
Waktu berlalu dengan cepat, kondisi kaki Hafidz juga semakin hari semakin membaik. Dan itu semua berkat Fahmi, yang ternyata ia pandai dalam pengobatan tradisional. Sehingga kini ia sudah mulai bisa berjalan sedikit demi sedikit.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berjalan lagi," ujar Hafizh, seraya ia berjalan pelan-pelan, didalam ruang kerjanya. "Terimakasih Fahmi, ini semua berkat kamu," katanya lagi pada Fahmi, yang terlihat sedang berdiri tak jauh darinya.
"Sama-sama Pak, tapi sebenarnya bukan berkat saya pak, melainkan ini semua berkat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena semua terjadi atas kehendak-Nya Pak," ujar Fahmi terlihat begitu rendah hati.
"Maa shaa Allah, kamu benar Fahmi, saya tahu itu, semua atas Izin-Nya dan Dialah yang memberikan kesembuhan, tapi atas usaha kamu jugakan saya sembuh My?" tanya Hafizh, sembari menepuk pundak Fahmi.
"Iya Pak, tapi saya tetap hanyalah pelantara Pak, dan Allah-lah yang punya kehendak," ucap Fahmi, dengan senyum lembutnya yang tak pernah lepas dari wajah tampannya itu.
"Maa shaa Allah, kamu rendah hati sekali ya Fahmi? Aku semakin mengagumi kamu. Eh, jangan besar kepala kamu, nanti jatuhnya jadi riya lagi! Ya sudah ayo antarkan saya keruangan Bos besar!" ujar Hafizh, yang terlihat ia kembali menduduki kursi rodanya.
"Eh, Astaghfirullah!" ucap Fahmi bergidik.
"Mengapa kamu ngucap dan bergidik gitu?" tanya Hafizh dengan kening terlihat mengerenyit.
"Nggak papa kok Pak, cuma saya berharap semoga saya dijauhkan dari sifat yang Pak Hafizh katakan tadi," balas Fahmi, sembari ia mulai mendorong kursi rodanya Hafizh.
"Aamiin, syukurlah kalau begitu! Oh iya, setelah saya menemui Presdir, kita akan langsung ke kampus istri saya. Untuk itu tolong kamu pesankan tempat romantis untuk kami makan siang nanti, kamu bisakan?" ujar Hafizh, saat mereka sudah berada di depan pintu yang bertuliskan President's room.
"Bisa Pak, akan saya pesankan sesuai keinginan Pak Hafizh!" balas Fahmi dengan tegas.
"Bagus, ya sudah ayo dorong saya masuk!" kata Hafizh lagi.
"Baik Pak!" Fahmi pun langsung mengetuk pintu ruangan Presdir tersebut. Dan tak berapa lama terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan mereka masuk.
Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, Fahmi pun membuka pintu ruangan Presdir, lalu ia pun langsung mendorong kembali kursi rodanya Hafizh, memasuki ruangan tersebut.
"Assalamu'alaikum Pah," ucap Hafizh setelah mereka mendekati meja kebesaran Darma.
"Wa'alaikumus salam Nak," balas Darma dengan tatapan yang masih terlihat pada layar laptopnya.
"Ada apa Pah? Kenapa Papa memanggil Atha?" tanya Hafizh, setelah kursi rodanya berhenti tepat didepan meja sang Ayah.
"Atha, tadi Ayah Hani, nelpon Papa! Beliau memberitahu Papa kalau Bunda Hani, saat ini sedang sakit parah Nak. Jadi sebaiknya kamu pergilah ke kampungnya Hani dan bawalah Dia secepatnya Nak," ujar Darma, memberi kabar yang tak enak didengar oleh Hafizh. Dan ia langsung teringat akan Haniah.
__ADS_1
"Baiklah Pah! Atha, akan segera menjemput Hani, dikampusnya, kalau begitu Atha Pamit ya Pah, Assalamu'alaikum" balas Hafizh, yang kemudian ia meminta Fahmi untuk kembali mendorongkan kursi rodanya.
"Pergilah Nak, kamu hati-hati di jalan ya, Wa'alaikumus salam," ujar Darma, yang terlihat masih memandang kepergian Anaknya.
"Maaf pak, apakah Anda jadi ingin makan siang bersama istrinya Bapak?" tanya Fahmi, setelah mereka berada di luar ruangan.
"Batalkan saja Fahmi, karena setelah menjemput istriku, kita akan langsung ke kota JJ! Sekarang bergeraklah dengan cepat!" balas Hafizh terdengar tegas. Membuat Fahmi akhirnya mempercepat jalannya, sembari ia mendorong kursi rodanya Hafizh.
