TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
WELCOME BABY BOY.


__ADS_3

.*═══❉্͜͡🧡Kalam Al Qur'an.🧡❉্͜͡═══*


Allah Azza wa Jalla berfirman:


"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”


___(Qur'an S urat Al-Ahqaf, Ayat 15)___


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🧡❉্᭄͜͡•═══════•


Sesuai perkiraannya, tak akan sempat lagi kerumah sakit. Kini Haniah, memperjuangkan Anaknya didalam kamarnya sendiri. Dan hanya dibantu oleh Suami serta Sahabatnya sendiri. Dengan posisi Hafidz, memangku kepalanya, agar memudahkan Haniah, mengangkat kepalanya saat ia sedang mengedan. Sementara Shinta, yang akan menyambut sang Bayi dan menanganinya.


"Oke Han! Pembukaannya sudah sempurna nih. Kamu sudah siap kan?" tanya Shinta, setelah ia memperiksa jalannya baby.


"In shaa Allah Ana siap Shin!" balas Haniah, dengan tegas.


"Baiklah, kalau begitu ikuti instruksi gue ya? Jangan lupa tarik nafas dalam dulu baru edankan, oke! " jelas Shinta, hanya mengingatkan Haniah, yang sebenarnya ia juga tahu. Karena mereka saat ini, sama-sama telah menjadi seorang Dokter.


"In shaa Allah, Bu Dokter cantik," balas Haniah, yang sepertinya ia sedang meredakan ketegangannya.

__ADS_1


"Aiih, sempat-sempatnya ya Anda ngajak berantam, nggak tahu apa, kalau gue lagi tegang juga nih! Ternyata menangani teman sendiri lebih tegang ya?" ujar Shinta, yang memang, ia terlihat begitu tegang. Padahal biasanya, ia begitu santai bila menangani orang lain.


"lah kok jadi pada ngobrol sih? Ini kapan dimulainya sih? Soalnya bukan kalian saja yang tegang! Bahkan Aku yang sangat tegang banget nih!" tegur Hafidz, yang sebenarnya ia lah yang paling tegang diantara mereka.


"Iya iya maaf! Ya sudah ayo kita mulai ya Han? Bismillah Tarik nafas Edaankan!" titah Shinta dan Haniah pun mengikuti perkataan Shinta. Dan ia pun mulai menarik Nafas yang dalam. Lalu ia pun mengucapkan basmalah dan Doa nabi Yunus, karena ia berharap Allah memberikan pertolongannya dan memudahkan ia bersalin.


"Bismillah, lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn Ngeeeeeek !!" dengan sekuat tenaga Haniah pun mengedan. Namun nampaknya sang bayi masih belum ingin mau keluar.


"Ayo Han semangaaat! Kamu pasti bisa!" kata Shinta memberikan semangat pada Haniah.


"Semangat Sayang! Kamu Ibu yang paling kuat, kamu pasti bisa! Ayolah berjuang lagi untuk Anak kita Sayang," sambung Hafidz, sembari ia menghapus keringat janggung Haniah, yang sudah memenuhi dahinya. Setelah itu ia juga memberikan kecupan pada dahi istrinya, seakan ia sedang memberikan kekuatan pada Haniah.


"Ayo Han, sekali lagi, karena kepala bayi kamu sudah terlihat! Ayo semangatlah, tarik nafas yang dalam lalu edangkan lagi Han!" kata Shinta, menginstruksikan kepada Haniah lagi.


Haniah pun kembali lagi mengikuti instruksi dari Shinta, dan ia pun kembali menarik nafasnya dalam-dalam lalu, "Bismillah, lā ilāha illā anta sub-ḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn Ngeeeeeek !!" ucapnya dan kembali ia mengedan dengan sekuat tenaganya dan..


