TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
MERTUA KAYA.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🧡Mutiara Hikmah.🧡❉্͜͡═══*


"Kamu harus kuat, dan teruslah rajut kesabaran. Karena kisah hidupmu di dunia belum selesai Nanti juga akan ada akhirnya. Mungkin belum sekarang. Percuma kamu bertanya kapan ujian ini akan berakhir. Karena Allah merahasiakannya.


Bukan berarti Allah gak sayang sama kita.


Tapi Allah mau kita menjadi hamba-Nya yang bertawakal. Yang menyerahkan segalanya kepada Allah.Yang ikhlas dosanya digugurkan lewat ujian. Yang mungkin gak nyaman jika dirasakan dengan perasaan. Namun manis dan sangat indah jika di hayati oleh iman.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🧡❉্᭄͜͡•═══════•


Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya Fahmi dan Shinta, telah kembali menginjakkan kakinya di tanah air yang amat dirindukan keduanya. Nampak dari keduanya begitu bersyukur, karena pada akhirnya, mereka dapat menghirup udara yang terasa berbeda dari sebelumnya.-


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga! Aah.. jadi kepengen makan rujaknya Mbok Sri deh," kata Shinta, saat mereka sudah berada di depan loby bandara. Mendengar keinginan Shinta Fahmi langsung terperangah.


"Haaah? Rujak? Kayaknya Aku belum ngapa-ngapain kamu deh Shin, tapi kenapa kamu sudah kepingin makan rujak?" tanya Fahmi, dengan polos. Shinta yang mendengar ucapan Fahmi seperti memahami maksud ucapannya.


"Eh! Apaan sih Bang! Emangnya yang kepingin rujak itu hanya orang ngidam apa?! Aku tuh kepingin rujak, untuk memastikan kalau kita itu memang sudah berada di tanah air tau!" balas Shinta, sedikit kesal. Sehingga ia berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya.


"Loh, Shin? Aku kok ditinggal sih? Tunggu Aku Shin!" teriak, Fahmi seraya ia menarik kedua koper milinya dan milik Shinta, lalu ia pun mengikuti Shinta dari belakang. Namun langkah Shinta terhenti, karena tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepannya. Lalu tak berapa lama pintu mobil pun terbuka. Dan tampaklah seorang wanita bercadar serta seorang pria yang terlihat sedang keluar dari mobil tersebut.


"Haniah!" teriak Shinta dengan mata yang terlihat berbinar, ketika melihat sosok wanita bercadar tersebut. Dan seketika ia pun langsung menghampirinya dan langsung memeluknya.


"Shinta, Alhamdulilah akhirnya kalian kembali juga," kata wanita bercadar tersebut yang tak lain adalah Haniah. Ia pun langsung menyambut pelukan Shinta dengan hangat.


"Aah.. kangennya gue sama Lo Han," ucap Shinta, didalam pelukan mereka. Dan belum sempat Haniah membalas perkataannya, tiba-tiba Hafidz, suaminya Haniah, langsung menarik tubuh istrinya, seraya berkata.


"Eeeeh... jangan lama-lama pelukannya! Nanti Babyku kejepit oleh kalian!" katanya, lalu ia pun mendekapnya dari belakang. Membuat Shinta terperanjat.

__ADS_1


"Aah! Maaf gue lupa kalau Hani sedang hamil. Oh iya gimana kabar keponakan Aunty dia sehat didalam?" tanya Shinta, sambil ia memegang perutnya Hania yang terlihat mulai sedikit membuncit.


"Alhamdulillah sehat Aunty," balas Haniah, dengan meniru suara anak kecil.


"Aaah.. Aunty jadi nggak sabar menunggu kelahiran si baby, dan ingin menggedongnya," kata Shinta, dengan wajah sumringah. Terlihat sekali ia begitu antusias membayangkan babynya Haniah.


"Kenapa, harus menunggu kelahiran anak kami? Kamukan sudah punya Suami, jadi minta Suami kamu yang bikinkan. Kan lebih Afdhol menggendong anak sendiri, iyakan Fahmi?" celetuk Hafidz, dengan tatapan mata kearah Fahmi.


"Eh, Mas Hafidz! Ngomongnya apaan sih?" tegur Haniah, seraya mencubit tangan Hafidz, yang sedang melingkari di leher Haniah.


"Aw, kok dicubit sih Sayang? Kan sakit" protes Hafidz, karena merasakan sakit pada lengannya.


"Rasain! Makanya punya mulut tuh, dijaga ucapnya! Minta maaf sama Sama Shinta dan Bang Fahmi!" balas Haniah, terdengar ketus.