...*****...
Sementara disisi lain, terlihat Haniah nampak gelisah. Membuat Shinta yang berada disampingnya heran, karena Haniah perkataan Haniah jadi kurang menyambung dengannya.
"Kamu kenapa sih Han? Kayaknya sejak tadi ngomong kamu nggak nyambung banget deh," ujar Shinta saat mereka berada di kantin kampus.
"Entahlah Shin, perasaan Ana kok jadi nggak enak ya? Astaghfirullah ada apa ini ya Shin," balas Haniah, sembari ia mengelus dadanya, yang tiba-tiba terasa sesak.
"Ya mana gue tahu, tapi ngomong-ngomong, laki Lo dah baik-baik sajakan Han? Soalnyakan dulu lo pernah gelisah begini, saat laki Lo mengalami kecelakaan," tanya Shinta dan juga mengingatkan Haniah. Ketika ia pernah gelisah disaat Atha mengalami kecelakaan.
"Eh, iya juga sih, tapi tadi pagi Mas Hafizh baik-baik saja kok. Tapi tunggu sebentar aku telpon dia deh," balas Haniah, sembari ia mengambil benda pipihnya yang berada di dalam tasnya. Namun belum sempat ia mengambil benda pipihnya itu. Tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Haniah! Ada yang mencari kamu tuh, katanya sih suaminya kamu," ujar seorang wanita yang baru saja datang. Mendengar perkataan wanita itu dengan spontan Haniah dan Shinta saling bertatapan mata.
DEG!
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
Maaf ya guys, beberapa hari ini Author tidak update. Itu karena didunia nyata Author, lagi banyak kerjaan. Jadi saay Author ingin up tubuh ini sudah lelah. Jadi akhirnya ketiduran deh. Sekali lagi maaf ya guys 🙏😘
Oh iya, selagi menunggu Author update, bagaimana kalau kalian mengisi waktunya dengan membaca karya temannya Author.
┈┈••✾•◆💓 MEIDINA.💓◆•✾••┈┈
Dengan judul karya.
💓AKU PADAMU JURAGAN ARIS💓.
__ADS_1
**Biar semakin penasaran Author kasih Cuplikannya ya cus cekidot 👇
Cuplikan Bab.
Aku padamu, juragan Aris
Aris terus menemani Ayu dan tak meninggalkan gadis itu sendirian, Aris merasa sedih melihat luka di wajah dan tubuh Ayu.
"seharusnya, aku mengantar mu pulang ya Ay, hingga tak akan terjadi hal seperti ini, rasa bersalah ini begitu besar karena kecerobohan ku kamu sampai seperti ini," kata Aris yang frustasi.
Ayu membuka matanya, dia pun melihat Aris, saat ingat kejadian buruk tadi, Ayu langsung histeris.
"pergi, jangan menyentuhku, pergi!!" teriak Ayu ketakutan.
Aris langsung memeluk Ayu, "tenang Ayu, ini Aris, jangan berontak lagi, lihat aku Ayu, lihat aku!" kata Aris sedikit berteriak agar gadis itu sadar.
Ayu yang menoleh dan melihat wajah Aris, langsung memeluknya, "tuan, tolong singkirkan pria-pria itu, aku merasa jijik dengan tubuhku, tolong...." tangis Ayu begitu pilu.
Aris pun memanggil dokter agar memeriksa gadis itu, setelah dokter visit dan memeriksa kondisi Ayu.
dokter memberikan saran pada Aris, agar Ayu di pindahkan ke rumah sakit yang bisa menangani tentang trauma.
Aris tak setuju, dia akan memanggil ahli hipnoterapi untuk membuang kenangan kelam itu.
Aris tak mau kehilangan senyum dan keceriaan Ayu, pasalnya dia adalah hidup pak Mun.
dokter pun mengerti dan memperbolehkan, dan luka di tubuh Ayu mungkin akan meninggalkan bekas nantinya.
Eko datang bersama Ambar saat melihat Aris baru keluar dari ruangan Ayu dengan pucat.
"bagaimana kondisi ayu bos?" tanya Eko yang membawa makanan.
"kondisinya sangat buruk, dia akan berteriak dan melukai dirinya sendiri lagi, dia berusaha untuk menghilangkan bekas yang telah di sentuh oleh pria biadab itu," jawab Aris dingin.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈**...
Penasarankan cus yuk kepoin, dan jangan lupa berikan dukungannya juga ya guys 🙏 Dan Sampaikan Salam Ramanda Untuk MEDINA oke guys 😉, Syukron 🙏😉.