TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
MUTIARA YANG TERINDAH.


__ADS_3

Mendengar perkataan Fahmi Atha mengerutkan keningnya. Karena sudah pasti ia tidak paham dengan kata-kata yang diutarakan oleh Fahmi.


"Maksudnya kamu apa Fahmi? Aku sepertinya gagal paham dengan perkataan kamu, Fahmi!" kata Atha, yang terlihat jelas ia begitu penasaran.


Fahmi pun tersenyum lembut kepada Atha, seraya berkata ''Pak, seorang wanita yang pandai menutupi auratnya dengan sempurna, seperti istri Anda yang bercadar itu. Maka mereka akan diibaratkan sebuah mutiara, Pak," balasnya, sedikit menjelaskan perkatanya tadi.


"Maaf Fahmi saya masih belum Paham," kata Atha lagi, terlihat dari dahinya yang berkerut menandakan ia belum mengerti dengan perkataan Fahmi.


"Pak Hafiz tahu mutiarakan? Mutiara itukan selalu berada ditempat yang tersembunyi didalam cangkang kerang, dan sangat sulit untuk meraihnya. Karena kerang tersebut adanya didasar laut. Dan hanya, orang-orang yang beruntung sajalah yang bisa memilikinya Pak," jelas Fahmi, membuat Atha mulai paham sedikit demi sedikit.


"Nah, seperti itu jugalah wanita yang mampu menyembunyikan kecantikannya. Dan hanya bisa dilihat oleh suaminya serta orang-orang tertentunya saja. Dan saya kagum dengan Anda ternyata Anda salah satu orang yang beruntung itu, Pak," jelas Fahmi lagi.


Mendengar penjelasan Fahmi, Atha terlihat senang. Bahkan ia semakin memiliki rasa syukur yang tak terhingga, karena ternyata ia termasuk orang yang beruntung memiliki Haniah.


"Alhamdulillah, kamu benar Fahmi, istriku memang mutiara yang terindah yang dipercayakan Allah untukku. Makanya itu, aku sangat bersyukur sekali, dan aku harus bisa menjadi imam yang terbaik untuknya. Terima kasih Fahmi, kamu sudah menyadarkan saya," tutur Atha, terlihat begitu bahagia.


"Sama-sama Pak! Ya sudah kalau begitu saya pamit ya Pak, agar secepatnya saya pergi ke kampusnya istri Anda," ujar Fahmi, sembari ia bangkit dari duduknya.


"Pergilah Fahmi, dan berhati-hatilah oke!"


"Oke Pak, kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaikum," pamit Fahmi.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu,"

__ADS_1


Setelah mendapatkan jawaban salamnya dari Atha, Fahmi pun beranjak meninggalkan Atha yang masih menatap kepergiannya hingga ia menghilangkan dibalik pintu ruang rawatnya.


"Ya Allah lindungilah istriku dimanapun dia berada, berikanlah keselamatan untuknya. Dan hamba percayakan dia padamu, karena Engkau adalah sebaik-baiknya Pelindung," batin Atha, tatkala hatinya semakin gelisah.


Karena hatinya tak kunjung tenang Atha akhirnya memutuskan, untuk membaca Alquran, dengan harapan, bahwa pirasatnya salah. Dan berharap juga agar Allah selalu menjaga istrinya dimanapun ia berada.


...*****...


Sementara di Fakultas Kedokteran xxx.


Haniah, sedang mencatat tugas-tugas yang diberikan oleh dosennya. Tiba-tiba dikejutkan oleh, Shinta yang baru saja datang.


"Woy! Rajin banget sih calon dokter kita yang satu ini,'' ujar Shinta, sembari menepuk pundak Haniah. Dan otomatis Haniah yang sedang fokus pun langsung tersentak kaget.


Hehehe, sorry sorry, habis kamu sih, serius banget, lagi ngapain sih?" tanya Shinta, sembari ia melihat catatan yang sedang dikerjakan oleh Haniah. "Eh, rajin banget sih kamu, pakai dikerjain sekarang, kalau aku mah nanti aja dirumah, ngapain repot-repot ngerjain tugas disini," lanjutnya, setelah ia melihat isi tugas Haniah.


"Itukan kamu! Kalau Ana takut nggak sempat Shin, kan kamu tahu sendiri, Suami Ana masih berada di rumah sakit. Makanya aku sempatkan ngerjain tugasnya disini Shin," balas Haniah, yang kemudian ia kembali fokus pada tugasnya.


"Iya juga sih, tapi ngomong-ngomong, gimana keadaan Suami kamu Niah, sudah ada kemajuankah?" tanya Shinta sembari ia duduk disebelah kursinya Haniah.


"Alhamdulillah, sudah sudah membaik kok Shin, tinggal pemulihan kakinya saja kok," balas Haniah, tanpa melihat wajah Shinta sedikit pun, karena ia masih terfokuskan dengan tugasnya.


"Alhamdulillah, semoga semakin membaik ya Han,"

__ADS_1


"Aamiin, Terimakasih ya Shin, ini jugakan berkat kamu. Kalau tidak ada kamu waktu itu mungkin Ana, nggak setegar itu," ujar Haniah, yang tiba-tiba teringat, pada malam ketika Atha, mendapatkan kecelakaan.


"Iya sama-sama, lagiankan kamu kok yang banyak berperan dimalam itu, aku mah hanya membantu sedikit," balas Shinta apa adanya.


"Udah akh, ngapain di ingat lagi sih? Sekarang gue lapar nih! Masih lama nggak sih?" tanya Shinta yang terlihat ia sudah tidak sabaran menunggu Haniah.


"Alhamdulillah sudah kok, ya sudah ayo! Emangnya kamu mau makan dimana sih?" tanya Haniah, sembari ia memasukkan buku-bukunya kedalam tas sandangnya.


"Rahasia dong, pokoknya kamu ikut aja deh,'' balas Shinta, sembari ia bangkit dari duduknya. Dan diikuti juga oleh Haniah, yang akhirnya mereka pun berjalan saling beriringan menuju pintu keluar kelasnya.


Sesampainya di luar, Shinta langsung ngajak Haniah, menaiki mobilnya. Setelah keduanya masuk, Shinta pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Tumben, kamu kok bawa mobil sendiri?" tanya Haniah sedikit heran, karena dia tahu, temannya itu, tidak suka mrmbawa mobil sendiri. Terkecuali ada supirnya, kalau tidak ada, maka dia pasti memilih naik taksi.


"Ya mau gimana lagi, si Asep udah mau kawin, ya terpaksa gue nyupir sendiri! Mau naik taksi bokap belum transfer Han," balas Shinta, dengan pandangan yang terlihat begitu fokus menyetir


Disaat bersamaan tiba-tiba, dua buah mobil memepetkan mereka. Membuat Shinta maupun Haniah kaget, karena kedua mobil itu seakan menggiring mereka.


"Eh, apa-apaan ini! Kenapa kedua mobil ini mepetin gue terus?!" ujar Shinta terlihat kesal, karena kedua mobil tersebut seakan tidak memberinya celah untuk ia lalui.


"Siapa sih mereka?!"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2