudah berusaha ingin melupakan itu tapi.. hiks..hiks.. Astaghfirullah.. Ampuni Ana ya Allah.. heuheuheu.."
__ADS_1
Tangis Haniah semakin pecah, rasa sakit, rasa kekesalan dan rasa bersalah, bercampur menjadi satu. Namun diisaat tangis Haniah pecah, tiba-tiba seorang suster berkata pada mereka.
"Dok, detak jantung pasien sepertinya semakin melemah Dok," kata Suster tersebut. Membuat Haniah menghentikan tangisnya, lalu dengan cepat ia memperiksa keadaan suaminya, dengan dibantu oleh Shinta.
"Han, Sepertinya, suami kamu kritis Han!" ujar Shinta, setelah ia memperiksa keadaan Atha.
"Apa? Lalu apa yang harus kita lakukan Shin? Rumah sakit ini, peralatannya tidak memadai Shin" ujar Haniah, semakin panik.
Melihat kepanikan Haniah, Shinta jadi memiliki ide, "Han, sepertinya kita harus segera membawanya ke rumah sakit besar di kota Han, tidak ada jalan lain hanya itu bila kamu mau suami kamu cepat ditangani!" ujar Shinta mengutarakan idenya.
"Baiklah, apapun kata kamu Shin, tolong Ana ya" balas Haniah terlihat setuju.
"Tapi, resikonya sangat besar Han, Apakah kamu siap?" tanya Shinta terlihat ada kekhawatiran.
"Bismillah, in shaa Allah aku siap!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit yaa😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.