"Oek..Oek..Oek..Oek Oek" Suara tangis bayi pun langsung memecahkan kamar Hafidz dan Haniah. Hafidz yang menyaksikan perjuangan Haniah, yang luar biasa untuk buah hatinya, membuat ia tak sanggup menahan Air matanya. Ia begitu terharu. Sehingga ia tak mampu mengeluarkan kata-katanya lagi. Dan hanya bisa memberikan kecupan pada wajah Haniah berkali-kali, sebagai ungkapan rasa terima kasihnya kepada Haniah.


"Selamat Han, bayi kalian laki-laki" ucap Shinta yang terlihat ia juga ikut terharu. Karena pada Akhirnya sahabatnya itu menjadi seorang ibu, yang menjadi dambaan setiap wanita, "Lihatlah Anak kalian, dia tampan dan sehat," lanjutnya, seraya menujukan sang bayi yang ada ditangannya.


"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah," ucap Haniah penuh rasa syukur. Dan sama halnya dengan Hafidz yang tak bisa menahan air matanya. Haniah pun juga ikut menitikkan air mata keharuannya. Padahal saat ia merasakan sakit yang amat sangat. Ia malah tak menitikkan air matanya sama sekali. Namun saat melihat buah hatinya, justru ia tak mampu membendungnya lagi.

__ADS_1


Setelah memperlihatkan bayinya pada Hafidz dan Haniah. Shinta langsung membersihkan Baby Boy, setelah itu langsung dipakaikan baju dan kemudian membedongnya. Setelah selesai ia menyerahkan sang Baby pada Ayahnya, "Nih Bang, Baby Boy sudah ganteng, sekarang Abang bisa mengadzaninya," katanya seraya ia menyerahkan Baby pada Hafidz. Dan Hafidz pun menyambutnya dengan suka cita. Ia nampak begitu bahagia melihat buah hatinya.


"Welcome my baby boy," ucap Hafidz, dengan suara yang terdengar bergelar. Lalu ia pun mengecup lembut dahinya dengan penuh kasih sayang, "Sekarang Ayah adzankan kamu ya?" ucapnya lagi. Lalu ia pun mulai mengadzani Babynya dengan merdunya dan diakhiri dengan komat.


Sedangkan Shinta, setelah memberikan Baby Boy pada Hafidz, ia kembali menangani Haniah dan membersihkan bekas-bekas darat yang tersisa, "Han, bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanyanya sembari ia memasang gurita keperutnya Haniah.


"Alhamdulillah, perasaanku sudah lega Shin," balas Haniah, penuh rasa syukur.


"Oh iya, apakah rasanya sakit banget ya?" tanya Shinta, yang wajahnya terlihat ada kecemasan.


"Tidak kok Shin, rasanya amat nikmat, nanti deh kamu rasakan sendiri. Lagian tinggal tiga bulan lagikan, kamu melahirkannya? Jadi sabar aja, nantikan kamu merasakannya juga. Dan in shaa Allah, Ana yang akan membantu kamu melahirkan nanti, dan semoga saat kamu melahirkan nanti diberikan kemudahan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala ya," balas Haniah, yang sepertinya ia tahu kalau sahabatnya sedang cemas. Karena memang saat ini Shinta juga sedang hamil. Jadi wajar saja bila ada rasa takut yang terbesit dihatinya.s


"Aamiin ya Allah. Terima kasih ya Han. Oh iya tapi beneran ya kamu yang akan membantuku melahirkan nanti?" ucap Shinta, yang terlihat ia telah menyelesaikan tugasnya.


"Iya Sayang, in shaa Allah. Dan Ana juga mau mengucapkan ribuan terima kasih karena Anti sudah menolong Ana," ucap Haniah dengan tulus.


"Sama-sama Han. Selamat juga ya, atas kelahiran bayi kamu dan sekarang kami sudah menjadi ibu," balas Shinta seraya ia melakukan cipka -cipki pada Haniah yang terlihat masih terbaring lemah.


"Alhamdulillah, terima kasih Shinta,"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2