TERJERAT NIKAH GANTUNG

TERJERAT NIKAH GANTUNG
PERTEMPURAN.


__ADS_3

*═══❉্͜͡🤍Mutiara Hikmah.🤍❉্͜͡═══*


Latihlah hati untuk senantiasa menerima sebuah keadaan tanpa harus membenci sebuah kenyataan. Meski sulit tetaplah bertahan dan bersabarlah atas setiap apa yang telah menimpamu.


Allah Ta'ala berfirman:


وَلَـنَجۡزِيَنَّ الَّذِيۡنَ صَبَرُوۡۤا اَجۡرَهُمۡ بِاَحۡسَنِ مَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ‏


"Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."


(Qs. An-Nahl : 96)


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•═══════•❉্᭄͜͡🤍❉্᭄͜͡•═══════•


Karena merasa tak terima atas apa yang dilakukan oleh Haniah, yang menyebabkan ia terjatuh. Apalagi saat ia melihat Haniah yang terlihat begitu tenang, dan bahkan ia telah berhasil melepaskan ikatan dirinya dan sahabatnya. Membuat Steven semakin geram padanya. Dan ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi Haniah dan Shinta.


"Sialan! Kalau begitu gue tidak akan sungkan lagi! Kalian cepat habisi kedua wanita ini!!" ujar Steven terlihat geram memandang Haniah.


"Baik Bos!" balas para anak buahnya Steven. Dan mereka pun langsung menghampiri Haniah dan Shinta.

__ADS_1


"Gimana ini Hani? Kita tidak mungkin melawan merekakan? Kita akan mati konyol bila melawan mereka! Apa tidak sebaiknya kita menyerah saja Han?" bisik Shinta, yang terlihat wajahnya terlihat sedang panik.


"Tidak! Ana lebih baik mati konyol! Dari pada harus menyerah! Apakah kamu yakin, bila kita menyerah, mereka tak berbuat apa-apa terhadap tubuh kita hm? Lihat saja mereka sudah seperti binatang yang sedang kelaparan melihat kita. Apakah kamu akan rela membiarkan tubuh kamu disentuh mereka, Shin?" balas Haniah, dengan suara berbisik juga terhadap Shinta.


"Cih! Ogah! Benar kata kamu lebih baik mati daripada tubuhku di sentuh mereka!"


"Bagus! Sekarang kita harus melawan mereka! Apapun hasilnya, kita serahkan pada Allah, karena Dialah, Sang pemilik rencana," kata Haniah, yang kini ia sudah mulai memasang kuda-kudanya.


"Baiklah, bismillah semoga Allah melindungi kita!" balas Shinta, yang terlihat ia juga ikut memasang kuda-kudanya.


"Aamiin! Bismillah, ayo kita jaga pertahanan kita!" teriak Haniah, karena ia sudah mulai diserang oleh para anak buahnya Steven. Begitu juga dengan Shinta, mereka di serang secara bersamaan.


Melihat para temannya diserang, oleh para pria bertubuh besar. Membuat Adam tak bisa tinggal diam, ia pun Akhirnya membantu, Haniah dan Shinta. Namun karena kebencian yang sudah mendarah daging. Membuat Shinta jijik melihat Adam, walaupun saat ini ia sedang membantu mereka.


"Cih! Buat apa Lo membantu kami! Asal Lo tahu saja! Kami tak butuh bantuan dari pengkhianatan seperti Lo!" teriak Shinta, sambil tangannya menghatami para bandit yang sedang menyerangnya.


"Diamlah! Gue bukan membantu kalian! Jadi sebaiknya Lo fokus saja oke!" balas Adam dengan lantang, sembari ia juga menghantami para penjahat, yang terlalu, kuat bagi lawan wanita. Jadi ia selalu menghalau para bandit, yang ingin menyerang Haniah maupun Shinta.


Sedangkan Steven yang menyaksikan pertempuran itu. Terlihat marah saat Adam, malah membantu Haniah dan Shinta. Namun saat matanya melihat ketangkasan Haniah Ia, pun tertegun. Hingga a lupa dengan kemarahannya terhadap Adam. Bahkan ia mulai mengagumi sosok Haniah, yang begitu lihai melawan para musuh-musuhnya. Sehingga rasa penasaran ingin melihat wajahnya pun semakin besar.


"Huh! Ternyata istrinya Atha luar biasa! Pantas saja ia begitu mencintai istrinya! Gue jadi semakin penasaran pada wajahnya itu! Baiklah, sepertinya dia juga sudah mulai melemah, disaat dia terjatuh nanti, gue bakalan melihat wajahnya juga," gumamnya, yang terlihat ia begitu fokus melihat Haniah yang bertempur. Sehingga ia tak menyadari seseorang sudah menodongkan senjata pada kepalanya.

__ADS_1


"Jangan bergerak! Dan suruh mereka berhenti menyerang istriku!" ujar seorang pria yang terlihat masih memakai baju selamnya.


"Atha! Cih! Cepat sekali Lo datang! Tapi tidak apa-apa, karena gue sudah menikmati pertunjukan yang keren dari bini Lo! Ternyata hebat juga ya bini Lo!" kata Steven yang terlihat begitu santainya. Padahal kepalanya, sedang ditodong pistol oleh pria yang sudah pasti dia adalah Hafidz.


Yaah, Hafizh berserta anak buahnya telah berhasil, memasuki kapal pesiar, milik Steven. Ditambah lagi mereka juga dibantu oleh petugas KPLP setempat. Sehingga, memudahkan mereka menguasai, kapal pesiar tersebut.


"Diam Lo! Sebaiknya Lo segera menyerahkan diri! Karena kapal ini sudah di kepung oleh pihak yang berwajib!" hardik Hafidz, yang nampaknya ia sedang menahan amarahnya, saat melihat mata Steven, yang selalu menatap kearah Naazwa, dengan tatapan mesumnya. Ingin rasanya ia meninju wajah Steven. Namun karena disebelahnya ada dua orang petugas KPLP. Membuat ia harus menahan keinginannya.


"Pak serahkan dia pada kami! Biar kami yang akan menanganinya. Dan sebaiknya Pak Atha, melihat kondisi istri Bapak," ujar salah satu petugas KPLP tersebut.


"Baik Pak! Kalau begitu saya serahkan pada Anda," kata Hafidz, sembari ia menyerahkan pistolnya juga pada petugas tersebut. Lalu ia pun berlari menghampiri istrinya. Yang terlihat sedang duduk di lantai karena kelelahan. Setelah para bandit ditangkap oleh petugas KPLP lainnya.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Hafidz, sambil menarik tubuh Haniah agar berdiri, lalu ia pun memeluknya, begitu erat, " Maafkan Mas, atas keterlambatan Mas," lanjutnya, sembari ia menciumi puncak kepala Haniah.


"Tidak Mas, kamu tepat waktu kok," kata Haniah, dengan nafas yang masih terengah-engah. Namun matanya masih mengarah ke arah Steven, yang terlihat ia telah merebut pistol yang tadi baru diserahkan oleh Hafidz, kepada salah satu petugas KPLP. Haniah juga melihat, pistol yang direbut oleh Steven, langsung diarahkan pada suaminya yang masih memeluk dirinya.


Karena tak ingin, suaminya tertembak, Haniah pun memutar tubuhnya dengan cepat, sehingga posisinya berdiri Hafidz dan dirinya bertukar tempat dan..


DOOORR!


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...

__ADS_1


__ADS_2