"Sudah nggak papa ukhty, pak Hafidz, nggak salah kok," kata Fahmi, yang seperti biasanya ia selalu menyempilkan senyuman lembutnya.


"Hello..bisa nggak sih tidak bermesraan di depan kami? Lagian mau sampai kapan kita berdiri di sini ya? Maaf, soalnya kita gue sedikit capek nih, bisakah kita segera pergi dari sini?" tegur Shinta.


"Aah, maaf Shin, ya sudah kalau begitu ayo naik mobil, Kami punya kejutan untuk kalian, sebagai kado pernikahan untuk kalian," ajak Haniah, sembari melepaskan lingkaran tangannya Hafidz. Lalu ia pun menggandeng tangan Shinta.


"Kado Pernikahan? Emangnya apa sih kadonya? Bikin penasaran deh," tanya Shinta, yang memang ia amat penasaran.


"Kadonya rumah! Tapi karena lumayan mahal, Lo bayar separonya ya Fahmi?" celetuk Hafidz, dan langsung mendapatkan pelototan dari Haniah.


"Iikh Mas Hafidz! Kok diberitahu sih! Nggak suprise lagi dong! Lagian kenapa kamu jadi perhitungan banget sih? Bukankah kita sudah sepakat ya?" ujar Haniah terlihat kesal pada suaminya, yang terlihat sangat perhitungan pada asistennya.


"Maaf Ayank, soalnya rumahnya mahal banget sih, sedangkan..."


"Sudah-sudah jangan dilanjutkan lagi Pak, In shaa Allah nanti saya bantu," potong Fahmi, yang sepertinya ia merasa tidak enaki, karena melihat perdebatan antara Hafidz dan Haniah.

__ADS_1


"Bagus! Ternyata kamu paham juga ya? Ya sudah sekarang ayo kita masuk mobil. Fahmi yang menyetir ya?" titah Hafidz, seraya ia melemparkan kunci mobilnya pada Fahmi.


"Loh Mas! Bang Fahmikan baru menempuh perjalanan jauh, pasti capeklah! Kok malah disuruh nyetir sih!" tegur Haniah, mengingatkan suaminya.


"Yaa, diakan Asisten Mas, Yank, masa Emas sih jadi supirnya?" balas Hafidz, yang terlihat enggan menyetirkan mobilnya. Dan disaat bersamaan, sebuah mobil mewah, tiba-tiba berhenti tepat dibelakang mobil Hafidz. Dan tak berapa lama, turunlah dua pria berjas hitam, lalu keduanya menghampiri mereka.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya muda! Maaf kami telat menjemput Anda!" ujar salah satu pria tersebut, sembari ia membungkuk tubuhnya pada Fahmi dan Shinta, membuat Hafidz tercengang dibuatnya.


"Tuan Muda? Maksudnya apa nih? Kalian siapa?" tanya Hafidz, terlihat penasaran.


"Kami, diutus oleh Tuan besar, Ayah Nyonya Also, untuk menjemput Tuan muda Fahmi, dan Nyonya muda Also," balas Pria itu lagi.


"Hah? Ayah mertua Lo kaya ya Fahmi? " tanya Hafidz, pada Fahmy yang terlihat ia pun juga sempat terkejut dengan ucapan Pria itu.


"Iya Pak," balas Fahmi dengan singkat.


"Wah enak banget ya punya mertua kaya. Pantasan saja, dilihat dari mobilnya, itukan mobil edisi terbatas, dan hanya orang-orang yang khusus saja yang bisa memilikinya," ujar Hafidz, dengan pandangan matanya mengarah ke mobil mewah yang terparkir tepat di belakang mobilnya Hafidz.


"Eeh.. kok malah membahas mobil sih! Mas, Bang Fahmi dan Shinta sudah lelah. Jadi biarkan mereka pulang dahulu," tegur Haniah


"Yaa benar banget Han, gue emang lelah banget! Jadi kami pergi duluan ya? Assalamu'alaikum," sambung Shinta, sembari ia merangkul lengan Fahmi, "Ayo bang kita pergi," ajaknya, lalu ia pun menarik lengan Fahmi menuju ke mobil mewah tersebut.


"Pak Saya duluan ya, Assalamu'alaikum!" kata Fahmi, sebelum ia masuk ke mobil. Setelah keduanya masuk, tak berapa lama mobil pun mulai melaju, meninggalkan Hafidz dan Haniah yang masih melihat kepergian mereka.


"Wah gawat nih! Sepertinya, aku bakalan nggak punya Asisten lagi nih Yank."


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


Jangan lupa ya, terus dukung author terus ya guys 🙏 dan jangan lupa juga berikan Author penyemangatnya seperti, Like, Vote, Serta komentarnya oke Syukron 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2